Bisnis & Ekonomi

Rupiah Nyaris Rp17.900 per US$, Industri Masuk Survival Mode

0
×

Rupiah Nyaris Rp17.900 per US$, Industri Masuk Survival Mode

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Melemah Nyaris Rp17.900/US$, Industri Masuk Survival Mode - Market

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menekan kondisi industri nasional. Di tengah rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.900 per dolar AS, pelaku usaha disebut tidak lagi berada dalam posisi nyaman untuk menjalankan bisnis seperti biasa, melainkan sudah masuk ke fase bertahan hidup.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan situasi saat ini sudah melampaui sekadar ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut dia, tekanan yang dihadapi dunia usaha sudah sedemikian besar sehingga perusahaan harus fokus menjaga kelangsungan operasi, bukan hanya memikirkan ekspansi atau peningkatan keuntungan.

“Saat ini kita menghadapi perfect storm , pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, kenaikan suku bunga, cash flow shortage akibat restitusi tertahan dan tekanan karena konsolidasi regional atau global operation yang akan mengurangi operasi di beberapa negara [ FDI outflow ],” kata Bob kepada Bloomberg Technoz, Kamis (28/5/2026).

Bob menilai rangkaian tekanan itu datang bersamaan dan saling memperberat satu sama lain. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya yang terkait dengan kebutuhan dolar AS ikut membengkak. Pada saat yang sama, kenaikan harga energi dan suku bunga membuat beban usaha bertambah, sementara arus kas juga tertekan karena restitusi yang tertahan.

Tekanan biaya makin rapat

Di sisi lain, perusahaan juga disebut menghadapi tantangan dari perubahan arah operasi regional maupun global. Konsolidasi di level grup usaha membuat sebagian negara bisa kehilangan porsi kegiatan produksi atau operasional. Dalam pandangan Apindo, kondisi itu memperlihatkan bahwa tekanan yang sedang terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan datang dari banyak sisi sekaligus.

Karena itu, perusahaan kini berusaha bertahan dengan menekan biaya dan meningkatkan efisiensi semaksimal mungkin. Langkah tersebut menjadi pilihan utama agar beban usaha yang terus naik tetap bisa ditahan, setidaknya dalam jangka pendek. Di tengah tekanan seperti ini, fokus utama perusahaan bukan lagi agresif berkembang, melainkan memastikan kegiatan usaha tetap berjalan.

Bob mengatakan perusahaan telah mencoba menanggung kenaikan biaya produksi sebanyak mungkin. Namun, kemampuan untuk menyerap tekanan itu juga ada batasnya. Ketika biaya terus naik sementara ruang gerak semakin sempit, perusahaan dipaksa mengambil langkah penghematan yang lebih ketat agar tidak langsung terpukul oleh pelemahan rupiah.

Masalahnya, perusahaan tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual untuk menutup lonjakan biaya. Daya beli masyarakat yang ikut melemah membuat ruang untuk penyesuaian harga menjadi sangat terbatas. Jika harga dipaksakan naik, maka penjualan dinilai akan terdorong turun dan justru menambah tekanan baru bagi industri.

Dengan situasi seperti itu, Apindo melihat industri nasional sedang bergerak di tengah tekanan yang serba sulit. Rupiah yang makin lemah, biaya energi yang naik, suku bunga yang lebih tinggi, serta arus kas yang tersendat membuat perusahaan harus mengambil keputusan dengan sangat hati-hati. Dalam kondisi ini, bertahan menjadi kata kunci yang paling relevan bagi banyak pelaku usaha.

Dalam pandangan Apindo, kombinasi tekanan tersebut membuat dunia usaha berada dalam posisi yang jauh lebih rentan dibandingkan kondisi normal. Ketika seluruh komponen biaya bergerak naik bersamaan, perusahaan kehilangan ruang untuk bernapas. Karena itu, strategi yang paling realistis saat ini adalah menjaga ketahanan operasi sambil menahan sebanyak mungkin guncangan dari pelemahan rupiah dan kenaikan beban lain yang ikut mengikuti.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi industri bukan hanya bersifat jangka pendek, tetapi sudah menyentuh fondasi keputusan bisnis sehari-hari. Selama tekanan terhadap biaya, arus kas, dan daya beli masih berlangsung bersamaan, pelaku usaha akan terus dipaksa memilih langkah yang paling aman. Bagi banyak perusahaan, prioritasnya kini sederhana: tetap berjalan, tetap efisien, dan menghindari beban tambahan yang bisa mempercepat pelemahan usaha.