Daerah

Penjelasan BMKG soal Cepatnya Penyebaran Api pada Sabana di Labuan Bajo

×

Penjelasan BMKG soal Cepatnya Penyebaran Api pada Sabana di Labuan Bajo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Penjelasan BMKG soal Cepatnya Penyebaran Api pada Sabana di Labuan Bajo

jurnalistik.co.id – Kebakaran sabana di Labuan Bajo yang beberapa hari terakhir meluas cepat mendapat perhatian dari BMKG Kabupaten Manggarai Barat. Menurut lembaga itu, penyebaran api dipengaruhi kondisi bahan bakar yang sangat mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah serta dorongan angin.

BMKG menyebut tingkat indeks kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di Labuan Bajo berada dalam kategori zona merah atau sangat tinggi. Kepala BMKG Manggarai Barat, Maria Patricia Christin Seran, menjelaskan kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat api dapat bergerak dengan cepat.

Maria menuturkan bahwa vegetasi yang mengering saat ini berperan sebagai bahan bakar yang mudah tersulut. Dalam kondisi seperti itu, api tidak hanya menyala di titik awal, tetapi juga lebih mudah berpindah ketika mendapat pemicu dan dukungan lingkungan.

Selain kekeringan bahan bakar, angin turut mempercepat penjalaran api. Maria menyampaikan, “Potensi meluasnya juga ditunjang oleh angin kencang yang biasanya menjadi salah satu ciri khas musim kemarau di NTT,” kata Maria, Kamis (16/7/2026).

Dengan karakter musim kemarau di NTT, angin berkontribusi pada kecepatan perambatan api di area terbuka. Dampaknya, kebakaran yang semula terkonsentrasi dapat berkembang menjadi lebih luas sebelum proses pemadaman sepenuhnya mengendalikan sumber titik api.

Enam indeks pemantauan dan proyeksi hingga tujuh hari

Maria menambahkan, BMKG memantau potensi kebakaran hutan dan lahan melalui enam indeks. Keenam indeks tersebut menggambarkan tingkat kekeringan bahan bakar yang berada di lapisan paling atas permukaan tanah.

Lapisan paling atas yang dimaksud mencakup rumput, daun kering, serta ranting kecil yang menjadi komponen mudah terbakar saat curah hujan rendah. Indeks-indeks ini membantu menilai seberapa mudah bahan bakar akan terbakar apabila ada pemicu di lapangan.

Maria menjelaskan, “Indeks ini menggambarkan kemudahan bahan bakar untuk terbakar jika ada pemicunya. Prediksi dari indeks tersebut sampai tujuh hari ke depan yang diperbaharui setiap hari,” ujarnya. Artinya, proyeksi yang disusun berbasis pembaruan harian digunakan untuk mengantisipasi potensi kebakaran lanjutan dalam jangka waktu pendek.

Dengan pendekatan pemantauan seperti itu, BMKG dapat memberikan gambaran kondisi yang sedang dan akan dihadapi. Pembaruan harian menjadi bagian dari upaya agar informasi yang tersedia tetap relevan mengikuti perubahan di lapangan.

Antisipasi kebakaran lanjutan oleh Pol PP

Pihak penegak peraturan daerah juga melakukan langkah antisipasi setelah pemadaman kebakaran besar di sabana Keranga dan Pelataran Labuan Bajo. Kepala Satuan Pol PP Kabupaten Manggarai Barat, Yeremias Otong, mengatakan bahwa upaya mitigasi dan pencegahan tetap dijalankan.

Yeremias menyebut, saat ini pihaknya melakukan berbagai bentuk kesiapsiagaan untuk menekan kemungkinan kebakaran susulan. Hal ini dilakukan mengingat kondisi musim kemarau yang cenderung meningkatkan kerentanan area terbuka terhadap kebakaran.

Yeremias menambahkan, “Kita melaksanakan patroli rutin pada wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran,” kata Yeremias. Melalui patroli berkala, titik-titik rawan diharapkan bisa terpantau lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum api membesar.

Selain pengawasan rutin, Yeremias menyatakan ada peningkatan koordinasi dan kolaborasi dengan instansi terkait. Koordinasi lintas pihak menjadi penting untuk menyatukan informasi lapangan dan memperkuat respons ketika terjadi titik api.

Upaya lain yang disebutkan adalah pengoptimalan kesiapsiagaan personel dan peralatan pemadam kebakaran selama musim kemarau. Dengan langkah tersebut, kemampuan penanganan di lapangan diharapkan tetap terjaga, terutama ketika kondisi bahan bakar masih berada pada tingkat kemudahan terbakar yang tinggi.

Yeremias juga mengajak masyarakat berperan dalam pencegahan dengan segera melaporkan bila menemukan sumber api. “Kita juga minta agar masyarakat segera melaporkan jika menemukan titik api sekecil apa pun,” pungkasnya.

Seruan pelaporan sejak dini dimaksudkan agar potensi api kecil dapat ditangani lebih cepat sebelum berkembang. Dalam konteks indeks kemudahan terbakar yang sangat tinggi, respons yang cepat akan menentukan apakah kebakaran tetap dapat dikendalikan atau justru meluas.

Dengan kombinasi pemantauan indeks BMKG yang memproyeksikan kondisi hingga tujuh hari ke depan serta langkah antisipatif dari Pol PP, upaya pencegahan dan penanganan kebakaran sabana di Labuan Bajo diarahkan agar kejadian serupa tidak berulang dalam waktu dekat. Informasi mengenai kemudahan bahan bakar terbakar dan pengaruh angin menjadi landasan penting dalam strategi respons di lapangan.