Olahraga

GP Italia: Hamilton Nilai Mesin Ferrari yang Diperbarui “Step Forward but Not Whole Amount We Need”

×

GP Italia: Hamilton Nilai Mesin Ferrari yang Diperbarui “Step Forward but Not Whole Amount We Need”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Italian Grand Prix: Lewis Hamilton says upgraded Ferrari engine 'step forward but not whole amount we need'

jurnalistik.co.id – Lewis Hamilton menilai peningkatan pada mesin Ferrari untuk GP Italia di Monza akhir pekan ini sebagai langkah penting, meski belum menjanjikan hasil maksimal yang mereka harapkan.

“step forward but not the whole amount we need” adalah kalimat yang dipakainya untuk menggambarkan posisi upgrade terbaru tersebut: kemajuan, namun belum menuntaskan kebutuhan performa seluruh paket.

Upgrade Ferrari di Monza: keuntungan di tikungan, pekerjaan rumah di lintasan lurus

Ferrari memanfaatkan status GP kandang mereka untuk menghadirkan upgrade tahap kedua dari dua pembaruan mesin yang diperbolehkan sepanjang musim ini.

Menurut Hamilton, kendati Ferrari terlihat paling tajam saat menikung dengan tingkat keseimbangan yang kuat, performa mereka di bagian lurus masih tertinggal dibanding tim teratas.

Dia menegaskan bahwa celah itu sudah berulang sejak awal musim hingga balapan sebelumnya, termasuk “even last race”.

Hamilton menjelaskan, mereka “were losing 0.4secs a lap (on the straights)” dan kekurangan tersebut “carried that deficit”.

Dengan adanya paket yang baru, Hamilton menempatkan ekspektasinya secara realistis: peningkatan ini “It is a step forward”, namun tim tetap sadar bahwa target besar mereka belum sepenuhnya tercapai.

Meski begitu, dia menyatakan keyakinan bahwa Ferrari punya kapasitas untuk meraih kemenangan, sejalan dengan kebutuhan akhir pekan.

Hamilton menegaskan, “I strongly believe we have what it takes to win.”

Dalam konteks klasemen, Hamilton kini berada sejajar poin dengan George Russell, sementara keduanya tertinggal 59 poin dari pimpinan kejuaraan, Kimi Antonelli.

Di musim ini, baik Hamilton maupun rekan setimnya, Charles Leclerc, sama-sama sudah meraih satu kemenangan.

Untuk menang, Hamilton menekankan alur sejak awal dan tekanan yang datang dari tifosi

Menjelang balapan, Hamilton menyebut kemenangan tidak mungkin datang hanya dari satu aspek, melainkan dari konsistensi kolektif sepanjang akhir pekan.

Ia mengatakan “the whole collective has to come together” dan seluruh proses harus “flow from the beginning”.

Bagi Hamilton, sebuah kemenangan di Monza akan membawa momen yang istimewa karena itu akan menjadi kemenangan pertama baginya bersama Ferrari di sirkuit tersebut.

Dia menggambarkan skenario itu sebagai “new territory”, yang menurutnya akan terasa “phenomenal”.

Hamilton juga menyinggung bahwa tekanan terasa tinggi, terutama karena race ini digelar di depan dukungan fans yang besar.

Ia menyebut “You want to do it for the team” dan menekankan bahwa tifosi datang “in huge numbers” dengan gairah yang menurutnya “unmatched”.

Ia bahkan mengaitkan suasana tersebut dengan kehadiran ibunya di Monza.

Hamilton mengatakan ibunya “I don’t think she’s been to Monza, and certainly not (while I was) with Ferrari” dan dia berharap ada “lucky dust” yang ikut membawa keberuntungan.

Mesin baru dan penalti grid Antonelli: peluang finis atas yang jadi target

Harapan Ferrari untuk hasil lebih baik di kandang mereka juga dipicu oleh kondisi grid Antonelli.

Hamilton menjelaskan bahwa Antonelli akan menerima penalti grid karena melampaui batas komponen mesin yang diizinkan, sehingga besar kemungkinan dia memulai dari posisi belakang.

Hamilton menyebut ada “big gap between the top teams and the rest”, namun meyakini Antonelli tetap bisa bergerak menembus rombongan dengan “power he has” dan performa yang dimilikinya.

