Nasional

Mengenal Tim ERS PLN: Pasukan Tanggap Darurat Pemulihan Sistem Kelistrikan

×

Mengenal Tim ERS PLN: Pasukan Tanggap Darurat Pemulihan Sistem Kelistrikan

Sebarkan artikel ini
Mengenal Tim ERS PLN, Pasukan Tanggap Darurat Pemulihan Sistem Kelistrikan Money 17 Juni 2026
Ilustrasi: Mengenal Tim ERS PLN, Pasukan Tanggap Darurat Pemulihan Sistem Kelistrikan

jurnalistik.co.id – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN menyiagakan tim Emergency Restoration System (ERS) pada Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat (UIT JBB) sebagai garda terdepan untuk mempercepat pemulihan sistem kelistrikan nasional yang terdampak bencana alam atau gangguan skala besar (blackout).

Langkah ini menjadi bagian dari prioritas PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik dan meminimalkan dampak pemadaman bagi masyarakat.

Tim ERS adalah personel khusus yang dibentuk dan dipersiapkan untuk menangani kondisi darurat pada infrastruktur transmisi tenaga listrik. Dengan kompetensi teknis yang tinggi serta kemampuan bekerja di bawah tekanan waktu, tim tersebut berperan agar proses pemulihan sistem berjalan cepat, aman, dan andal.

Tim ERS dan perannya saat kondisi darurat

PLN menempatkan tim ERS sebagai respons cepat ketika sistem transmisi mengalami gangguan besar. Dalam situasi darurat, tim bergerak untuk mengoordinasikan langkah pemulihan di lapangan secara terukur.

Salah satu tugas utama tim ERS adalah membangun tower emergency. Menara ini berfungsi sebagai pengganti sementara bagi menara transmisi yang mengalami kerusakan atau roboh akibat bencana alam maupun gangguan lain.

Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UIT JBB, Gita Kurniawan Ginting, menjelaskan bahwa ketika gangguan mengakibatkan robohnya tower transmisi, tim ERS melakukan langkah-langkah penanganan secara cepat.

“Ketika terjadi gangguan besar yang mengakibatkan tower transmisi roboh, tim ERS bergerak cepat melakukan koordinasi, mobilisasi personel dan material, serta pembangunan tower emergency agar penyaluran tenaga listrik dapat segera dipulihkan dan masyarakat kembali memperoleh layanan listrik secara optimal,” ujar Gita dalam rilis persnya, Rabu (17/6/2026).

Jumlah personel dan kompetensi yang disiapkan

Saat ini, PLN UIT JBB memiliki 20 personel ERS yang dipersiapkan secara khusus untuk mendukung pembangunan tower emergency. Seluruh personel tersebut merupakan tenaga profesional dengan berbagai sertifikasi dan kompetensi dalam pekerjaan konstruksi transmisi, pekerjaan di ketinggian, serta penanganan kondisi darurat.

Gita menegaskan bahwa tugas yang dijalankan menuntut keahlian spesifik dan kesiapan melalui proses pembinaan. Menurutnya, personel yang ditugaskan memiliki keahlian khusus dan sertifikasi yang relevan dengan pekerjaan berisiko tinggi.

“Personel yang ditugaskan memiliki keahlian khusus dan sertifikasi yang relevan dengan pekerjaan berisiko tinggi. Selain itu, mereka juga secara rutin mengikuti pelatihan dan simulasi agar selalu siap menjalankan tugas kapan pun dibutuhkan,” jelas Gita.

Jaringan bertegangan tinggi dan budaya keselamatan kerja

Pembangunan tower emergency dilakukan pada jaringan transmisi bertegangan tinggi hingga ekstra tinggi, seperti 275 kilovolt (kV) dan 500 kV. Karena itu, pekerjaan membutuhkan presisi, kompetensi teknis, serta penerapan budaya keselamatan kerja yang sangat tinggi.

Penekanan pada keselamatan kerja menjadi bagian penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai prinsip operasional yang berlaku pada pekerjaan berisiko tinggi. Dalam konteks ini, kemampuan teknis dan disiplin penerapan prosedur keselamatan menjadi faktor yang menentukan kelancaran pengerjaan.

Dukungan teknis di wilayah Sumatera

Selain mendukung pembangunan tower emergency, personel PLN UIT JBB juga diterjunkan untuk memberikan dukungan teknis dalam berbagai penugasan di wilayah Sumatera. Penugasan tersebut mencakup situasi ketika terjadi kerusakan pada sejumlah tower transmisi akibat cuaca ekstrem dan bencana alam.

Dalam pelaksanaannya, personel bekerja secara terintegrasi bersama unit PLN di wilayah terdampak. Tujuannya untuk mempercepat proses pemulihan infrastruktur ketenagalistrikan agar layanan dapat dipulihkan secepat mungkin sesuai kondisi di lapangan.

Menurut Gita, setiap penugasan juga menjadi sarana pembelajaran yang berharga untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan pengalaman personel dalam menghadapi berbagai tantangan operasional di masa mendatang.