Bisnis & Ekonomi

Edu-Hub Ecosystem Dibangun di Surabaya, Pertama di Indonesia

0
×

Edu-Hub Ecosystem Dibangun di Surabaya, Pertama di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Edu-Hub Ecosystem Dibangun di Surabaya, Pertama di Indonesia - Sektor Riil

jurnalistik.co.id – SURABAYA — Surabaya, Jawa Timur, akan segera memiliki simpul pendidikan baru pertama di Indonesia di kawasan Gunung Anyar. Proyek ini lahir dari kerja sama PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) dan PT Art Design Indonesia (ADI) yang diumumkan pada pertengahan pekan ini.

Urbanova diklaim akan menjadi kawasan terpadu yang dikembangkan dengan konsep Edu Hub Ecosystem pertama di Indonesia. Kehadiran proyek ini menandai arah pengembangan kawasan modern yang tidak hanya berfokus pada hunian, tetapi juga pada ekosistem pendidikan dan integrasi ruang hidup yang lebih luas.

Direktur Urbanova, Tatang Sukmana, mengatakan bahwa pembangunan kawasan seperti ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Indonesia tidak hanya bertumpu pada ibu kota. Ia menilai Surabaya memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan kawasan terpadu berkonsep baru.

“Masa depan Indonesia tidak hanya ada di Jakarta. Surabaya memiliki kombinasi ekonomi yang kuat, infrastruktur yang berkembang, dan permintaan besar terhadap kawasan terpadu modern,” ujar Tatang Sukmana dalam keterangan pers, Kamis (28/5/2026).

Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi Surabaya sebagai salah satu kota yang dinilai mampu mendorong lahirnya pusat pertumbuhan baru di luar Jakarta. Dalam kerangka tersebut, kawasan Gunung Anyar dipilih sebagai lokasi pengembangan untuk menghadirkan sebuah ekosistem yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia.

Konsep Edu Hub Ecosystem yang diusung Urbanova menempatkan pendidikan sebagai inti pengembangan kawasan. Dari sisi pengembangan properti, pendekatan ini diproyeksikan menjadi daya tarik tersendiri karena menyatukan kebutuhan ruang hidup, aktivitas belajar, dan fasilitas kawasan dalam satu lingkungan terpadu.

Meski rupiah masih melemah terhadap dolar AS, Tatang menyebut kondisi itu tidak terlalu berpengaruh bagi sektor properti. Menurut dia, tekanan dari kenaikan dolar memang tetap ada, tetapi tidak mengubah arah kebutuhan masyarakat terhadap properti dan integrated living.

“Kenaikan dolar memang memberi tekanan jangka pendek, tetapi kebutuhan terhadap properti dan integrated living tetap tumbuh,” tegas dia.

Dalam pandangannya, kebutuhan tersebut justru menunjukkan bahwa pasar masih membuka ruang bagi pengembangan kawasan yang menawarkan fungsi lebih lengkap. Karena itu, proyek di Surabaya ini diposisikan bukan hanya sebagai pembangunan fisik, melainkan juga sebagai respons atas permintaan terhadap lingkungan hunian dan aktivitas yang lebih terhubung.

Dengan kerja sama antara PT DMS Propertindo Tbk dan PT Art Design Indonesia, Urbanova kini masuk dalam daftar proyek yang diklaim membawa konsep baru ke pasar properti nasional. Kehadirannya di Gunung Anyar menjadi sorotan karena disebut sebagai simpul pendidikan pertama yang dibangun di Indonesia dalam format Edu Hub Ecosystem.

Bagi Surabaya, proyek ini mempertegas peran kota tersebut sebagai wilayah dengan daya tarik ekonomi dan infrastruktur yang terus berkembang. Sementara bagi sektor properti, Urbanova menjadi contoh bagaimana pengembangan kawasan bisa diarahkan ke model terpadu yang menggabungkan pendidikan, hunian, dan kebutuhan gaya hidup modern dalam satu ekosistem.

Di tengah dinamika nilai tukar dan tekanan jangka pendek yang masih dirasakan pasar, Tatang menilai minat terhadap properti tetap bertahan. Ia melihat permintaan terhadap kawasan terpadu modern masih tumbuh, dan Surabaya dinilai punya ruang besar untuk menjadi lokasi yang relevan bagi model pengembangan seperti itu.

Dengan posisi itu, Urbanova dipandang sebagai proyek yang mencoba menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni ruang tinggal yang terintegrasi dan lingkungan yang mendukung aktivitas pendidikan. Kombinasi tersebut membuat pengembangannya berbeda dari kawasan hunian biasa.

Di saat pasar masih menghadapi tekanan eksternal, narasi yang dibawa proyek ini adalah bahwa permintaan terhadap kawasan terpadu tetap punya tempat. Surabaya pun kembali ditempatkan sebagai kota yang berpeluang melahirkan pusat pertumbuhan baru dengan karakter yang lebih modern dan terhubung.