jurnalistik.co.id – Pemerintah Provinsi Gorontalo kembali menggelar pasar murah di halaman Masjid Al Iqra, Desa Talulobutu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan 500 paket komoditas kebutuhan pokok bagi masyarakat dengan harga bersubsidi.
Dalam pelaksanaan tersebut, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail ikut memberikan sambutan. Ia menyampaikan bahwa pasar murah merupakan tindak lanjut dari aspirasi masyarakat, sekaligus upaya memastikan kebutuhan pokok bisa diperoleh dengan harga yang lebih terjangkau.
Gusnar menegaskan, program ini didukung penuh oleh pihak setempat. “Hari ini kami penuhi untuk bikin pasar murah di sini, apalagi didukung sepenuhnya oleh ayahanda (kepala desa) yang ada di sini,” ujarnya.
Skema harga yang disediakan dalam pasar murah kali ini mencakup beberapa komoditas utama. Beras lima kilogram dijual Rp25.000, minyak goreng Rp10.000 per liter, serta cabai rawit Rp10.000 per 0,25 kilogram.
Selain itu, paket komoditas juga memuat bawang merah dengan harga Rp10.000 per 0,5 kilogram. Gula pasir dijual Rp10.000 per kilogram, telur Rp10.000 per 10 butir, dan ayam pedaging seharga Rp20.000 per ekor.
Total harga paket komoditas yang disediakan mencapai Rp95.000. Angka tersebut berasal dari harga normal Rp247.750, dengan subsidi Rp152.750 atau setara 62 persen.
Rangkaian Program dan Harapan Dampak Ekonomi
Gusnar juga menyampaikan bahwa pasar murah ini beriringan dengan momentum Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan yang dihadirkan di Gorontalo. Ia menyebut kehadiran PENAS menghadirkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Menurut Gusnar, momentum tersebut menjadi peluang bagi masyarakat sekaligus pelaku UMKM untuk meningkatkan pendapatan daerah. Aktivitas ekonomi yang meningkat diharapkan dapat memberi ruang lebih luas bagi pelaku usaha kecil selama kegiatan berlangsung.
Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen yang sedang berlangsung. Perputaran ekonomi diharapkan bergerak seiring banyaknya kunjungan ke wilayah Gorontalo.
“Apalagi untuk pengemudi bentor, silahkan ya, berkeliling-keliling, masuk di Limboto sana. Pasti Insya Allah dapat penumpang. Ini dibikin oleh pemerintah agar supaya kesempatan kita untuk mendapatkan pendapatan,” ungkap Gusnar.
Melalui rangkaian tersebut, pasar murah ditempatkan sebagai bagian dari dukungan pemerintah dalam menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok. Dengan harga bersubsidi, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan beban yang lebih ringan.
Pelaksanaan pasar murah di Talulobutu Selatan juga menunjukkan keterlibatan berbagai pihak dalam penyiapan kebutuhan untuk warga. Ketersediaan paket komoditas dengan rincian harga yang telah ditetapkan memberi kemudahan bagi penerima untuk memperoleh barang-barang kebutuhan pokok secara langsung di lokasi kegiatan.
Bagi masyarakat Bone Bolango, program ini menjadi salah satu wujud kehadiran pemerintah di tingkat daerah. Gusnar menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan adalah memastikan kebutuhan pokok dapat diperoleh dengan harga yang lebih terjangkau, sekaligus merespons aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Sementara itu, ketika PENAS berlangsung dan kunjungan meningkat, Gusnar menekankan agar peluang ekonomi yang muncul dapat dimanfaatkan secara maksimal, termasuk oleh pelaku usaha kecil. Dengan begitu, dampak kegiatan tidak hanya dirasakan dari sisi pemenuhan kebutuhan pokok, tetapi juga dari sisi aktivitas ekonomi selama periode penyelenggaraan.
Di lokasi kegiatan, pasar murah disiapkan dalam bentuk paket agar warga dapat memilih kebutuhan pokok secara langsung. Penetapan jumlah paket yang tersedia juga dimaksudkan supaya distribusi barang berjalan tertib dan masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan harga bersubsidi.
Gusnar menilai, keberadaan pasar murah tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan bersama dukungan program lain yang tengah digelar di Gorontalo. Saat momentum kunjungan ramai, transaksi di sekitar kegiatan diharapkan ikut meningkat, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi sekaligus membuka ruang usaha bagi pelaku UMKM.
Pihak penyelenggara juga menempatkan kegiatan ini sebagai sarana menjaga daya beli pada periode berlangsungnya acara. Dengan selisih harga yang cukup signifikan dibandingkan harga normal, masyarakat diharapkan bisa menekan pengeluaran harian tanpa mengurangi ketersediaan komoditas penting yang dibutuhkan.












