jurnalistik.co.id – Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih belum memberi kepastian soal nasib Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama. Purbaya mengatakan dirinya masih harus menunggu perintah lebih lanjut sebelum mengambil keputusan terkait posisi Djaka, yang namanya ikut terseret dalam kasus dugaan korupsi importasi barang di Ditjen Bea Cukai.
“Kita masih tunggu perintah lebih lanjut,” ujar Purbaya kepada awak media, Rabu (27/5/2026).
Sebelumnya, Purbaya sempat menyampaikan bahwa ia akan menunggu perkembangan hingga pekan ini untuk menentukan nasib Djaka. Pernyataan itu muncul di tengah sorotan publik atas keterkaitan nama Djaka dalam perkara yang tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK.
Dalam perkara tersebut, KPK mengungkap bahwa Djaka menerima suap Sin$213.600 atau setara Rp2,94 miliar. Nilai rupiah itu dihitung menggunakan kurs hari ini sebesar Rp13.805,46 per dolar Singapura. Uang itu disebut berasal dari Bos Blueray Cargo, John Field, yang berstatus terdakwa dalam kasus dugaan korupsi importasi barang di Ditjen Bea Cukai.
Keterangannya muncul setelah nama Djaka disebut dalam rangkaian persidangan. Dalam sidang, jaksa menjelaskan sosok penerima amplop cokelat berkode 1-DIR yang diserahkan kepada Orlando oleh John Field dan seorang wanita bernama Sri Pangastuti pada Agustus 2025.
Perkembangan ini membuat posisi Djaka kembali menjadi perhatian. Di sisi lain, Purbaya belum membuka langkah lanjutan yang akan diambil pemerintah terkait jabatan Dirjen Bea dan Cukai tersebut. Ia memilih menunggu arahan lebih jauh sebelum menentukan sikap.
Isu ini juga memunculkan berbagai spekulasi di tengah publik, mengingat kasus dugaan korupsi importasi barang di Ditjen Bea Cukai terus menyeret nama-nama baru. Namun, sejauh ini Purbaya hanya menegaskan bahwa keputusan belum akan diambil sebelum ada perintah lanjutan.
Di hari yang sama, Purbaya memang menjadi sorotan dalam sejumlah agenda dan pernyataan lain. Meski begitu, penegasannya soal Djaka tetap menjadi salah satu perhatian utama, terutama karena menyangkut struktur kepemimpinan di lingkungan Kementerian Keuangan.
Dalam konteks tersebut, pernyataan Purbaya menunjukkan bahwa pemerintah belum mengambil langkah final. Selama belum ada arahan lebih lanjut, nasib Djaka Budhi Utama masih menunggu kepastian.
Nama Djaka menjadi pusat perhatian setelah KPK mengungkap temuan terkait suap yang diduga diterima dalam perkara importasi barang. Dengan nilai yang disebut mencapai Sin$213.600 atau sekitar Rp2,94 miliar, kasus ini menambah tekanan terhadap penanganan perkara di Ditjen Bea Cukai.
Sementara itu, keterangan jaksa dalam sidang mengenai amplop cokelat berkode 1-DIR menjadi bagian lain yang ikut memperjelas alur perkara. Jaksa menyebut amplop itu diserahkan kepada Orlando oleh John Field bersama Sri Pangastuti pada Agustus 2025.
Meski demikian, Purbaya belum memberikan detail tambahan mengenai tindakan administratif maupun keputusan internal yang mungkin diambil. Ia hanya menegaskan bahwa dirinya masih menunggu perintah lebih lanjut.
Situasi ini membuat publik menanti apakah pekan ini akan ada kejelasan atas jabatan Djaka Budhi Utama. Untuk saat ini, pernyataan Purbaya menandakan bahwa proses penentuan nasib Dirjen Bea dan Cukai tersebut belum selesai.
Kasus dugaan korupsi importasi barang di Ditjen Bea Cukai sendiri masih terus menjadi perhatian karena melibatkan sejumlah nama dan keterangan dalam sidang. Nama Djaka yang ikut disebut membuat langkah pemerintah berikutnya dinanti, terutama setelah KPK memaparkan adanya aliran suap dengan nominal yang disebut dalam mata uang dolar Singapura.
Dengan kondisi tersebut, pernyataan singkat Purbaya pada Rabu (27/5/2026) menjadi penanda bahwa keputusan belum diambil. Hingga saat ini, ia masih memilih menunggu perintah lebih lanjut sebelum menentukan apakah Djaka Budhi Utama tetap bertahan atau akan terkena dampak dari perkara yang menyeret namanya.












