Entertainment

Marjane Satrapi, Penulis Novel Persepolis, Dikabarkan Meninggal karena Kesedihan

0
×

Marjane Satrapi, Penulis Novel Persepolis, Dikabarkan Meninggal karena Kesedihan

Sebarkan artikel ini
Penulis Novel Persepolis Marjane Satrapi Dikabarkan Meninggal karena Kesedihan Lifestyle 7 Juni 2026
Ilustrasi: Penulis Novel Persepolis Marjane Satrapi Dikabarkan Meninggal karena Kesedihan

jurnalistik.co.id – Kabar duka menyelimuti dunia sastra dan seni internasional setelah seniman, penulis novel grafis, sutradara film, sekaligus aktivis Iran-Prancis, Marjane Satrapi, dikabarkan berpulang pada usia 56 tahun. Informasi tersebut diumumkan oleh Kantor Kepresidenan Prancis pada Kamis (04/06).

Dalam keterangan yang disampaikan keluarga kepada AFP, disebutkan bahwa Satrapi meninggal karena “kesedihan”. Keluarganya juga menyinggung bahwa kematian ini terjadi sekitar setahun setelah wafatnya sang suami, Mattias Ripa.

Hingga saat kabar ini disampaikan, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab kematiannya. Keluarga hanya menyebut faktor emosional berupa kesedihan.

Satrapi dikenal luas melalui karya yang menempatkan pengalaman personal sebagai jendela untuk memahami perubahan sosial dan pergulatan identitas. Salah satu karyanya yang paling menonjol, novel grafis Persepolis, sejak awal memosisikan cerita keluarga dan masa kecil sebagai bagian dari narasi besar tentang kehidupan di Iran.

Memoar bergambar hitam-putih itu dipandang sebagai guratan perjalanan yang menuntun Satrapi mencari siapa dirinya, terutama ketika ia harus hidup di antara dua dunia. Melalui gaya bercerita yang personal, ia menampilkan sisi Iran yang tidak hanya melekat pada konflik atau dinamika politik.

Latar hidup dari Iran hingga Prancis

Marjane Satrapi lahir pada 1969 di Rasht, Iran. Ia dibesarkan di Teheran, dan tumbuh di tengah perubahan besar yang mengikuti Revolusi Iran pada 1979, periode yang kemudian menjadi fondasi utama dalam karya-karyanya.

Satrapi juga dibesarkan dalam keluarga bangsawan. Dalam masa mudanya, ia mengalami situasi yang pahit akibat keadaan politik, termasuk penangkapan, penganiayaan, serta eksekusi terhadap sejumlah anggota keluarga dan orang-orang terdekat.

Ketika ia masih remaja, orang tuanya mengirim Satrapi ke Austria untuk melanjutkan pendidikan. Setelah sempat kembali ke Iran karena kerinduan terhadap rumah, ia menempuh studi komunikasi visual di University of Tehran.

Pada akhirnya, Satrapi menetap di Prancis sejak 1994. Ia kemudian memperoleh kewarganegaraan Prancis pada 2006.

Melahirkan Persepolis dan jejak karier kreatif

Nama Satrapi mulai melejit setelah menerbitkan Persepolis pada tahun 2000. Memoar autobiografis tersebut berkembang menjadi empat volume yang menggambarkan masa kecilnya di Iran, masa remajanya di Austria, hingga pergulatannya mencari identitas di antara dua budaya.

Melalui Persepolis, kekuatan cerita Satrapi sering ditautkan pada cara ia menggambarkan kehidupan sehari-hari. Dalam narasinya, Iran digambarkan dihuni oleh keluarga, persahabatan, humor, cinta, dan pengalaman keseharian yang dekat dengan manusia.

Keberhasilan Persepolis tidak berhenti pada karya tulis. Satrapi kemudian mengadaptasi kisah tersebut menjadi film animasi bersama Vincent Paronnaud pada 2007.

Film animasi itu meraih Jury Prize di Festival Film Cannes. Selain itu, film tersebut juga masuk nominasi Academy Awards untuk kategori Film Animasi Terbaik.

Setelah Persepolis, Satrapi melanjutkan perannya sebagai sutradara untuk beberapa film lain. Di antaranya adalah Chicken with Plums, The Voices yang dibintangi oleh Ryan Reynolds, serta Radioactive yang mengangkat kisah ilmuwan Marie Curie dengan aktris Rosamund Pike sebagai pemeran.

Sikap vokal terhadap isu kebebasan dan demokrasi

Di luar dunia seni, Satrapi dikenal sebagai sosok yang lantang dalam isu kebebasan perempuan, demokrasi, dan hak asasi manusia di Iran. Ia secara konsisten mengkritik represi yang dilakukan pemerintah Iran.

Satrapi juga tidak segan mengkritik sikap negara-negara Barat yang dinilai bersikap ambigu terhadap perjuangan rakyat Iran. Salah satu contoh yang disebut dalam pemberitaan adalah penolakannya pada 2025 untuk menerima Legion d’Honneur, penghargaan tertinggi Prancis.

Menurut Satrapi, sekalipun ia memegang kewarganegaraan Prancis, negara tersebut belum memberikan dukungan yang ia anggap layak terhadap rakyat Iran yang memperjuangkan demokrasi.

Melalui pernyataan resmi, Kantor Kepresidenan Prancis mengumumkan bahwa Presiden Emmanuel Macron dan istrinya, Brigitte Macron, menyampaikan penghormatan terbesar kepada Satrapi sebagai seorang seniman besar. Mereka juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga, orang-orang terdekat, serta semua orang yang mencintainya.

Kehilangan Satrapi meninggalkan jejak yang tidak hanya tercermin pada karya-karya populer, tetapi juga pada cara ia menempatkan pengalaman hidup dan nilai kemanusiaan sebagai bagian dari narasi yang mudah dipahami. Melalui karya-karyanya, ia terus dikenang sebagai pembawa suara yang mengajak pembaca melihat manusia di balik peristiwa.