Internasional

Komunitas Yahudi Progresif AS Terbuka Mengkritik Israel dan Memilih Bela Palestina

0
×

Komunitas Yahudi Progresif AS Terbuka Mengkritik Israel dan Memilih Bela Palestina

Sebarkan artikel ini
Internasional Komunitas Yahudi Terang-terangan Hujat Israel, Pilih Bela Palestina News 3 jam yang lalu
Ilustrasi: Komunitas Yahudi Terang-terangan Hujat Israel, Pilih Bela Palestina

jurnalistik.co.id – Ketegangan yang telah lama berlangsung antara komunitas Yahudi progresif di Amerika Serikat dan pemerintah Israel kembali menjadi sorotan. Perhatian publik memuncak saat sejumlah tokoh pemerintah Israel hadir dalam agenda politik-budaya yang berlangsung di Kota New York.

Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bersama sejumlah politisi sayap kanan Israel ikut mengambil bagian dalam Parade Hari Israel tahunan. Saat Smotrich bergabung dalam pawai pro-Israel yang melintasi Fifth Avenue, ia disambut teriakan dari demonstran yang menentang kehadirannya.

Para pengunjuk rasa yang menolak Smotrich melontarkan kritik bernada keras, termasuk teriakan “memalukan” dan “penjahat perang”. Bagi sebagian kalangan Yahudi, parade semacam ini dianggap terlalu dekat dengan kebijakan pemerintah Israel, sehingga mereka memilih menjaga jarak.

Kontroversi di tengah perang di Gaza

Parade Hari Israel di Fifth Avenue selama ini memang menuai kritik dari kelompok yang ingin memisahkan identitas komunitas Yahudi dari kebijakan pemerintah Israel. Tahun ini, kontroversi semakin menguat seiring perang yang masih berlangsung di Gaza dan hadirnya sejumlah tokoh yang dipandang berperan dalam kebijakan tersebut.

Meski mendapat penolakan dari para demonstran, Smotrich tetap menegaskan hubungan Israel dan komunitas Yahudi global tidak terpisahkan. Ia menyampaikan, “Negara Israel adalah rumah bagi seluruh bangsa Yahudi. Keamanan orang Yahudi di seluruh dunia bergantung pada kekuatan dan keamanan Negara Israel. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk tinggal selain di Israel,” sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Minggu (14/3/2026).

Di New York, Wali Kota Zohran Mamdani juga menepati janji kampanyenya untuk tidak menghadiri parade tersebut. Keputusan itu mendapat apresiasi dari organisasi-organisasi Yahudi Amerika yang mengkritik kuatnya pengaruh kelompok sayap kanan dalam politik Israel.

Israils for Peace dan Jews for Racial & Economic Justice (JFREJ) menyatakan, “Parade Hari Israel, yang menampilkan politisi Israel yang tidak hanya mendukung genosida terhadap Palestina, tetapi juga merupakan bagian dari pemerintah yang melakukan genosida tersebut, bukanlah perayaan identitas atau kebanggaan Yahudi. @NYCMayor tahu ini. Kami bersyukur dia tidak hadir,”.

Frustrasi aktivis Yahudi terhadap klaim atas nama komunitas

Sementara itu, sejumlah aktivis Yahudi di Amerika Serikat dan Eropa mengaku semakin frustrasi terhadap politisi Israel yang menurut mereka menggunakan identitas Yahudi untuk membenarkan tindakan militer di Gaza maupun pendudukan Tepi Barat. Mereka menilai, perlakuan terhadap warga Palestina bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi dan keadilan yang selama ini diklaim Israel.

Di antara kelompok-kelompok yang menyuarakan kritik tersebut adalah Jewish Voice for Peace di AS dan Na’amod di Inggris. Emily Hilton, salah satu pendiri Na’amod, menyebut pandangannya terhadap Israel mulai berubah setelah serangan Israel ke Gaza pada 2014.

