jurnalistik.co.id – Bronze Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Inggris dan Prancis dalam laga perebutan peringkat ketiga—sebuah pertandingan yang sudah dimainkan setiap edisi Piala Dunia selama lebih dari tujuh dekade.
Kompetisi ini, yang oleh FIFA dikenal sebagai “Bronze Final”, hadir sebagai bagian dari rutinitas Piala Dunia: pertama kali diperkenalkan pada 1934, lalu menjadi agenda yang berulang mulai 1954. Pada Sabtu, giliran Inggris dan Prancis untuk menjalani laga yang tidak selalu diinginkan tim yang tersisa di bawah.
Suasana di kubu Prancis bahkan sudah dirangkum jelas oleh pelatih kepala Didier Deschamps sebelum pertandingan di Miami. Ia menyampaikan bahwa “The best for France and England would be for this match not to exist.”
Sikap yang senada juga muncul dari manajer Inggris, Thomas Tuchel, setelah kekalahan mereka dari Argentina di Atlanta pada Rabu malam. Setelah itu, Tuchel mengatakan, “None of our players and none of the French players want to play this match.”
Namun, menjelang pertandingan, Tuchel menilai peluang meraih perunggu sebagai sesuatu yang bisa memberi makna. Ia menyatakan, “If we win the game tomorrow, we have the best results of a World Cup in 60 years. It’s a perspective to it.”
Menurut catatan dalam liputan pertandingan, laga ini juga membuka momen bagi pemain yang sebelumnya kesulitan mendapatkan menit bermain atau yang belum tampil selama turnamen berlangsung. Di sisi Inggris, pertandingan ini bisa dimanfaatkan untuk memberi kesempatan seperti pengenalan James Trafford ke suasana sepak bola Piala Dunia atau memberi Kobbie Mainoo menit pertamanya mengenakan kostum Inggris.
Untuk Prancis, bek Ibrahima Konate disebut sudah tampil 14 menit pada pertandingan fase grup ketiga melawan Norwegia yang mengalami rotasi besar. Konate sendiri tidak menyukai prospek menjalani laga perebutan peringkat ketiga. Ia berkata, “Not one of us want to play this game for third place,” sebelum menambahkan, “But we don’t have the choice.”
Secara historis, Inggris pernah dua kali berlaga di perebutan peringkat ketiga sejak 1966. Mereka kalah dari tuan rumah Italia pada 1990, serta kalah dari Belgia pada 2018 di Rusia. Sementara itu, Kroasia justru menerima pertandingan ini sejak 2022—meski sebelumnya pada 2018 mereka melaju hingga laga final dan menjadi runner-up di belakang Prancis.
Pelatih kepala Maroko Walid Regragui pernah menyebut perebutan peringkat ketiga sebagai “booby prize”. Pernyataan itu menguat ketika Kroasia memenangi pertandingan 2-1 atas Maroko pada 2022. Manajer Kroasia Zlatko Dalic menilai kemenangan tersebut penting bagi tim dan negara. Ia mengatakan, “We won the bronze medal and it has a golden layer,” lalu melanjutkan, “It is like we have won the gold medal tonight.”
Dalam laga tersebut, pencetak gol Kroasia Mislav Orsic menggambarkan golnya sebagai yang paling penting dalam kariernya. Namun pertanyaan yang terus muncul adalah apakah perebutan peringkat ketiga tetap perlu dipertahankan setelah Piala Dunia mencetak rekor pertandingan yang dimainkan—turnamen ini akan menjadi yang ke-103 dari total 104 pertandingan.
Mengapa FIFA tetap menggelar laga peringkat ketiga?
Berita Terkait
FIFA tidak mempublikasikan pembelaan panjang soal keberadaan laga ini. Meski demikian, alasan yang umumnya disebut dalam konteks turnamen berkisar pada sejumlah dampak. Salah satunya, pertandingan ini menentukan siapa yang menerima medali perunggu dan siapa yang berstatus resmi sebagai peringkat keempat.
Selain itu, hasilnya memengaruhi peringkat akhir yang tercatat secara resmi, jejak dalam catatan sejarah, serta statistik pemain. Ada pula perbedaan hadiah uang antara posisi ketiga dan keempat, yang disebut sekitar $2m (hampir £1.5m).
Fungsi lain yang sering dikemukakan adalah tersedianya satu pertandingan tambahan bagi penonton, penyiar, dan mitra komersial. Meski begitu, turnamen juga disebut sudah melebar dari 64 menjadi 104 pertandingan pada musim panas ini.
Apakah ada nilai olahraga dari Bronze Final?
Dalam aspek “nilai olahraga”, liputan menyebut bahwa laga ini telah melahirkan beberapa pemenang Golden Boot Piala Dunia. Dari tujuh pemain yang mencetak gol pada perebutan peringkat ketiga, empat di antaranya membutuhkan gol yang mereka buat di laga tersebut untuk memastikan gelar.
Nama-nama itu adalah Thomas Muller (2010), Davor Suker (1998), Salvatore Schillaci (1990), dan Leonidas dari Brasil (1938). Ada pula Grzegorz Lato dari Polandia (1974), Eusebio (1966), dan Just Fontaine (1958) yang juga memenangi penghargaan serta mencetak gol pada perebutan peringkat ketiga.
Harry Kane, yang menjadi Golden Boot turnamen pada 2018, memulai perebutan peringkat ketiga Inggris melawan Belgia, tetapi tidak mencetak gol pada pertandingan itu. Meski demikian, tren gol di laga peringkat ketiga cenderung kuat: perlu menelusuri 52 tahun ke belakang untuk menemukan laga yang tidak menghasilkan setidaknya dua gol, dan 11 dari 12 pertandingan sejak 1974 mencetak lebih dari tiga gol.
Sementara itu, kritik terhadap pertandingan ini pernah disuarakan Louis van Gaal ketika Belanda menjalani perebutan peringkat ketiga. Sebelum mengalahkan Brasil 3-0 pada 2014, ia menilai pertandingan tersebut tidak adil. Van Gaal mengatakan, “This match should never be played. I’ve been saying that for 10 years; it’s unfair.”
Ia menambahkan bahwa laga itu berlangsung beberapa hari setelah Belanda tersingkir dalam semifinal lewat adu penalti melawan Argentina, dan setelah Brasil mengalami kekalahan memalukan 7-1 dari Jerman di kandang sendiri. Van Gaal melanjutkan, “The worst thing is that there is a chance you are going to lose twice in a row.” Ia menutup dengan, “And in a tournament in which you have played so marvellously well you go home as a loser.”
Sebelum penampilan Inggris terakhir di perebutan peringkat ketiga, Gareth Southgate juga pernah menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan, “The honest thing is it’s not a game any team wants to play in.”
Meskipun begitu, tidak ada indikasi bahwa laga ini akan segera dihapus. Ikatan yang dihasilkan dari pertandingan memberikan FIFA urutan penyelesaian yang tegas, dan kemenangan medali perunggu bisa sangat berarti bagi negara-negara yang jarang mencapai tahap tersebut.
Pertanyaan berikutnya kini bergeser pada keberlanjutan format dalam edisi mendatang. Laga ini akan diuji ketika Piala Dunia dengan 64 tim digelar, yang disebut akan menghasilkan 128 pertandingan selama enam minggu.