Ia menyatakan, “he should slide through that pack pretty easy” dan menganggap hal itu salah satu alasan tim memilih GP Italia sebagai momen yang tepat.

Terkait sasaran akhir, Hamilton menilai hasil seperti finis “eighth or sixth” bisa relatif mudah untuk dikejar, sehingga fokus mereka adalah memaksimalkan seluruh akhir pekan.

Ia menambahkan bahwa tim perlu “focus on maximising our weekend” lalu mencoba mengubah energi dari tifosi menjadi dorongan agar Ferrari bisa bergerak ke posisi terdepan.

Hamilton turut mengulas bahwa penalti grid Antonelli pada akhirnya “was inevitable at some point” setelah masalah keandalan di awal musim memaksa tim melampaui jatah empat mesin untuk satu musim.

Keputusan menggunakan momen akhir pekan ini juga didasari perhitungan strategi, terutama karena sirkuit Monza didominasi lintasan lurus yang membuat dampak mesin baru terasa lebih signifikan.

Di sisi yang sama, Ferrari juga mengelola kumpulan mesin mereka agar tetap kompetitif hingga sisa musim.

Russell, rekan setim Antonelli, disebut juga akan menghadapi penalti mesin, kemungkinan besar pada GP Azerbaijan dua balapan lagi.

Antonelli: memulai dari belakang, tapi melihatnya sebagai pelepas tekanan

Antonelli sendiri menyampaikan pandangannya menjelang balapan meski harus memulai dari belakang.

Ia menyatakan “I am very much looking forward to this weekend despite starting from the back” dan berharap kondisi itu membuatnya “enjoy it more than I did previously”.

Antonelli juga menilai bahwa situasi ini bisa membantu menurunkan tekanan, meski dia tetap lebih ingin bertarung untuk pole dan memulai dari depan.

Ia mengatakan, “In some ways it helps to release pressure, although I would very much rather fight for pole and start at the front.”

Menurutnya, Monza bisa menjadi lintasan yang baik, namun tetap perlu memperhitungkan potensi rival.

Antonelli menambahkan, “I think this track can be very good for us but we have to take into account that McLaren, Ferrari, even Red Bull can be good this weekend.”

Ferrari F40 pilihan Hamilton: “dream car” dan angka 44 yang dianggap sebagai pertanda

Di Monza, Hamilton tiba pada hari media pada Kamis dengan membawa Ferrari F40 barunya.

Ia menggambarkan mobil klasik era 1980-an itu sebagai “a dream car of mine”.

Hamilton menjelaskan alasan dia memilih model tersebut, termasuk arti emosional yang dia temukan dari detail kecil terkait nomor balapnya.

Ia menyebut, saat mempertimbangkan unit yang dimilikinya, dia mencari yang berkilau dengan “low mileage and a story behind it”.

Dia mengatakan banyak pilihan muncul di lelang, tetapi tidak terasa istimewa, bahkan ada yang dicat ulang.

Hamilton ingin mendapatkan “the most authentic one” dan menceritakan bahwa mobil yang ia ambil pernah dibeli seseorang yang kemudian mengemudikannya 69 km dari Maranello ke rumahnya sebelum diparkir dan tidak dikendarai lagi.

Keputusan untuk merawatnya, menurut Hamilton, sempat terbagi antara mempertahankannya sebagai “an art piece, all dusty” atau membersihkannya agar rapi.

Ia menilai keputusan itu butuh waktu, dan meski dia tak yakin sepenuhnya, dia merasa tak ada pembalap Ferrari dalam sejarah yang tiba dengan mobil yang ia sebut “the coolest car in history”.

Yang membuatnya semakin yakin, menurutnya, terjadi saat mobil dibongkar: “it has 44 stamped on the engine”.

Ia pun mengatakan, “I couldn’t believe it. So it feels very much fate.”

Hamilton memilih mengendarai mobil itu ke lintasan karena ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menonjolkan sejarah Ferrari di negara mereka sendiri.

Ia menyebut hal tersebut sebagai bagian dari cara menghargai balapan sekaligus membawa nuansa historis yang lebih dekat pada identitas Ferrari di Monza.