jurnalistik.co.id – Markamah (53), warga Purworejo, Jawa Tengah, menuturkan bahwa hidupnya selama berbulan-bulan bergantung pada sambungan listrik rumah saudaranya yang berada di sebelah rumah. Kini, ia akhirnya memiliki akses listrik sendiri melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang diserahkan langsung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Jumat (19/6/2026).
Menurut Markamah, momen penerimaan BPBL itu terasa seperti kabar baik yang dinanti. Ia mengaku sangat senang setelah mendapatkan sambungan listrik bagi rumahnya.
“Senang sekali, sangat senang. Terima kasih kepada Bapak Presiden, kepada Bapak Menteri yang telah membantu saya di sini. Saya senang sekali, semoga bermanfaat bagi saya dan keluarga saya,” kata Markamah saat ditemui usai menerima bantuan.
Markamah tinggal bersama anak perempuan dan cucunya di sebuah rumah sederhana. Dalam keseharian, listrik menjadi hal yang penting untuk membantu aktivitas rumah tangga, terutama saat cuaca berubah.
Sebelum menerima BPBL, rumah Markamah bergantung pada aliran listrik dari rumah saudara yang jaraknya bersebelahan. Ia menyebut harus “numpang” agar pencahayaan di rumahnya tetap bisa digunakan.
Ia juga menjelaskan adanya biaya yang harus dibayarkan kepada kerabat yang menjadi sumber listrik. Setiap bulan, Markamah membayar sekitar Rp 20.000 agar dapat ikut menikmati aliran listrik tersebut.
Markamah menyatakan kondisi itu sudah ia jalani sejak sekitar tujuh bulan terakhir. Waktu tersebut beriringan dengan kepulangannya ke kampung halaman.
Ia menambahkan bahwa sebelum menetap kembali di daerahnya, Markamah tinggal di Purwokerto bersama keluarganya. Setelah kembali ke Purworejo, ia kembali menghadapi situasi keterbatasan akses listrik yang kemudian membuatnya bergantung pada sambungan rumah saudara.
Ketergantungan itu tidak selalu berjalan mulus. Markamah mengaitkan masalah utama dengan gangguan listrik yang kerap muncul saat hujan turun.
Ketika hujan datang, ia mengatakan aliran listrik dari sambungan bersama kerap mengalami gangguan hingga padam. Ia menuturkan bahwa hampir setiap kali hujan, listrik di rumahnya ikut mati.
“Kalau hujan ya mati lampu. Hampir tiap kali hujan pasti mati lampu,” ujarnya. Bagi Markamah, kondisi tersebut membuat rumahnya sering berada dalam keadaan gelap.
Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi yang tidak nyaman, khususnya ketika hujan menyebabkan aliran listrik terganggu. “Ya gelap rumah sebenarnya,” kata Markamah singkat.
Di tengah penantian panjang yang dialami Markamah, kunjungan kerja Bahlil Lahadalia ke Kabupaten Purworejo menjadi titik perubahan. Dalam kunjungannya pada Jumat (19/6/2026), Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa masih terdapat ribuan desa dan dusun di Indonesia yang belum menikmati akses listrik secara memadai.
Pengungkapan tersebut disampaikan saat menteri melakukan rangkaian kegiatan terkait program pemerintah di Purworejo. Setelah itu, BPBL diserahkan kepada Markamah sebagai salah satu penerima yang mendapatkan sambungan listrik sendiri.
Bagi Markamah, bantuan yang diterimanya tidak sekadar urusan teknis, melainkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap sambungan listrik yang kini dimilikinya bisa bermanfaat bagi dirinya serta keluarga yang tinggal di rumah tersebut.
Dengan adanya BPBL, Markamah kini tidak lagi bergantung pada aliran listrik rumah saudaranya. Ia menyambut kehadiran listrik yang lebih layak sebagai harapan baru setelah masa penyesuaian selama berbulan-bulan.
Ucapannya mencerminkan rasa lega yang ia rasakan setelah proses yang panjang. Saat menerima bantuan, Markamah menekankan bahwa dukungan pemerintah menjadi penyelamat bagi kebutuhan dasar penerangan di rumahnya.
“Terima kasih” dan doa agar bantuan itu memberi manfaat kembali menjadi penutup dari kisah Markamah di hari penerimaan BPBL. Kini, ia menantikan kehidupan rumah tangga yang lebih terang dan stabil, tanpa harus menyesuaikan diri dengan gangguan listrik saat hujan datang.












