Bisnis & Ekonomi

Saham BBCA dan BBRI Jatuh ke Level Terendah 5 Tahun, Saatnya Beli?

0
×

Saham BBCA dan BBRI Jatuh ke Level Terendah 5 Tahun, Saatnya Beli?

Sebarkan artikel ini
Saham BBCA dan BBRI Jatuh ke Level Terendah 5 Tahun, Saatnya Beli? Money 5 Juni 2026
Ilustrasi: Saham BBCA dan BBRI Jatuh ke Level Terendah 5 Tahun, Saatnya Beli?

jurnalistik.co.id – Saham BBCA dan BBRI melorot ke level terendah dalam lima tahun terakhir, menyusul tekanan jual yang datang dari investor asing sepanjang 2026. Di tengah koreksi yang dalam, beberapa analis melihat kondisi ini berpotensi menjadi peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap.

Pergerakan saham bank besar ini juga sejalan dengan pelemahan pasar saham domestik. Pada sesi pertama Rabu (3/6/2026), IHSG disebut anjlok 4,94 persen, sebelum pada perdagangan Kamis (4/6/2026) indeks ditutup melemah 1,70 persen atau turun 101,28 poin ke level 5.839,78.

Aktivitas perdagangan pada Kamis (4/6/2026) mencatat 623 saham ditutup melemah, 106 saham menguat, dan 85 saham stagnan. Dengan komposisi tersebut, saham yang melemah jumlahnya lebih banyak dibanding yang menguat, sementara bagian yang stagnan juga tetap terlihat.

Nilai transaksi mencapai Rp 25,33 triliun, dengan volume perdagangan 39,31 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,29 juta kali. Di saat yang sama, kapitalisasi pasar BEI pada periode tersebut tercatat sebesar Rp 10.284,95 triliun.

Tekanan pasar pada hari tersebut ikut menekan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, termasuk BBCA dan BBRI.

BBCA dan BBRI kembali ke titik terendah lima tahun

Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), saham BBCA turun 1,81 persen ke level Rp 5.425 per saham. Secara year to date (YtD), harga saham BBCA telah terkoreksi 32,82 persen.

Saham BBRI, sementara itu, merosot 3,10 persen ke level Rp 2.810 per saham. Sepanjang 2026, saham BBRI telah turun 23,22 persen.

Jika dibandingkan dengan posisi pada 4 Juni 2021, harga BBCA kini melemah 17,80 persen. Untuk BBRI, pelemahannya lebih dalam hingga 33,94 persen, sehingga kedua saham tersebut berada pada titik terendah dalam lima tahun terakhir.

Adapun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mengalami tekanan. Namun, harga kedua saham tersebut masih berada di atas level yang dicatatkan lima tahun lalu, berbeda dengan BBCA dan BBRI yang turun lebih jauh.

Jual bersih asing dan menyusutnya kepemilikan

Penurunan harga BBCA dan BBRI tidak terlepas dari derasnya aksi jual investor asing sepanjang tahun ini. BBCA mencatatkan nilai jual bersih (net sell) asing mencapai Rp 31,34 triliun selama 2026, sedangkan net sell asing di BBRI mencapai Rp 9,57 triliun.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menunjukkan pergeseran kepemilikan investor asing. Kepemilikan asing di BBCA pada akhir Mei 2026 turun 10,07 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025, dengan investor asing menguasai sekitar 36,91 miliar lembar saham BBCA.

Di sisi lain, kepemilikan asing di BBRI menyusut 6 persen dibandingkan akhir tahun lalu menjadi sekitar 41,6 miliar lembar saham. Kombinasi net sell dan penyusutan kepemilikan tersebut menjadi salah satu pendorong melemahnya kedua saham.

Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai ada dua faktor utama yang menekan saham-saham perbankan besar. Faktor pertama adalah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), sementara faktor kedua adalah pelemahan nilai tukar rupiah.

Dua faktor itu berkaitan dengan BI Rate dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sejalan dengan itu, sejumlah analis menyebut saham BBCA dan BBRI yang tertekan dapat menjadi peluang bagi investor untuk mulai mengakumulasi secara bertahap.

Dalam penjelasan tersebut, BI Rate dan pelemahan nilai tukar rupiah disebut sebagai tekanan utama.