jurnalistik.co.id – Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.789 per dolar AS pada penutupan perdagangan kemarin. Posisi itu menandai level terlemah rupiah sepanjang masa.
Purbaya menilai pelemahan tersebut tidak sepenuhnya masuk akal jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Menurut dia, pelemahan mata uang biasanya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi, bukan ketika fondasi ekonomi sedang berada dalam kondisi baik.
“Kan ekonominya bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Sebetulnya tidak masuk akal, biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” ujar Purbaya kepada awak media, Rabu (27/5/2026).
Ia menambahkan, meski rupiah bergerak melemah, kondisi imbal hasil atau yield di pasar obligasi tetap terkendali. Purbaya menilai hal itu menjadi salah satu tanda bahwa minat investor asing terhadap pasar obligasi masih ada dan belum hilang.
Menurut Purbaya, kestabilan yield tersebut tidak lepas dari intervensi pemerintah di pasar obligasi. Pemerintah, kata dia, menargetkan langkah masuk ke pasar obligasi sebesar Rp2 triliun per hari.
Dengan adanya langkah itu, Purbaya menilai tekanan di pasar obligasi dapat dijaga agar tidak bergerak liar. Ia menekankan bahwa minat investor asing untuk tetap menempatkan dana di instrumen obligasi masih terlihat, meski nilai tukar rupiah tengah berada di bawah tekanan.
Pelemahan rupiah ke level Rp17.789 per dolar AS pada perdagangan kemarin juga menjadi sorotan karena terjadi di tengah penilaian pemerintah bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Kondisi ini, menurut Purbaya, berbeda dari pola umum ketika pelemahan mata uang kerap diikuti kekhawatiran atas gangguan ekonomi yang lebih luas.
Di sisi lain, perhatian pasar pada rupiah tidak berdiri sendiri. Pergerakan mata uang, yield obligasi, dan minat investor asing saling berkaitan dan menjadi bagian penting dari pembacaan pasar terhadap arah ekonomi domestik. Dalam konteks itulah Purbaya menekankan bahwa situasi saat ini belum mencerminkan tekanan fundamental yang seharusnya membuat rupiah melemah sedalam itu.
Meski begitu, Purbaya tidak merinci lebih jauh langkah tambahan yang akan diambil pemerintah untuk merespons pelemahan rupiah tersebut. Ia hanya menyoroti bahwa selama fundamental ekonomi tetap bagus dan pasar obligasi masih terjaga, kondisi seperti ini seharusnya tidak dipandang sebagai sinyal gangguan dasar pada ekonomi nasional.
Dalam penjelasannya, Purbaya menempatkan pelemahan rupiah sebagai sesuatu yang perlu dibaca dengan hati-hati, bukan langsung disimpulkan sebagai cermin rusaknya kondisi ekonomi. Ia menegaskan bahwa ketika fondasi ekonomi disebut masih kuat, pergerakan nilai tukar yang menurun tajam justru perlu dicermati dari sisi dinamika pasar, bukan semata-mata dari asumsi bahwa ada masalah besar pada struktur ekonomi.
Ia juga menyoroti bahwa kestabilan di pasar obligasi memberikan sinyal tersendiri. Selama imbal hasil tidak bergerak liar dan pemerintah masih aktif menjaga pergerakan pasar, menurut dia, ruang bagi gejolak yang lebih besar dapat ditekan. Dari sudut pandang itu, tekanan pada rupiah tidak otomatis berarti seluruh indikator keuangan sedang berada dalam kondisi serupa.
Karena itu, Purbaya membaca situasi rupiah dan obligasi sebagai dua sisi yang sama-sama penting untuk diperhatikan bersamaan. Ketika rupiah melemah namun yield masih terkendali, gambaran yang muncul adalah pasar yang sedang menghadapi tekanan tertentu, tetapi belum sampai menunjukkan gangguan fundamental yang luas. Bagi pemerintah, kondisi seperti ini tetap memerlukan pengawasan agar sentimen tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar.
Meski belum menjelaskan langkah lanjutan secara rinci, pernyataan Purbaya menunjukkan bahwa pemerintah memilih melihat pelemahan rupiah secara proporsional. Selama fondasi ekonomi dinilai tetap baik dan dukungan di pasar obligasi masih berjalan, pemerintah tampaknya ingin menekankan bahwa pelemahan yang terjadi tidak boleh dibaca secara berlebihan sebagai tanda runtuhnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.












