Politik & Parlemen

Megawati: Istana Gebang Bukan Sekadar Tempat Wisata, tetapi Ruang Meresapi Perjuangan

×

Megawati: Istana Gebang Bukan Sekadar Tempat Wisata, tetapi Ruang Meresapi Perjuangan

Sebarkan artikel ini
Megawati: Istana Gebang Bukan Sekadar Tempat Wisata, tetapi Ruang Meresapi Perjuangan Regional 16 Juni 2026
Ilustrasi: Megawati: Istana Gebang Bukan Sekadar Tempat Wisata, tetapi Ruang Meresapi Perjuangan

jurnalistik.co.id – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa Istana Gebang di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, Jawa Timur, tidak semata-mata layak dipandang sebagai bangunan peninggalan masa lalu. Ia menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan dalam peresmian selesainya renovasi Istana Gebang pada Senin (15/6/2026).

Dalam sambutannya, Megawati menyebut Istana Gebang sebagai ruang yang menyimpan kisah tentang kecintaan terhadap Tanah Air dan tekad perjuangan Presiden Soekarno atau Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ia menggarisbawahi bahwa nilai di dalamnya tidak berhenti pada kegiatan berkunjung.

“Istana Gebang ini tidak hanya untuk didatangi, tetapi juga diresapi,” ujar Megawati. Ia kemudian mengaitkan penegasan tersebut dengan kedudukan Istana Gebang sebagai rumah masa kecil Bung Karno.

Megawati mengingat kembali perjalanan hidup ayahnya yang, menurut cerita yang ia sampaikan, banyak diwarnai penjara dan pengasingan. Ia menyatakan total waktu Bung Karno berada di penjara dan tempat pengasingan mencapai sekitar 22 tahun sejak usia muda.

Lebih lanjut, Megawati menuturkan rangkaian perpindahan dan kehidupan pendidikan yang dialami Bung Karno pada masa remaja. Ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, dipindahtugaskan dari Mojokerto ke Blitar untuk mengajar di Normal Jongens School pada tahun 1917—yang kini menjadi SMAN 1 Kota Blitar.

Megawati juga menjelaskan bahwa pada periode itu, Bung Karno yang berusia 11 tahun tidak sepenuhnya berada di Blitar. Ia menyebut Bung Karno lebih dulu banyak menghabiskan waktu di Kota Surabaya, ketika Soekarno menempuh pendidikan di Hoogere Burger School (HBS).

Ia kemudian menambahkan bahwa setelah itu Bung Karno melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng—yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Megawati menyebut tahapan pendidikan tersebut berlanjut hingga Bung Karno aktif dalam pergerakan nasional, sehingga kehidupan yang ditempuhnya tidak terputus dari dorongan perjuangan.

Dalam konteks itulah, Megawati menempatkan Istana Gebang sebagai bagian dari ritme kehidupan keluarga Bung Karno. Ia menyatakan, di masa-masa tersebut, Istana Gebang menjadi tempat Soekarno pulang untuk menemui ayah dan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.

Megawati lalu mengungkap kembali gambaran yang menurutnya menunjukkan betapa panjangnya perjalanan Bung Karno yang harus berhadapan dengan penahanan dan pembuangan. Ia mengatakan Bung Karno “dipenjara keluar masuk” dan “dibuang tiga kali”. Dari sana, ia menekankan bahwa lamanya waktu pembuangan sebagai seorang pemuda adalah 22 tahun.

Ia menyampaikan kutipan yang menekankan keteguhan dalam menghadapi pilihan sulit: “Coba kalian. Pasti bilang saya tidak mau, saya tidak mampu. Siapa yang mau dipenjara. Siapa yang mau dibuang,” ujar Megawati. Kalimat itu ia ucapkan untuk mengajak hadirin memikirkan sikap yang seharusnya muncul ketika berhadapan dengan penindasan.

Setelah menguraikan perjalanan tersebut, Megawati menyinggung makna yang ia rasakan ketika berada di kompleks Istana Gebang. Menurutnya, berada di sana membuatnya kembali merasakan sosok-sosok yang membenci penjajahan dan menjaga api perjuangan untuk membebaskan diri serta bangsa dari penindasan.

Ia juga mengaitkan benih semangat perjuangan dalam diri Bung Karno dengan pengaruh keluarga. Megawati menyampaikan bahwa benih itu tumbuh dari sang ibu, yang ia sebut sebagai nenek Megawati.

Megawati menceritakan bahwa neneknya, sebagaimana ia sampaikan berdasarkan kabar yang diceritakan ayahnya, sangat membenci Belanda sebagai penjajah. Ia menambahkan harapannya pada momen sambutan: “Saat saya berbicara ini, semoga nenek saya ada di sini, di Istana Gebang ini. Semoga Bung Karno juga ada di sini,” tutur Megawati.

Selain itu, Megawati juga mengisahkan bagian dari proses peresmian renovasi Istana Gebang. Ia menceritakan momen ketika Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyampaikan jadwal peresmian selesainya renovasi Istana Gebang kepadanya.

Ia mengutip penuturan Hasto: “Pak Hasto bilang, ‘Bu, nanti Istana Gebang mau dibuka. Minta Ibu yang resmikan’.” Dari pengisahan tersebut, Megawati menegaskan kembali bahwa Istana Gebang bukan hanya sebuah tempat tinggal masa kecil Bung Karno.

Ia melanjutkan penegasannya dengan menyampaikan pertanyaan dan jawaban langsung: “Apa Istana Gebang hanya tempat tinggal Bung Karno masa kecil? Tidak. Tapi semangat perjuangan beliau-beliau,” ujarnya. Dengan demikian, pesan yang disampaikan Megawati berpusat pada bagaimana generasi penerus dapat memahami dan meresapi makna perjuangan yang menyertai sejarah di tempat tersebut.