Internasional

Wawancara Khusus Presiden Konfederasi Swiss: Soroti Peluang Hilirisasi Indonesia dalam Kerja Sama Baru

×

Wawancara Khusus Presiden Konfederasi Swiss: Soroti Peluang Hilirisasi Indonesia dalam Kerja Sama Baru

Sebarkan artikel ini
Wawancara Khusus Presiden Swiss, Soroti Peluang Hilirisasi Indonesia dalam Kerja Sama Baru Money 23 Juni 2026
Ilustrasi: Wawancara Khusus Presiden Swiss, Soroti Peluang Hilirisasi Indonesia dalam Kerja Sama Baru

jurnalistik.co.id – Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin menilai Indonesia dan Swiss memiliki karakteristik yang saling melengkapi dalam pengembangan sektor industri strategis. Ia menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, sementara Swiss memiliki teknologi dan keahlian industri yang telah berkembang.

Pandangan tersebut disampaikan Parmelin saat menerima wawancara khusus delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG), termasuk Kompas.com, di sela acara Industry Day yang diselenggarakan Swissmem di Basel, Swiss, pada Selasa (23/6/2026). Wawancara dilakukan dalam rangka peringatan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia–Swiss.

“Saya percaya Swiss dan Indonesia saling melengkapi. Kami memiliki teknologi yang sangat maju, sementara secara umum kami miskin sumber daya alam,” ujar Parmelin. Menurutnya, Indonesia tengah mengembangkan sektor-sektor strategis, termasuk logam dan mineral.

“Indonesia sedang mengembangkan sektor-sektor strategis, termasuk logam dan mineral. Dengan teknologi dan keahlian Swiss serta sumber daya manusia Indonesia yang semakin terampil, saya melihat peluang kerja sama yang saling menguntungkan,” lanjut Parmelin.

Perjanjian dagang dan perlindungan investasi jadi fondasi

Parmelin mengatakan hubungan kedua negara saat ini ditopang oleh perjanjian perdagangan bebas dan perjanjian perlindungan investasi. Ia menyebut kedua instrumen itu menjadi fondasi penting kerja sama ekonomi.

Selain itu, Parmelin menyampaikan bahwa dirinya juga telah mengunjungi Indonesia pada tahun lalu untuk menandatangani deklarasi niat bersama. Pada kesempatan yang sama, kedua negara kembali memperkuat kemitraan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).

“Daya tarik utama Indonesia bagi investor Swiss adalah adanya kepastian hukum yang diberikan melalui perjanjian perdagangan bebas dan perjanjian perlindungan investasi,” kata Parmelin. Ia menilai keberadaan berbagai perjanjian tersebut memberikan rasa aman bagi investor yang hendak menanamkan modal.

Parmelin juga menyinggung pengalaman Swiss. “Pengalaman kami menunjukkan bahwa investasi hampir selalu meningkat setelah adanya kerangka hukum yang jelas,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, Parmelin menyebut Swiss memiliki lebih dari 110 perjanjian perlindungan investasi dengan berbagai negara. Dengan kerangka hukum yang lebih jelas, ia berharap iklim kerja sama bagi investor menjadi semakin kondusif.

Administrasi dan birokrasi, serta fokus pada tenaga kerja terampil

Meski demikian, Parmelin mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam hubungan ekonomi kedua negara. Salah satunya adalah persoalan administrasi dan birokrasi.

“Ketika berhubungan dengan negara sebesar Indonesia yang memiliki sekitar 280 juta penduduk, tentu terdapat tantangan,” kata Parmelin. Ia menambahkan bahwa salah satu persoalan tersebut berada pada administrasi.

“Jika prosedur dapat disederhanakan dan komunikasi langsung diperkuat, berbagai persoalan bisa diselesaikan lebih cepat,” lanjutnya.

Parmelin juga menilai populasi muda Indonesia menjadi perhatian tersendiri bagi perusahaan Swiss. Ia menyebut perusahaan Swiss, terutama dalam pengembangan tenaga kerja terampil, perlu menjalin pendidikan dan pelatihan vokasi.

“Bagi perusahaan Swiss, pendidikan dan pelatihan vokasi sangat penting. Perusahaan dapat membantu menciptakan tenaga kerja terampil yang pada akhirnya menguntungkan generasi muda Indonesia maupun dunia usaha Swiss,” ujarnya.

MoU hilirisasi mineral dan logam ditandatangani sebagai tindak lanjut kunjungan

Duta Besar RI untuk Swiss I Gede Ngurah Swajaya menjelaskan, penandatanganan nota kesepahaman pengolahan mineral dan logam antara Indonesia dan Swiss merupakan tindak lanjut kunjungan Federal Councillor Guy Parmelin ke Jakarta pada Oktober 2025. Dalam kunjungan itu, Parmelin bertemu dengan Wakil Presiden serta Menteri Investasi dan Hilirisasi.

Ngurah Swajaya menyebut, dari pertemuan tersebut kedua negara sepakat menjajaki kerja sama untuk mendukung hilirisasi mineral dan logam di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa kombinasi kebutuhan dan kemampuan masing-masing pihak menjadi dasar yang dinilai tepat.

“Indonesia memiliki sumber daya alam, mineral, termasuk logam yang perlu diolah. Sementara Swiss memiliki teknologi, inovasi, dan sumber pendanaan. Oleh karena itu, ini merupakan kombinasi yang tepat,” ujar Ngurah Swajaya.

Ia menambahkan, penandatanganan MoU juga memanfaatkan momentum 75 tahun hubungan bilateral Indonesia–Swiss. Momentum itu disebut penting karena berlangsung dalam ajang Industry Day yang diikuti lebih dari 2.000 perusahaan industri kecil dan menengah Swiss, yang dinilai memiliki keunggulan dalam pengembangan teknologi dan inovasi.

Ngurah Swajaya mengatakan, kerja sama tersebut melengkapi berbagai instrumen ekonomi yang telah dimiliki kedua negara. Penekanannya tetap pada penguatan arah kemitraan, termasuk melalui pengolahan mineral dan logam yang menjadi bagian dari dorongan hilirisasi.