Bisnis & Ekonomi

Rupiah Melemah, IHSG Merosot Tajam pada Rabu (3/6) Siang

0
×

Rupiah Melemah, IHSG Merosot Tajam pada Rabu (3/6) Siang

Sebarkan artikel ini
Pelemahan Rupiah Salah Satu Sebab IHSG Merosot Tajam Rabu (3/6) Siang Money 3 Juni 2026
Ilustrasi: Pelemahan Rupiah Salah Satu Sebab IHSG Merosot Tajam Rabu (3/6) Siang

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan Rabu (3/6/2026) siang. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari pelemahan rupiah, menyusutnya surplus neraca perdagangan, hingga antisipasi pasar terhadap rebalancing indeks FTSE Russell yang segera berlaku.

Mengutip Bursa Efek Indonesia (BEI) via Stockbit, IHSG sempat dibuka hijau di level 6.195,42. Namun, seiring berjalan waktu, arah pergerakan indeks berbalik tajam. Pada pukul 11.41 WIB, IHSG merosot ke level 5.893,71, atau turun 299,31 poin setara 4,88 persen.

Penurunan itu membuat banyak emiten ikut berwarna merah. Sejumlah saham yang tercatat melemah antara lain BUMI yang turun 9,32 persen, PTRO 14,58 persen, ANTM 11,82 persen, BBCA 3,00 persen, BBRI 3,62 persen, hingga AMMN yang anjlok 14,91 persen.

Tekanan dari rupiah

Anjloknya IHSG ditengarai tidak lepas dari pelemahan kurs rupiah yang berada di level Rp 17.922 per dollar AS. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan sentimen investor di tengah pasar yang memang sudah sensitif terhadap perkembangan domestik maupun global.

Selain itu, pasar juga mencermati penyusutan surplus neraca perdagangan per April 2026 yang tercatat sebesar 89,1 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,59 triliun. Angka tersebut ikut memberi sinyal bahwa pelaku pasar perlu lebih waspada terhadap kondisi eksternal yang memengaruhi arah perdagangan aset berisiko.

Di saat yang sama, investor juga mulai bersiap menghadapi volatilitas baru dari rebalancing indeks FTSE Russell. Senior Marker Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan rebalancing tersebut dijadwalkan efektif pada 22 Juni mendatang.

“Di sisi lain, para pelaku pasar mulai mencermati dan bersiap menghadapi volatilitas baru dari sentimen rebalancing indeks FTSE Russell yang dijadwalkan efektif pada 22 Juni mendatang,” ujar Nafan, dikutip dari Kontan, Rabu.

Faktor eksternal masih menekan

Selain faktor dari dalam negeri, tekanan juga datang dari sentimen eksternal. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum sepenuhnya selesai. Di sisi lain, serangan Israel ke Lebanon turut menjadi perhatian pasar global.

Investor juga menantikan rilis data Nonfarm Payrolls AS periode Mei 2026 yang akan diumumkan pada akhir pekan ini. Data ketenagakerjaan tersebut dinilai sangat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap penetapan suku bunga The Fed. Karena itu, setiap perubahan pada data ini berpotensi memicu reaksi di pasar keuangan global.

Meski begitu, Nafan tetap meyakini IHSG masih memiliki ruang bertahan. Menurut dia, pada akhir semester I-2026, indeks berpeluang berada di kisaran 6.387. Ia menilai investor mulai memusatkan perhatian pada faktor-faktor fundamental domestik untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

Tertekan sejak sesi pagi

Tekanan pada IHSG sudah terlihat sejak sesi perdagangan pagi. Pada awal perdagangan, indeks berada di level 6.195,42. Namun, volatilitas membuat pergerakannya terjungkal ke 5.987,32 pada pukul 10.32 WIB sebelum kembali tertekan lebih dalam.

Menjelang penutupan sesi I, IHSG kian melemah. Pada pukul 12.00 WIB, indeks jeblok ke 5.889,48, turun 305,94 poin atau 4,49 persen. Pelemahan tajam ini menunjukkan bahwa tekanan jual mendominasi pasar sepanjang separuh pertama perdagangan hari itu.

Di antara saham yang ikut terkoreksi pada penutupan sesi I, CUAN tercatat turun sedalam 9,55 persen, ANTM melemah 8,45 persen, BBCA turun 4,35 persen, dan BUMI merosot 4,97 persen. Kondisi ini mempertegas bahwa pelemahan IHSG tidak hanya terjadi pada saham tertentu, melainkan meluas ke sejumlah emiten besar.

Dengan kombinasi tekanan rupiah, penyusutan surplus perdagangan, sentimen rebalancing indeks, serta faktor eksternal yang belum mereda, pasar saham pada Rabu siang bergerak hati-hati. Investor tampak menunggu arah yang lebih jelas, terutama dari perkembangan global dan data ekonomi AS yang akan segera dirilis.