Olahraga

Xabi Alonso bertemu kembali Luis Garcia, mantan rekan Liverpool, jelang pramusim Chelsea

×

Xabi Alonso bertemu kembali Luis Garcia, mantan rekan Liverpool, jelang pramusim Chelsea

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Chelsea: Xabi Alonso reunites with Liverpool team-mate Luis Garcia in pre-season

jurnalistik.co.id – Melalui rangkaian laga uji coba di Australia dan beberapa wilayah Asia, Chelsea akhirnya menutup tur pramusimnya di Johor, Malaysia. Pada leg terakhir itu, pelatih baru Xabi Alonso akan bertemu kembali dengan Luis Garcia, rekan setimnya di Liverpool pada masa lampau.

Garcia kini menjabat sebagai chief executive Johor Darul Ta’zim (JDT). Skuad The Blues akan disambut di Stadion Sultan Ibrahim yang berkapasitas sekitar 40.000 penonton pada hari Minggu, saat kedua pihak bertemu dalam laga yang sekaligus menjadi momen besar bagi JDT dan sepak bola Malaysia.

Perjalanan pertemanan dua orang asal Spanyol ini berakar pada 2004. Saat itu, baik Alonso maupun Garcia sama-sama menandatangani kontrak dengan Liverpool pada hari yang sama di era Rafael Benitez. Menurut Garcia, meski mereka tidak jarang bertemu di ekosistem sepak bola Spanyol setelahnya, momen pertemuan yang sesungguhnya baru terjadi pada hari di Anfield itu.

Garcia juga mengangkat pengalaman awal mereka ketika peluncuran resmi. Ia menceritakan bahwa sebelum konferensi pers perkenalan, Alonso sempat menyampaikan bahwa ia tidak terlalu lancar berbicara bahasa Inggris. Garcia kemudian menjawab pertanyaan pertama dengan bahasa Spanyol karena ada penerjemah, sementara Alonso merespons dengan bahasa Inggris yang sangat baik. Garcia menuturkan ia sempat berpikir, “Kenapa kamu begitu!”

Keduanya kemudian memulai perjalanan bersama di Liverpool, termasuk pada musim yang berujung pada kemenangan dramatis di final Liga Champions melawan AC Milan. Setelah itu, mereka juga sama-sama tampil untuk timnas Spanyol. Garcia menegaskan persahabatan mereka tetap terjaga hingga sekarang, dan komunikasi di luar lapangan tetap berjalan.

Namun, Garcia juga menilai tantangan yang menanti Alonso dalam uji coba pamungkas Chelsea tidaklah sederhana. Menurutnya, lawan yang dihadapi selama tur menjadi ukuran berat sebelum musim kompetisi berlangsung. Dalam tur tersebut, Chelsea berhadapan dengan tim-tim kuat, termasuk Tottenham, Juventus, dan AC Milan, sebelum akhirnya mendarat di Johor.

“Chelsea adalah ujian terbesar”

Garcia menyebut pertandingan melawan Chelsea sebagai “ujian terbesar” yang akan mereka hadapi pada musim itu. Ia mengaku sangat menantikan kesempatan bermain di Johor, karena stadion diprediksi akan penuh. Baginya, laga ini bukan sekadar kesempatan berjumpa mantan rekan setim, tetapi juga forum untuk mengukur diri melawan klub besar dan pemain-pemain berkelas.

Ia menyampaikan harapan agar JDT bisa berkompetisi dengan serius dan menantang kualitas lawan yang datang membawa filosofi baru. Garcia juga menegaskan, meski ia menyukai Alonso, ia berharap Chelsea pada musim berikutnya justru finis di belakang Liverpool.

Keyakinan Garcia itu berangkat dari performa JDT yang konsisten. Dalam persiapan yang mereka jalani, JDT sempat menjalani hasil berbeda saat menghadapi Rangers serta tim Spanyol dari divisi dua, Elche, sebelum kemudian meraih kemenangan atas Cartagena. Serangkaian pertandingan itu bagian dari kamp latihan di Alicante, yang menjadi tahap awal sebelum menguji kekuatan terhadap lawan-lawan dari luar negeri.

