jurnalistik.co.id – JAKARTA — Sebuah lowongan kerja sebagai penggembala domba di wilayah terpencil China mendadak viral dan ikut membuka percakapan yang lebih besar soal sulitnya mencari pekerjaan di negara tersebut. Iklan yang awalnya dibuat untuk mencari dua orang gembala justru menarik perhatian lebih dari 700 pelamar dari berbagai latar belakang, mulai dari pekerja pabrik, karyawan kantoran di kota besar, hingga lulusan universitas baru.
Lowongan itu dipasang oleh peternak asal China, Zuo Xiaoyong, pada akhir April lalu. Tugas yang ditawarkan bukan pekerjaan biasa, karena ia mencari dua orang untuk mengurus ribuan domba di padang rumput dekat wilayah Mongolia. Alih-alih sepi peminat, iklan tersebut justru menjadi bahan perbincangan luas di media sosial China, Weibo, dengan 59 juta kali tayangan hanya dalam hitungan jam dan memicu lebih dari 21.000 diskusi.
“Saya tidak menyangka akan viral,” kata Zuo, mengutip Reuters, Rabu (27/5/2026). Menurutnya, sekitar 10% pelamar merupakan lulusan baru perguruan tinggi. Banyak dari mereka mengaku terbebani utang, lelah bekerja di sektor manufaktur, atau jenuh menghadapi dinamika politik kantor. “Sepertinya masyarakat biasa sedang kesulitan mencari pekerjaan,” ujarnya.
Fenomena ini menjadi gambaran tekanan yang tengah dihadapi pasar tenaga kerja China. Meski tingkat pengangguran resmi masih berada sedikit di atas 5%, para ekonom menilai semakin banyak pekerja yang mengalami setengah menganggur atau underemployment. Di saat yang sama, pertumbuhan pendapatan sektor swasta tertinggal dibandingkan pertumbuhan ekonomi selama sebagian besar dekade terakhir.
Di tengah kondisi itu, baik pekerja kerah biru maupun kerah putih kerap mengeluhkan budaya kerja “996”, yakni bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga 21.00 malam selama enam hari dalam seminggu. Kepala Ekonom China di ING, Lynn Song, menilai besarnya respons terhadap lowongan tersebut menunjukkan pasar kerja yang kian kompetitif, tetapi tidak selalu memberi imbalan yang sepadan.
“Lapangan pekerjaan di perkotaan menjadi semakin tidak menarik dan semakin sulit didapatkan,” kata Lynn. Ia menambahkan bahwa respons besar terhadap lowongan sederhana seperti itu menegaskan bagaimana banyak pencari kerja kini harus berhadapan dengan pilihan yang tidak ideal. Dalam situasi seperti ini, pekerjaan yang sebelumnya tampak tidak lazim justru bisa terlihat lebih menjanjikan dibandingkan pekerjaan kantoran yang penuh tekanan.
Selain itu, analis memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja China masih berpotensi memburuk dalam beberapa bulan mendatang. Tekanan biaya produksi akibat gejolak geopolitik global ikut menambah beban, sementara penggunaan kecerdasan buatan atau AI yang semakin luas juga berisiko mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah sektor.
Musim panas tahun ini juga diperkirakan makin menambah persaingan karena sekitar 12,7 juta lulusan universitas baru akan masuk ke pasar kerja. Jumlah itu membuat pencarian kerja menjadi semakin ketat, terutama bagi mereka yang baru lulus dan belum memiliki pengalaman kerja yang kuat. Dalam situasi seperti ini, tidak heran jika lowongan yang terlihat jauh dari pusat kota justru menarik perhatian besar.
Kutukan usia 35 tahun
Di sisi lain, Zuo mengungkapkan sekitar separuh pelamar lahir pada era 1990-an. Kelompok usia ini berada di tengah fenomena yang dikenal di China sebagai “kutukan usia 35 tahun” atau curse of 35, istilah yang merujuk pada praktik banyak perusahaan yang enggan merekrut pekerja berusia di atas 35 tahun, termasuk di sektor publik.
Dosen senior manajemen sumber daya manusia di Victoria University of Wellington, Christian Yao, mengatakan fenomena tersebut kini tidak lagi terbatas di sektor teknologi. “Kami melihat kutukan usia 35 tahun berubah dari sekadar meme di industri teknologi menjadi realitas ekonomi yang lebih luas,” katanya.
Pada akhirnya, Zuo merekrut empat orang gembala, atau dua pasangan suami istri, yang seluruhnya lahir pada 1980-an dan memiliki pengalaman bekerja di peternakan. Ratusan pelamar lainnya harus gigit jari, meski sebelumnya sempat berharap bisa mendapatkan pekerjaan tersebut.
Pekerjaan itu sendiri memang tidak ringan. Zuo mencari pasangan suami istri untuk menggembalakan sekitar 3.000 ekor domba di lahan seluas 2.000 hektare selama musim panas. Saat musim dingin, mereka harus memberi pakan dan membersihkan kandang dalam suhu yang bisa mencapai minus 30 derajat Celsius. Sebagai imbalan, setiap pekerja ditawarkan gaji 8.000 yuan atau sekitar Rp18 juta per bulan, ditambah tempat tinggal dan kebutuhan bahan makanan.
Angka itu jauh di atas rata-rata gaji pekerja sektor swasta di perkotaan China yang berada di kisaran 6.000 yuan per bulan. Managing Director China Market Research Group, Shaun Rein, mengatakan lulusan program magister dari universitas ternama di Shanghai pun banyak yang memperoleh gaji di kisaran yang sama. Namun, sebagian besar pendapatan mereka habis untuk membayar sewa tempat tinggal dan biaya hidup di kota besar.
Meski menawarkan gaji yang terbilang tinggi, Zuo menegaskan pekerjaan itu bukan untuk semua orang. “Gajinya memang tinggi, tetapi yang paling penting adalah apakah seseorang bisa bertahan dalam jangka panjang dan melewati musim dingin. Ini bukan wisata,” ujarnya.
Menurut Zuo, kehidupan di peternakan terpencil memang tidak cocok bagi semua orang karena tingkat kesendiriannya sangat tinggi. “Di tempat kami, Anda mungkin tidak bertemu siapa pun selama setahun penuh. Saya tidak tahu apakah semua orang bisa bertahan menghadapi kesepian seperti itu,” katanya.












