jurnalistik.co.id – Elon Musk disebut berpeluang menggabungkan Tesla dan SpaceX setelah perusahaan antariksa miliknya bersiap melantai di bursa saham. Spekulasi itu mengemuka di tengah meningkatnya keterkaitan dua perusahaan tersebut, terutama karena keduanya kini semakin banyak berbagi sumber daya dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
SpaceX diperkirakan mulai diperdagangkan di Nasdaq dalam sekitar dua pekan. Sebelumnya, perusahaan itu memperoleh valuasi pasar privat sekitar 1,25 triliun dollar AS. Dengan kurs Rp 17.812 per dollar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 22.265 triliun.
Valuasi itu dicapai pada awal tahun ini setelah SpaceX bergabung dengan xAI, perusahaan artificial intelligence milik Musk. Di saat yang sama, kapitalisasi pasar Tesla saat ini berada di kisaran 1,6 triliun dollar AS atau sekitar Rp 28.499 triliun.
Jika rencana penggabungan itu benar terjadi, Musk berpotensi mengendalikan dua dari 10 perusahaan paling bernilai di Amerika Serikat. Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut Musk telah membicarakan kemungkinan merger Tesla dan SpaceX dengan beberapa koleganya.
Seorang karyawan Tesla mengatakan banyak pekerja di perusahaan kendaraan listrik itu sudah lama memperkirakan transaksi semacam itu pada akhirnya akan terjadi. Menurut dia, topik tersebut bahkan sering dibahas secara terbuka di internal perusahaan.
Sumber lain yang dekat dengan Tesla menyebut keterbatasan daya listrik dan kapasitas komputasi membuat kedua perusahaan itu semakin sering bekerja sama. Situasi tersebut ikut memperkuat pandangan bahwa hubungan Tesla dan SpaceX tidak lagi sekadar berada di dua industri yang berbeda, melainkan saling terhubung oleh kebutuhan teknologi yang sama.
Tesla dan SpaceX memang terlihat bergerak di bisnis yang berbeda. Namun, keduanya kini menghadapi tantangan teknologi yang mirip. Tesla membutuhkan sistem AI canggih untuk kendaraan otonom, robot, dan layanan digital. Sementara itu, SpaceX membutuhkan komputasi besar untuk satelit, roket, Starlink, dan proyek AI melalui xAI.
Lebih dari tiga perempat belanja modal SpaceX senilai 10,1 miliar dollar AS pada kuartal pertama disebut terkait AI. Nilai itu setara sekitar Rp 179,9 triliun. Tesla juga menyatakan belanja modalnya akan meningkat tiga kali lipat tahun ini, dengan nilai yang diperkirakan menjadi lebih dari 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 445,3 triliun.
Mantan insinyur yang kini menjadi venture capitalist di Theory Ventures, Tomasz Tunguz, mengatakan Tesla dan SpaceX sama-sama harus memecahkan persoalan teknis yang sulit. “Tesla harus menjalankan sistem AI yang canggih di dalam kendaraan yang bergerak dengan batasan ketat pada daya, pendinginan, latensi, keandalan, dan biaya,” kata Tunguz.
“SpaceX harus memikirkan komputasi di orbit, di mana radiasi, siklus termal, massa peluncuran, pembangkit listrik, dan pembuangan panas semuanya menjadi kendala desain yang sangat penting,” lanjut dia.
Spekulasi merger itu juga menarik perhatian karena akan membuat hubungan Tesla, SpaceX, dan xAI terlihat semakin menyatu dalam satu ekosistem bisnis yang sama. Dari sudut pandang pasar, kedekatan semacam itu dapat dibaca sebagai upaya memperkuat strategi teknologi lintas perusahaan, terutama ketika kebutuhan komputasi dan AI terus meningkat di masing-masing unit usaha Musk.
Di sisi lain, pembahasan mengenai kemungkinan penggabungan belum otomatis berarti kesepakatan akan segera terjadi. Namun, fakta bahwa topik ini sudah dibicarakan di internal dan di kalangan orang-orang terdekat perusahaan menunjukkan adanya ruang bagi perubahan struktur yang lebih besar di masa mendatang. Karena itu, kabar soal SpaceX melantai di bursa pun membuat sorotan terhadap Tesla ikut meningkat.