Di level domestik, JDT menahan diri untuk tidak kalah sejak tahun 2021. Mereka saat ini mencatat catatan tak terkalahkan 108 pertandingan, yang sekaligus menyamai rekor dunia yang berpeluang diperpanjang ketika musim di Malaysia kembali bergulir pada bulan Agustus. Garcia juga menyoroti bahwa capaian di benua Asia tidak lagi sekadar impian, karena pada musim terakhir mereka berhasil menembus perempat final AFC Champions League.

Garcia menilai momentum untuk memecahkan rekor menjadi salah satu daya tarik jelang laga pembuka musim. Ia menegaskan target tersebut bukan hanya bicara angka, tetapi juga tradisi kerja tim dalam menjaga konsistensi. Ia mengaitkan perjalanan JDT dengan kepemilikan dan arah strategi yang kuat, menyebut bahwa pemilik klub adalah Putra Mahkota dengan gelar Yang Mulia Ismail Tunku, yang menurutnya membawa klub melalui perjalanan menakjubkan.

Ia juga menyinggung bahwa infrastruktur JDT—mulai dari stadion hingga fasilitas latihan—menjadi bahan pembicaraan. Dalam ruang ganti, Garcia menyebut mereka kerap mengulang semboyan “langit tidak pernah menjadi batas”, yang menjadi semangat untuk terus meningkatkan standar.

Fasilitas latihan JDT, menurut Garcia, juga dibangun berdasarkan basis pelatihan Real Madrid yang dikenal dengan julukan “White House”. Selain infrastruktur, Garcia menekankan dukungan model pembinaan yang terstruktur. Setelah pensiun dari kariernya, ia memperluas kualifikasinya dengan meraih UEFA Pro Licence dan lisensi sporting director.

Meski demikian, urusan kepelatihan ia serahkan kepada kompatriotnya, Xisco Munoz. Di balik tim, ada pula pelatih-pelatih asal Spanyol yang mengisi staf pelatih. Garcia menyebut seluruh elemen tersebut terhubung dengan upaya menghadirkan standar terbaik bagi talenta di Malaysia, termasuk melalui program akademi.

Fokus pada akademi dan filosofi jangka panjang

Garcia mengatakan JDT ingin meningkatkan level sepak bola Malaysia dan membangun akademi yang benar-benar kuat. Mereka menghadirkan pelatih Spanyol ke akademi agar pekerjaan harian bisa sedekat mungkin dengan pendekatan profesional yang dianggap terbaik. Garcia juga mengaitkan pentingnya filosofi jangka panjang dengan keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia, yang menurutnya menunjukkan nilai program kepelatihan serta visi yang bertahan selama 25–30 tahun.

Ia menilai penampilan JDT di AFC Champions League menjadi pengantar yang penting, termasuk sebagai pengenalan awal bagi klub untuk mengikuti dinamika turnamen tersebut. Garcia menyebut bahwa saat menembus perempat final, mereka ingin lebih banyak tim Malaysia ikut tampil pada kompetisi yang sama. Untuk langkah berikutnya, targetnya adalah bersaing lebih serius di AFC Champions League.

Garcia juga memberi konteks tantangan yang mereka hadapi di tingkat Asia. Ia mengaku perbedaan anggaran sangat mencolok: tim-tim yang mereka temui memiliki dana yang dapat melewati 150 juta dolar, setara sekitar 111,2 juta poundsterling, sedangkan JDT berada pada kisaran 15 juta dolar. Baginya, gap itu menggambarkan adanya perbedaan besar dari sisi sumber daya.

Terlepas dari perbedaan tersebut, Garcia menyatakan JDT tetap berkomitmen untuk berkontribusi pada perkembangan sepak bola Malaysia agar mampu mencapai target lebih besar, yakni tampil di Piala Dunia suatu hari nanti. Di tengah tujuan itu, laga melawan Chelsea menjadi batu ujian yang signifikan sekaligus ajang pembuktian di depan pendukung tuan rumah—di saat Alonso bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Luis Garcia.