Daerah

Macet di Jalan Raya Pekayon Bekasi Imbas Rekonstruksi Menuju Jembatan Kemang Pratama

×

Macet di Jalan Raya Pekayon Bekasi Imbas Rekonstruksi Menuju Jembatan Kemang Pratama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jalan Raya Pekayon Bekasi Macet karena Perbaikan Jalan, Ini Rekayasa Lalu Lintasnya

jurnalistik.co.id – Kemacetan kembali mengular di Jalan Raya Pekayon, Kota Bekasi, tepatnya di area lampu merah Kemang Pratama. Kondisi ini muncul seiring adanya pekerjaan rekonstruksi jalan penghubung menuju Jembatan Kemang Pratama.

Warga dan pengendara yang melintas pada Kamis (2/7/2026) mengaku antrean sudah terlihat sejak masuk wilayah proyek. Kendaraan roda dua maupun roda empat harus bergerak pelan karena ruas menjadi lebih sempit dan alur lintas diberlakukan bergantian.

Penyempitan tersebut membuat kendaraan tidak dapat melaju seperti biasanya. Di lokasi, kepadatan tampak sulit dihindari, terutama ketika jam berangkat dan pulang kerja ketika volume kendaraan cenderung meningkat.

Antrean jadi rutinitas pasca jembatan ambles

Bagi sebagian pengendara, kemacetan di titik tersebut bukanlah hal yang benar-benar baru. Arif (32) menyebut antrean sudah sering terjadi sejak Jembatan Kemang Pratama mengalami ambles dan memasuki masa perbaikan pada tahun lalu.

“Macet di sini mah sudah biasa. Dari waktu jembatannya diperbaiki juga sudah sering antre. Sekarang macet lagi karena ada pekerjaan jalan,” ujar Arif saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, penyempitan jalan memang menuntut kendaraan untuk saling bergantian melewati satu titik sempit. Dengan pola itu, antrean cenderung terbentuk dan sulit diputus dalam waktu singkat.

Meski demikian, Arif memahami pekerjaan yang sedang berjalan memiliki tujuan untuk memperbaiki kondisi jalan. Ia menilai proses perbaikan tetap diperlukan agar infrastruktur menjadi lebih aman serta lebih nyaman bagi masyarakat.

“Tapi mau bagaimana lagi, ini kan memang sedang diperbaiki supaya jalannya lebih bagus,” katanya.

Arif juga melihat waktu pelaksanaan proyek masih tergolong tepat karena bertepatan dengan masa libur sekolah. Ia menilai pada periode tersebut jumlah kendaraan belum mencapai puncaknya.

“Untungnya sekarang masih libur sekolah. Kalau nanti anak-anak sudah masuk, enggak kebayang bakal semacet apa,” ucap Arif.

Ia berharap proyek dapat selesai sesuai jadwal, sehingga masyarakat tidak lagi harus menghabiskan banyak waktu di perjalanan. “Semoga cepat selesai perbaikannya. Biar kami yang setiap hari lewat sini bisa lebih nyaman dan enggak perlu khawatir terjebak macet lagi,” imbuhnya.

Jalur Kemang Pratama Raya melayani arus utama

Keluhan serupa disampaikan Slamet (42). Ia menjelaskan Jalan Kemang Pratama Raya merupakan salah satu akses penting yang menghubungkan sejumlah kawasan, mulai dari Pekayon, Galaxy, hingga Jatiasih, menuju Jalan Ahmad Yani.

Karena posisinya sebagai penghubung, Slamet mengatakan arus kendaraan di ruas tersebut memang relatif padat setiap hari. Dengan adanya pekerjaan konstruksi yang membuat jalur semakin sempit, kepadatan menjadi lebih menonjol dan antrean bertambah panjang.

Slamet menilai pola bergantian yang diterapkan di titik proyek berpengaruh langsung terhadap kelancaran lalu lintas. Saat kendaraan harus menunggu giliran melintas, laju arus di belakangnya ikut melambat, sehingga antrean makin sulit terbendung.

Dalam pantauan di lokasi, kendaraan terlihat mengular mengikuti pergerakan yang terputus oleh penyempitan. Kondisi itu membuat perjalanan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan hari-hari tanpa pekerjaan.

Meski begitu, sejumlah pengendara tetap memaklumi pekerjaan rekonstruksi tersebut. Mereka berharap alur perbaikan berjalan lancar dan tahapan pekerjaan segera mencapai bagian yang membuat lalu lintas kembali normal.

Intinya, kemacetan di Jalan Raya Pekayon saat ini berkelindan dengan proses rekonstruksi menuju Jembatan Kemang Pratama. Dengan penyempitan ruas yang diberlakukan untuk mendukung pekerjaan, kendaraan harus melintas bergantian sehingga kepadatan mudah terbentuk, khususnya saat jam sibuk.

Di sepanjang ruas yang terdampak penyempitan, arus lalu lintas yang semula mengalir lebih lancar berubah menjadi pergerakan pendek-pendek. Pengendara terpaksa menjaga kecepatan rendah dan siap berhenti sejenak saat kendaraan dari arah berlawanan memperoleh giliran melintas, sehingga jarak antar kendaraan menjadi rapat.

Perubahan ritme itu membuat antrean mudah diperpanjang, terutama ketika banyak orang berangkat maupun pulang kerja. Saat volume kendaraan meningkat, ruang gerak yang tersisa tidak cukup untuk menampung laju kendaraan secara bersamaan, sehingga waktu tunggu ikut bertambah dan perjalanan terasa lebih lama.

Sejumlah pengendara juga berharap proses rekonstruksi berjalan bertahap hingga bagian yang memicu kepadatan segera tertangani. Dengan begitu, kondisi serupa yang sempat muncul sejak jembatan mengalami ambles tahun lalu dapat diminimalkan, dan masyarakat tidak lagi harus menghadapi antrean panjang pada jam-jam sibuk.