Hukum & Kriminal

Mural hingga Topo Bisu, Suara Suporter PSIM untuk Kembali ke Mandala Krida Yogyakarta

×

Mural hingga Topo Bisu, Suara Suporter PSIM untuk Kembali ke Mandala Krida Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
Mural hingga Topo Bisu, Suara Suporter demi PSIM Kembali ke Mandala Krida Yogyakarta Regional 17 Juni 2026
Ilustrasi: Mural hingga Topo Bisu, Suara Suporter demi PSIM Kembali ke Mandala Krida Yogyakarta

jurnalistik.co.id – Yogyakarta, Selasa (16/6/2026) malam, para pendukung PSIM Yogyakarta menggelar topo bisu dengan berjalan mengelilingi Stadion Mandala Krida pada malam 1 Suro. Aksi itu menjadi cara mereka menyampaikan aspirasi agar PSIM bisa kembali berlaga di Mandala Krida.

Menurut rencana, para suporter berkumpul di Wisma PSIM yang lokasinya tidak jauh dari Mandala Krida. Bertepatan dengan malam 1 Suro, mereka kemudian melaksanakan topo bisu dengan berjalan keliling stadion.

Penggagas aksi topo bisu, Andre Miliran, menjelaskan bahwa topo bisu dimaknai sebagai bentuk penyampaian aspirasi melalui jalan budaya. Ia menekankan bahwa topo bisu berarti diam, tetapi bukan berarti menyerah.

“Apalagi di malam bulan Suro ini, ini adalah momen yang paling tepat agar Yang Di Atas mendengarkan doa kita dan PSIM segera dapat main di Mandala Krida,” kata Andre. Pernyataan itu disampaikan sebagai penegasan harapan para pendukung agar tim kebanggaan Kota Gudeg dapat kembali menggunakan Mandala Krida sebagai arena pertandingan.

Andre juga menambahkan keyakinan bahwa keinginan untuk kembali bukan sekadar tuntutan, melainkan bagian dari ikatan emosional suporter. Ia mengatakan: “Kita sebagai pendukung merasakan ingin bisa kembali ke Mandala Krida, karena Mandala Krida adalah ‘nyawa’ kita dan Mandala Krida harus bisa kita jadikan home base . Karena di Mandala Krida kita dilahirkan dan dirawat, dibesarkan di Mandala Krida,”.

Selain sebagai momentum doa, topo bisu menurut Andre bertujuan agar para suporter mawas diri. Ia menyebut aksi ini juga dimaksudkan supaya pendukung terhindar dari stigma negatif masyarakat.

Gerakan aspirasi PSIM tidak berhenti pada topo bisu. Sebelumnya, para suporter juga bersuara melalui mural dan pamflet yang dipasang di berbagai titik.

Salah satu mural yang dipasang menampilkan tulisan “Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida ” dan disebut menjamur di sudut-sudut Kota Yogyakarta. Mural tersebut menjadi penanda bahwa isu yang mereka soroti terkait dengan kondisi stadion dan proses hukum yang pernah mencuat.

Kasus korupsi Mandala Krida mencuat sekitar 2022 silam dan menyeret 3 orang tersangka. Imbas dari perkara tersebut, Stadion Mandala Krida lalu dijadikan sebagai barang bukti oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sehingga tidak bisa dilakukan renovasi untuk memenuhi standar Liga 1 pada musim lalu.

Akibatnya, Mandala Krida terpaksa tidak dapat digunakan sebagai kandang PSIM pada Liga 1 2026/2027. Tim pun harus memindahkan home base ke Stadion Sultan Agung yang berada di Kabupaten Bantul.

Dalam rangkaian itulah, topo bisu dilakukan sebagai bentuk kesinambungan dari langkah-langkah yang telah disuarakan sebelumnya. Para suporter berupaya agar pesan mereka sampai, sekaligus menjaga tata cara aksi tetap berada dalam koridor budaya dan doa.

Andre menyatakan bahwa bagi pendukung, Mandala Krida bukan hanya fasilitas pertandingan, melainkan ruang tempat mereka dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan. Karena itu, mereka berharap Mandala Krida dapat kembali menjadi rumah PSIM, sesuai harapan yang mereka sampaikan melalui aksi topo bisu malam 1 Suro.

Dengan berjalan dalam suasana hening, para peserta menegaskan agar fokus utama tetap pada doa dan penyampaian aspirasi. Aksi itu juga menjadi pengingat bagi suporter untuk menjaga sikap, agar dukungan tidak berubah menjadi hal yang memicu penilaian negatif dari masyarakat.

Dalam pelaksanaan malam itu, para peserta bergerak mengelilingi Stadion Mandala Krida dengan langkah yang dijaga tetap tertib. Hening yang menyertai topo bisu dimaksudkan agar pesan yang ingin disampaikan tidak bercampur dengan keributan, sehingga dorongan untuk berdoa dan menyuarakan harapan bisa diterima sebagai aspirasi yang beretika.

Para pendukung juga menegaskan bahwa rangkaian aksi sebelumnya—mulai dari mural hingga pamflet—dan topo bisu pada malam 1 Suro merupakan satu kesatuan komunikasi. Lewat cara yang masih berada dalam koridor budaya, mereka berharap perhatian publik tidak hanya tertuju pada stadion sebagai lokasi pertandingan, tetapi juga pada proses yang membuat Mandala Krida sempat sulit dimanfaatkan sebagai kandang pada kompetisi musim berikutnya.

Dengan kondisi PSIM yang harus menggunakan Stadion Sultan Agung sebagai tempat sementara, para suporter memaknai topo bisu sebagai penguatan sikap untuk menjaga harapan tetap berada di jalur yang pantas. Mereka ingin Mandala Krida kembali menjadi home base tim kebanggaan Yogyakarta, sejalan dengan doa yang dipanjatkan malam itu.