Otomotif

Marka Chevron Serong di Jalan Tol: Tujuannya Bikin Kendaraan Melambat

×

Marka Chevron Serong di Jalan Tol: Tujuannya Bikin Kendaraan Melambat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bukan Hiasan, Ini Fungsi Marka Bergaris Miring di Jalan Tol

jurnalistik.co.id – Pengendara tol kerap melihat marka berbentuk garis miring yang tampil seperti rangkaian tanda panah di area tertentu. Banyak yang menganggapnya hanya penanda visual, padahal fungsinya berkaitan langsung dengan keselamatan saat perubahan kondisi jalan.

Marka tersebut dikenal sebagai marka chevron atau marka serong. Letaknya umumnya berada di titik-titik yang dianggap krusial, seperti dekat pintu masuk dan keluar tol, pada area pertemuan jalur, hingga bagian yang mengarah ke persimpangan.

Penanda awal saat jalur berubah

Salah satu kegunaannya adalah memberi sinyal agar pengemudi lebih waspada. Garis-garis miring ini berfungsi sebagai indikator awal ketika jalur yang dilintasi tidak lagi sama kondisinya, sehingga pengendara terdorong menyesuaikan kecepatan dan konsentrasi.

Di saat jalur masuk atau keluar dan terjadi pengaturan arus, informasi visual dari marka menjadi isyarat praktis di permukaan jalan. Dengan demikian, pengemudi tidak hanya “melewati” area tersebut, tetapi juga mendapat pengingat bahwa ada perubahan tata laku berkendara di depan.

Rancang bangun untuk menekan laju

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan pernah menjelaskan bahwa marka chevron memang didesain untuk mengurangi kecepatan kendaraan. Ia menyebut, “Itu namanya chevron reducing marking , sesuai namanya itu adalah marka berbentuk chevron yang fungsinya adalah untuk me- reduce speeding ,” katanya.

Pemilihan bentuk itu dinilai relevan untuk karakter jalan antarkota yang dirancang berkecepatan tinggi. Pada kondisi seperti ini, metode tradisional berupa pemasangan speed hump atau speed bump tidak dianjurkan karena dapat menghadirkan risiko bagi pengendara ketika kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi.

Karena itu, chevron hadir sebagai solusi yang bekerja melalui persepsi. Saat pengemudi melihat garis-garis berbentuk panah, muncul kecenderungan bahwa jalur di depannya tampak lebih sempit. Ilusi menyempit tersebut kemudian mendorong kendaraan melambat secara alami.

Juga ada dragon teeth

Wildan menambahkan bahwa marka penekan laju tidak terbatas pada chevron. Ada pula marka dragon teeth atau “gigi naga”, yang bentuknya berupa garis tegak lurus dan memberikan kesan bahwa jalur juga lebih sempit.

Ia menegaskan fungsi marka tersebut bukan untuk meningkatkan kecepatan, melainkan membuat pengemudi merasakan kondisi jalan yang berbeda. “Bukan (untuk menambah kecepatan), kan dibuat menyempit dan ada beda tinggi sedikit sehingga pengemudi akan merasa tidak nyaman dan menurunkan kecepatan,” katanya.

Dengan adanya perbedaan rasa saat melintas, pengemudi cenderung mengubah perilaku berkendara tanpa harus menunggu rambu atau pengumuman tambahan. Pendekatan ini berangkat dari gagasan bahwa perubahan persepsi di permukaan jalan dapat membentuk keputusan di belakang kemudi.

Kondisi yang membuatnya paling efektif

Menurut Wildan, marka chevron paling efektif digunakan pada jalan antarkota dengan desain kecepatan di atas 60 kilometer per jam (kpj). Namun, efektivitasnya dapat menurun bila pengemudi terlalu sering melewati lokasi yang sama.

Jika rute tersebut sudah terlalu akrab, rangsangan visual yang semula berperan sebagai “peringatan awal” bisa kehilangan daya pengaruhnya. Artinya, pengaruh marka sangat terkait dengan seberapa sering pengemudi terpapar pada titik tersebut dalam rutinitas harian.

Penjelasan tersebut sejalan dengan temuan penelitian Transport Road Research Laboratory (TRRL) yang menyebut sekitar 90 persen keputusan pengemudi didasarkan pada penglihatan. Karena itu, mempengaruhi pandangan mata pengemudi dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk mengubah perilaku saat berkendara.

Dalam praktiknya, kehadiran chevron dan dragon teeth bekerja sebagai rangsangan visual dan fisik yang mengarahkan pengemudi untuk mengurangi laju ketika memasuki area perubahan arus. Dengan penempatan di titik masuk/keluar, persimpangan, dan pertemuan jalur, marka menjadi pengingat yang muncul lebih dulu sebelum pengemudi menghadapi situasi jalan yang berubah.

Itulah sebabnya marka bergaris miring di tol tidak seharusnya dipahami sebagai ornamen. Chevron dan dragon teeth dipakai untuk menciptakan ilusi jalur menyempit, membangun rasa tidak nyaman yang terukur, serta pada akhirnya menuntun kendaraan melambat ketika kondisi mengharuskan kehati-hatian ekstra.