jurnalistik.co.id – Di tengah lalu lintas padat dan deretan bangunan yang memenuhi ruang Jakarta, ada mata rantai ekonomi informal yang jarang terlihat publik: perjalanan ban bekas setelah tak lagi layak digunakan kendaraan.
Kompas.com mengamati pada Rabu (3/6/2026), aktivitas pengumpulan dan pengolahan ban bekas itu berlangsung di kawasan Jalan Tenaga Listrik, Kanal Banjir Barat (KBB), Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Di lahan terbuka di tepi jalan inspeksi kanal, ribuan ban bekas terlihat menumpuk. Ban berbagai ukuran disusun memanjang di atas tanah dan rerumputan, ada yang tersusun rapi membentuk deretan, ada pula yang menggunung dalam tumpukan besar.
Di area tersebut berdiri bangunan semi permanen berbahan kayu dan tripleks yang digunakan sebagai tempat beristirahat sekaligus pos penjagaan. Tak jauh dari bangunan itu tampak tumpukan karet ban yang sudah dibelah dan diratakan.
Potongan-potongan karet disusun bertingkat hingga setinggi orang dewasa. Di lokasi juga tampak aktivitas pemilahan, ketika ban yang telah dipotong diikat dalam kelompok tertentu, sementara sisa potongan karet berserakan di tanah.
Dari kejauhan, kawasan itu tampak seperti gudang terbuka yang menampung hasil pengumpulan ban bekas dari berbagai sudut Jakarta. Di balik hamparan ban tersebut, terdapat kisah panjang para pekerja yang menggantungkan hidup dari limbah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Menyusuri Jakarta mencari ban bekas
Sebelum sampai ke tangan pengepul, ban-ban bekas terlebih dahulu dikumpulkan para pemulung. Salah satunya Sabidin (40), yang sekitar satu dekade mencari nafkah dengan mengumpulkan ban bekas dari bengkel hingga sudut-sudut jalan Jakarta.
Hampir setiap pagi, Sabidin berjalan kaki menyusuri berbagai kawasan. Ia mengumpulkan ban dari Kebayoran, Blok M, Senayan, hingga pusat kota, lalu menjualnya ke pengepul di Petamburan.
“Keliling dari pagi sampai jam 12 siang. Jalan kaki saja,” ujar Sabidin saat ditemui.
Dalam sehari, ia bisa memperoleh sekitar 20 hingga 40 ban. Jumlah tersebut bergantung pada keberuntungan dan banyaknya bengkel yang masih menyimpan ban bekas.
Tidak semua ban didapat secara gratis. Ada pemilik bengkel yang meminta bayaran, sementara sebagian lainnya memberikan ban bekas cuma-cuma.
“Tergantung. Ada yang dikasih, ada yang harus dibayar dulu,” kata Sabidin.
Ketika pasokan ramai, pendapatannya bisa mencapai puluhan ribu rupiah per hari. Namun saat pasokan sepi, penghasilannya ikut menurun.
Menurut Sabidin, persaingan kini semakin ketat. “Tempat penampung sekarang banyak. Jadi barangnya makin sedikit,” katanya.
Meski demikian, pekerjaan itu tetap dijalaninya karena menjadi sumber penghasilan utama keluarga.
Bengkel sebagai mata rantai awal
Ban bekas biasanya dimulai dari bengkel. Hendra (42), pemilik bengkel tambal ban dan servis ringan di Petamburan, mengatakan ban bekas pelanggan biasanya ditumpuk terlebih dahulu sebelum diambil pengepul.
Di Petamburan, dari pola penumpukan di tempat asal, ban kemudian bergerak menuju tahap berikutnya. Saat jumlah ban terkumpul, barang berpindah tangan untuk diproses lebih lanjut.
Rangkaian ini juga terlihat pada aktivitas di kawasan Jalan Tenaga Listrik dan sekitarnya. Di lokasi, ban-ban yang sudah dibelah dan diratakan disusun dalam tumpukan, sekaligus diikuti pemilahan potongan karet.
Di tepi Kanal Banjir Barat, proses itu tampak berupa kerja fisik yang berulang, mulai dari pemilahan hingga penataan potongan karet. Potongan-potongan tersebut kemudian diikat dalam kelompok tertentu sebelum dikirim ke industri daur ulang.
Dengan demikian, perjalanan ban bekas dari jalanan menuju daur ulang memperlihatkan sisi lain Jakarta yang jarang terlihat publik. Dari pengumpulan pemulung, pemilahan di lokasi, hingga pengiriman untuk daur ulang, ban bekas memperoleh kehidupan kedua melalui industri pengolahan.












