Bisnis & Ekonomi

Trump menuduh perusahaan minyak besar “price-gouging” pengemudi

×

Trump menuduh perusahaan minyak besar “price-gouging” pengemudi

Sebarkan artikel ini
Trump accuses big oil firms of price-gouging drivers
Ilustrasi: Trump accuses big oil firms of price-gouging drivers

jurnalistik.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah memerintahkan sebuah penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan energi besar. Ia menuduh mereka “price-gouging” terhadap pengemudi dengan tidak menurunkan harga bahan bakar setelah biaya minyak di pasar grosir turun.

Dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu, Trump mengatakan harga bensin seharusnya “much lower at the pump” saat ia menyebut nama Chevron, ExxonMobil, Shell, dan BP. Menurutnya, penurunan harga minyak di pasar grosir tidak terlihat pada harga yang dibayar konsumen di pom bensin.

Trump menegaskan bahwa ia ingin harga lebih rendah dibanding kondisi yang sedang berjalan. Ia mengatakan, “Oil prices have come down so much and we are not seeing anything at the pump by comparison the way they should be,” sebelum menambahkan, “We should be, in my opinion, at $2.25 (£1.71) [a gallon] right now at the pump and we are higher than that.”

Ia juga menyinggung tuduhan serupa yang sebelumnya ia sampaikan melalui unggahan. Trump menyebut para pengemudi “gouged” oleh perusahaan energi, serta mengatakan ia memerintahkan Departemen Kehakiman (DOJ) untuk “immediately start looking into this”.

Sejalan dengan itu, juru bicara DOJ menyampaikan pandangan terkait dampak biaya BBM terhadap masyarakat. “The price of fuel is not only national security issue, it impacts the wallet of every American. We will always commit to ensuring affordability in this nation,” kata juru bicara tersebut kepada BBC, tanpa mengonfirmasi apakah penyelidikan sudah benar-benar dimulai.

Klaim “price-gouging” dan respons industri

Tuduhan Trump muncul setelah harga minyak grosir bergerak turun dari puncak yang sempat terlihat pada periode perang AS–Israel melawan Iran. Namun, menurut laporan, harga-harga tersebut masih berada di atas level sebelum konflik dimulai.

Kelompok industri minyak dan gas di AS, American Petroleum Institute (API), menolak gagasan bahwa harga bahan bakar bergerak selaras dengan harga minyak mentah. API menyatakan bahwa harga BBM “don’t move in lockstep with crude oil”.

Sebagai bagian dari pemberitaan, BBC menyatakan telah menghubungi Chevron, ExxonMobil, Shell, dan BP untuk mendapatkan komentar. Hingga naskah itu disusun, respons perusahaan belum dipaparkan dalam teks yang tersedia.

Menanggapi komentar Trump, Bethany Williams, juru bicara API, menyampaikan posisi industri. Ia mengatakan, “Our industry shares the goal of delivering relief at the pump and restoring stability to global energy markets.” Williams menambahkan bahwa konflik masih memengaruhi sektor-sektor terkait, dengan menyebut “still affecting supply, refining and inventories”.

Pergerakan harga minyak dan bensin terkait konflik Iran

Laporan menyebut bahwa harga minyak global sempat melambung ketika Iran merespons serangan AS–Israel pada 28 Februari, yang menurut catatan BBC secara efektif membuat jalur kritis Selat Hormuz tertutup. Gangguan pengiriman minyak dan gas disebut sebagai pemicu lonjakan harga energi.

Sebagai indikator, Brent—patokan minyak mentah grosir global—mencapai hampir 120 dolar AS per barel pada Mei selama perang berlanjut. Meski demikian, harga dilaporkan kemudian turun seiring pembicaraan menuju perdamaian.

Pada Rabu, Brent dilaporkan jatuh di bawah 74 dolar AS per barel, tetapi masih berada di atas kisaran sekitar 70 dolar per barel yang disebut sebagai level sebelum konflik. Pola serupa juga terlihat pada West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS; WTI disebut turun ke sekitar 70 dolar AS per barel pada Rabu, namun masih lebih tinggi daripada level sebelum perang yang diperdagangkan sekitar 60 dolar AS.

Di tingkat konsumen, harga rata-rata bensin reguler di AS juga disebut mengalami penurunan. Rata-rata harga disebut turun ke sekitar 3,93 dolar AS per galon setelah sempat menembus 4 dolar AS per galon pada April—yang merupakan titik tertinggi sejak 2022—namun tetap berada jauh di atas level sebelum perang.

Konteks ini juga terkait dengan tuduhan serupa di luar AS. BBC mencatat bahwa perusahaan minyak di Inggris sebelumnya menghadapi tuduhan mirip setelah awal perang Iran, yakni soal dugaan kenaikan harga bensin yang dinilai tidak wajar. Namun, regulator persaingan di Inggris disebut menyatakan pada Mei lalu tidak ada bukti luas terkait hal tersebut, dengan menambahkan bahwa rata-rata margin keuntungan “broadly unchanged” antara Februari dan Maret.

Garis besar penjelasan Gedung Putih

Dalam menanggapi komentar Trump, seorang juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Trump sejak awal mengingatkan adanya gangguan sementara di pasar energi dalam jangka pendek. Juru bicara itu mengatakan harga minyak dan gas akan turun dengan cepat ketika situasi Iran terselesaikan.

Gedung Putih juga menggarisbawahi rekam jejak administrasi terkait harga BBM. Juru bicara menyebut bahwa Trump memiliki catatan terbukti dalam menurunkan harga gas ke level terendah secara historis, serta mengatakan pemerintahan tetap fokus pada upaya memberikan bantuan ekonomi kepada masyarakat AS.

Sementara API menekankan bahwa pergerakan harga BBM tidak selalu mengikuti harga minyak mentah secara langsung, tuduhan Trump menempatkan “price-gouging” sebagai isu yang perlu ditelusuri oleh penegakan hukum. Di tengah fluktuasi harga minyak global dan biaya bahan bakar di pom bensin, pernyataan ini membuka babak baru terkait bagaimana konsumen merasakan perubahan biaya di sepanjang rantai pasokan energi.