jurnalistik.co.id – Pertanyaan besar di Westminster saat ini bukan semata-mata siapa yang akan menjadi perdana menteri, melainkan siapa yang akan Andy Burnham tunjuk untuk pemerintahannya dan bagaimana ia akan menggunakan kekuasaan yang ia pegang.
Kendati ada dinamika politik, suksesi Burnham dinilai makin mendekati kepastian di kalangan anggota parlemen Partai Buruh. Sejak Sir Keir Starmer mengumumkan ia akan beralih dari posisinya, jalur menuju perubahan kepemimpinan itu menjadi “overwhelmingly likely”.
Dalam beberapa hari terakhir, hambatan yang tersisa juga disebut jatuh dengan cepat. Pada Rabu pagi, Darren Jones—seorang menteri senior—menegaskan bahwa ia tidak akan melancarkan tantangan.
Al Carns, mantan Menteri Angkatan Bersenjata, mengaku belum menutup kemungkinan mencalonkan diri, tetapi peluangnya tetap dipandang sangat kecil. Untuk memulai kontes pemilihan yang benar-benar formal, diperlukan dukungan 81 anggota parlemen Buruh, angka yang dianggap sulit ia capai.
Tim inti Burnham dan posisi yang akan diperebutkan
Seiring semakin dekatnya proses tersebut, fokus bergeser ke seperti apa operasi Downing Street di bawah Burnham—terutama pada kebijakan dan prioritasnya yang masih menjadi tanda tanya.
Bukti awal yang mulai terungkap justru datang lewat susunan tim terdekat. Rachel Reeves disebut tidak akan menjadi kanselir.
Keputusan itu mungkin tidak mengejutkan bagi banyak orang karena Reeves selama dua tahun terakhir menjabat sebagai kanselir, sekaligus bertahun-tahun berada di kubu oposisi sambil menyusun pendekatan ekonomi Partai Buruh. Namun, bagi sejumlah pengamat, tetap ada bobot politik: Reeves kemungkinan akan ditawarkan posisi kabinet yang lebih junior.
Catatan lain yang ikut disebut adalah jarangnya kanselir bergerak turun dalam hierarki kabinet. Dengan pengecualian Nadhim Zahawi yang sempat menjabat beberapa pekan sebagai kanselir pada masa Boris Johnson, rujukan contoh terbesar justru mundur hingga 1983.
Di antara nama yang mencuat untuk menggantikan Reeves, Ed Miliband—sebagai menteri energi—dinilai luas sebagai kandidat terdepan. Ia pernah mendesak Sir Keir agar tidak menghalangi upaya Burnham kembali ke parlemen pada Januari, dan sejak itu tampak mendukung ambisi Burnham.
Ed Miliband: peluang, kekhawatiran, dan soal arah kebijakan
Para pendukung Miliband berargumen bahwa ia tipe kanselir yang dibutuhkan Burnham untuk mewujudkan ambisinya mengubah arah ekonomi Inggris. Mereka juga menyebut bahwa, terlepas dari penilaian anggota parlemen terhadap agenda—terutama pada green transition—Miliband menunjukkan kemampuan yang tidak biasa dalam mendorong mesin pemerintahan selama dua tahun terakhir.
Pengalaman keuangan di tingkat negara juga dijadikan poin: Miliband disebut memiliki pengalaman bertahun-tahun di Treasury, termasuk ketika memberi nasihat kepada Gordon Brown.
Namun, tidak sedikit anggota parlemen Buruh—khususnya yang berada di sayap kanan partai—menolak gagasan tersebut. Sebagian penolakan dinilai menyisakan rasa tidak nyaman yang berakar dari masa Miliband menjadi pemimpin.
Alasan yang lebih besar disebut berkaitan dengan kebijakan. Sejumlah anggota parlemen menilai Miliband akan mewakili pergeseran terlalu jauh ke kiri. “I think the chancellor thing is a huge risk for Andy,” kata seorang anggota parlemen. “If Andy goes through with Ed it will divide the party from the start,” tambah anggota parlemen lainnya.
Wes Streeting, nama lain yang beredar, dan perhitungan politik
Sementara itu, Wes Streeting juga disebut masuk daftar pembicaraan. Dalam beberapa minggu terakhir, ia kerap mempromosikan kredensial ekonominya, termasuk gagasan visi “progressive capitalism”, dan sekutu-sekutunya disebut melobi agar ia memperoleh kunci menuju No 11.
Alasan yang mereka kemukakan adalah Streeting akan menjadi pilihan yang “sensible”, yang dapat menenangkan pasar keuangan. Mereka juga mengklaim kemampuan komunikasinya bisa membuat gagasan ekonomi besar bisa dijual secara lebih manusiawi.
Tetapi, risiko tetap dibicarakan. “Wes wants to be prime minister one day. Would Andy ever be able to trust that Wes would have his back when things are tough?” tanya seorang menteri, menyoroti keraguan soal loyalitas dan dukungan saat tekanan politik meningkat.
Selain Miliband dan Streeting, nama lain yang disebut beredar termasuk Yvette Cooper, yang menjabat sebagai menteri luar negeri. Ia memiliki latar yang mirip dengan Burnham: pernah menjadi chief secretary to the Treasury. Ada pula John Healey, mantan menteri pertahanan, tetapi menunjuknya akan menandai komitmen Burnham pada kenaikan besar belanja pertahanan.
Siapa pengatur Downing Street: James Purnell sebagai chief of staff
Satu area yang disebut sudah ada keputusan adalah siapa yang akan menjalankan Downing Street Burnham. Chief of staff yang disiapkan adalah James Purnell—seorang mantan menteri kebudayaan serta mantan menteri urusan pekerjaan dan pensiun.
Penunjukan Purnell juga disebut menarik dari sisi ideologi. Saat ia masih aktif dalam politik elektoral, Purnell dipandang sebagai Blairite yang berada di sisi kanan Partai Buruh. Ia juga disebut pernah mengundurkan diri dari pemerintahan Gordon Brown dalam upaya untuk menjatuhkan pemerintahan itu dan menggantikannya dengan David Miliband.
Namun kemungkinan yang sama kuat adalah bahwa pertimbangan yang digunakan lebih dominan pada ikatan personal ketimbang perbedaan nuansa ideologis.
Jejak hubungan keduanya disebut cukup rapat: Purnell dan Burnham berjarak tiga bulan usia. Mereka berdua pernah menjadi special advisers pada pemerintahan awal Sir Tony Blair, sebelum terpilih mewakili konstituensi Greater Manchester pada 2001.
Keduanya juga disebut berbagi ruang kerja ketika baru menjadi anggota parlemen, lalu sama-sama naik menjadi menteri kabinet pada 2007. Mereka bahkan dikisahkan bermain dalam tim sepak bola New Labour yang sama, “Demon Eyes”.
Sejak meninggalkan politik pada 2010, Purnell bekerja pada berbagai peran, termasuk tujuh tahun sebagai senior executive di BBC.
Karena suksesi Burnham dipandang semakin tak terelakkan dan persiapan pemerintahannya makin maju, spekulasi tentang siapa mengisi jabatan-jabatan besar diperkirakan akan terus berkembang—seiring juga pertanyaan dari anggota parlemen Buruh tentang apa yang pengangkatan itu nyatakan tentang arah “Burnhamism”.