Hilton menyoroti peristiwa kematian empat anak Palestina yang tewas saat bermain sepak bola di pantai. Ia menyampaikan kepada Al Jazeera, “Saya mulai mempertanyakan penerimaan pemikiran Zionis sejak di universitas,” lalu menambahkan, “Saya pernah bertemu Zionis liberal yang mungkin mempertanyakan politik Israel, tetapi baru setelah saya kuliah di University College London saya mulai bertemu dengan orang Yahudi dan Palestina yang kritis terhadap Israel dan maknanya,”.

Setelah itu, Hilton bergabung dengan kelompok aktivis Yahudi di Inggris yang mengadakan doa duka cita tradisional Yahudi untuk warga Palestina yang dibunuh oleh Israel selama Pawai Akbar Kepulangan di perbatasan Gaza pada tahun 2018. Ia kemudian turut bergabung dalam acara peringatan setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober.

Perang Israel selanjutnya di Gaza, yang disebut telah menewaskan lebih dari 75.000 warga Palestina di Gaza, turut memengaruhi persepsi di antara beberapa komunitas Yahudi di seluruh dunia tentang hubungan mereka dengan negara tersebut. Hilton kemudian menegaskan, “Semakin banyak orang menyadari bahwa kita benar, Israel telah kalah dalam argumen moral,”.

Hilton juga mengatakan, “Klaim apa pun yang pernah dimilikinya telah hilang. Sekarang, satu-satunya klaim yang tersisa adalah bahwa mereka bertindak atas nama komunitas Yahudi arus utama, dan bahkan itu pun terlihat semakin tidak pasti,”.

Menurutnya, ancaman politik utama bagi pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, termasuk mantan perdana menteri sayap kanan Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid, justru hanya memperdebatkan sejauh mana apartheid dan genosida harus diberlakukan, tanpa menawarkan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.

Hilton menambahkan, “Klaim bahwa mereka bertindak atas nama saya, terus terang, sangat keterlaluan. Tidak masalah apakah itu apartheid yang lebih halus yang dianjurkan oleh Lapid dan Bennett atau kekerasan dan kehancuran yang dianjurkan oleh pemerintah saat ini, masalahnya adalah sistemnya,”.

Perbedaan pandangan di AS dan Eropa

Jajak pendapat dari seluruh AS dan Eropa menunjukkan pandangan yang berbeda di antara komunitas Yahudi terhadap Israel. Sebagian orang di AS dan Inggris melaporkan merasakan ikatan emosional yang kuat dengan Israel, terutama setelah kecaman global yang meluas terhadapnya atas perang di Gaza.

Namun, banyak pihak lain berpaling dari negara yang mereka nilai melakukan genosida atas nama mereka. Sonya Meyerson-Knox, Direktur Komunikasi Jewish Voice for Peace, menyampaikan pandangannya kepada Al Jazeera bahwa proses politik dan dukungan institusional selama ini membentuk persepsi di dalam komunitas.

Meyerson-Knox mengatakan, “Sudah terlalu lama, lembaga-lembaga Yahudi Amerika mendukung tindakan pemerintah Israel dan mengulangi pembenarannya bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi kepentingan orang-orang Yahudi di mana pun,”. Ia menambahkan, “Dengan melakukan itu, mereka tidak hanya merekayasa dukungan untuk pendudukan Israel, apartheid, dan genosida terhadap Palestina, tetapi mereka juga membungkam dan mengucilkan orang-orang Yahudi yang menentang tindakan-tindakan ini, atau mencoba meminta pertanggungjawaban negara Israel atas kejahatan perangnya,”.

Meski demikian, Meyerson-Knox menekankan mayoritas lembaga Yahudi Amerika terus mendukung Israel. Ia menyebut tetap terjadi “perubahan besar” di antara komunitas Yahudi Amerika secara keseluruhan, namun dukungan institusional tersebut belum bergeser secara mayoritas.