Bisnis & Ekonomi

Produksi Beras Naik Tipis, Panen Padi April 2026 Turun 15 Persen

0
×

Produksi Beras Naik Tipis, Panen Padi April 2026 Turun 15 Persen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Produksi Beras Naik, Tapi Panen Padi April 2026 Turun 15 Persen

jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produksi beras nasional selama Januari-April 2026 mencapai 14,03 juta ton. Angka itu naik tipis 0,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring dengan kenaikan produksi padi yang tercatat 24,36 juta ton gabah kering giling (GKG) atau tumbuh 0,12 persen secara tahunan.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, capaian kumulatif itu belum sepenuhnya tercermin pada kinerja April 2026. Pada bulan tersebut, luas panen padi justru turun cukup tajam dibandingkan April 2025.

“Realisasi luas panen padi pada April 2026 tercatat 1,40 juta hektar atau turun 15,47 persen dibanding April 2025,” kata Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

Penurunan luas panen itu ikut menekan hasil produksi pada April 2026. Produksi padi pada bulan tersebut tercatat 7,63 juta ton GKG, lebih rendah dibandingkan 9,09 juta ton GKG pada April 2025.

Dengan kondisi tersebut, produksi beras April 2026 berada di kisaran 4,40 juta ton. Angka itu turun 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski secara kumulatif produksi beras nasional selama empat bulan pertama 2026 masih menunjukkan pertumbuhan tipis.

Tekanan produksi pada April, tetapi kumulatif tetap naik

Secara kumulatif, luas panen padi selama Januari-April 2026 mencapai 4,51 juta hektar. BPS mencatat angka itu naik 0,43 persen dibandingkan Januari-April 2025, menandakan bahwa pencapaian empat bulan pertama tahun ini masih berada di atas periode yang sama tahun lalu meskipun April menunjukkan pelemahan.

BPS juga memproyeksikan bahwa tiga bulan berikutnya masih akan diwarnai tekanan pada sektor padi. Potensi luas panen padi pada Mei-Juli 2026 diperkirakan mencapai 2,69 juta hektar, turun 0,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan itu, potensi produksi padi pada periode Mei-Juli 2026 diperkirakan sebesar 13,75 juta ton GKG atau turun 1,14 persen. Adapun potensi produksi beras diperkirakan mencapai 7,92 juta ton, turun 1,16 persen.

Jagung naik tipis pada April

Selain padi, BPS juga melaporkan perkembangan produksi jagung nasional. Pada April 2026, luas panen jagung mencapai 0,24 juta hektar atau meningkat 4,90 persen dibandingkan April tahun lalu.

Kenaikan luas panen itu mendorong produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) menjadi 1,38 juta ton. Angka tersebut naik 8,15 persen secara tahunan.

Secara kumulatif, produksi jagung sepanjang Januari-April 2026 mencapai 6,02 juta ton. Meski meningkat, kenaikannya sangat tipis, yakni hanya 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Untuk periode Mei-Juli 2026, BPS memperkirakan luas panen jagung mencapai 0,65 juta hektar atau turun 4,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi jagung pada periode itu diperkirakan ikut turun 7,02 persen menjadi 3,74 juta ton.

Dengan demikian, data BPS menunjukkan produksi beras nasional sepanjang awal 2026 masih bertahan di zona positif secara kumulatif, tetapi kinerja bulanan pada April memberi sinyal penurunan yang cukup besar pada luas panen dan output padi. Di sisi lain, jagung mencatat pertumbuhan tahunan pada April, meski proyeksi tiga bulan berikutnya juga menunjukkan pelemahan.

Jika dirinci, pola tersebut memperlihatkan bahwa penopang utama kinerja awal tahun masih datang dari capaian kumulatif pada bulan-bulan sebelumnya, sementara pelemahan di April menjadi pengingat bahwa laju produksi belum sepenuhnya stabil. Kondisi itu membuat angka total Januari-April tetap berada di atas tahun lalu, tetapi ruang pertumbuhannya tampak semakin sempit ketika memasuki pertengahan kuartal kedua.

Dengan proyeksi Mei-Juli yang juga cenderung melemah, perkembangan sektor pangan pada 2026 tampak bergerak lebih hati-hati. Bagi pembaca data BPS, situasi ini menunjukkan bahwa peningkatan yang tipis pada beras dan jagung belum cukup kuat untuk menghapus tekanan musiman pada luas panen dan hasil produksi, sehingga kinerja beberapa bulan ke depan masih perlu dicermati secara berkelanjutan.