Bisnis & Ekonomi

Sektor Perbankan Jumbo Kompak Menguat, BBNI Pimpin Penguatan

0
×

Sektor Perbankan Jumbo Kompak Menguat, BBNI Pimpin Penguatan

Sebarkan artikel ini
Saham Perbankan Jumbo Kompak Menghijau, BBNI Pimpin Penguatan Money 15 Juni 2026
Ilustrasi: Saham Perbankan Jumbo Kompak Menghijau, BBNI Pimpin Penguatan

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kompak dibuka menguat pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (15/6/2026), seiring penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data RTI Business hingga pukul 09.58 WIB, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memimpin penguatan di jajaran saham perbankan. Saham BBNI naik 210 poin atau 5,90 persen ke level Rp 3.770 per saham.

Perdagangan BBNI juga terlihat aktif. Volume transaksi mencapai 29 juta saham dengan nilai transaksi Rp 107,8 miliar.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut menguat pada sesi pembukaan. BMRI naik 210 poin atau 5 persen ke level Rp 4.410 per saham.

BMRI mencatat volume transaksi 94,4 juta saham dengan nilai perdagangan Rp 412,5 miliar. Penguatan serupa berlanjut pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

BBCA menguat 275 poin atau 4,64 persen ke posisi Rp 6.200 per saham. Nilai transaksi BBCA menjadi yang terbesar di antara saham bank jumbo lainnya, yakni mencapai Rp 721,9 miliar dengan volume perdagangan 116,6 juta saham.

Adapun BBRI naik 110 poin atau 3,86 persen ke level Rp 2.960 per saham. BBRI menjadi saham perbankan dengan volume perdagangan terbesar, mencapai 213,9 juta saham dengan nilai transaksi Rp 629,5 miliar.

Kompaknya kenaikan saham bank-bank besar tersebut sejalan dengan pergerakan positif pasar saham secara keseluruhan. Pada data RTI Business pukul 09.59 WIB, IHSG menguat 229,42 poin atau 3,82 persen ke level 6.237,076.

Di awal perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.118 hingga 6.243. Total nilai transaksi pasar mencapai Rp 8,833 triliun dengan volume perdagangan 14,932 miliar saham dan frekuensi 958.574 kali transaksi.

Pada pagi ini, mayoritas saham di BEI bergerak di zona hijau. Tercatat 622 saham menguat, 86 saham melemah, dan 103 saham tidak mengalami perubahan.

Perkiraan analis terkait IHSG

Menjelang pergerakan berikutnya, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin berada di kisaran support 5.988 dan resistance 6.060. Ia menyebut, pelaku pasar masih menunggu perkembangan terbaru dari situasi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi selera risiko investor.

Selain geopolitik, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dinilai menjadi sentimen yang akan diperhatikan investor dalam mengambil keputusan investasi di pasar saham. “Untuk Senin kami perkirakan IHSG rawan terkoreksi terbatas dengan support 5.988 dan resistance 6.060,” ucapnya, Minggu (14/5/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta turut memproyeksikan adanya area penopang IHSG pada level 5.917 dan 5.803. Sementara batas atas pergerakan indeks diperkirakan berada pada kisaran 6.058 hingga 6.178.

“Support 5,917 dan 5,803. Sementara resistance: 6,058 dan 6,178,” sambung Nafan.

Dengan kompaknya penguatan saham perbankan jumbo, arah IHSG pada perdagangan Senin tampak tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pada saat yang sama, sinyal dari geopolitik serta pergerakan rupiah diperkirakan terus menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah investasi.

Artikel ini disusun oleh Isna Rifka Sri Rahayu, dengan pengedit oleh Teuku Muhammad Valdy Arief.

Penguatan saham bank-bank besar terlihat tidak hanya dari kenaikan harga, tetapi juga dari dinamika transaksi yang menunjukkan minat pelaku pasar. BNI, Mandiri, hingga BCA memperlihatkan aktivitas perdagangan yang beragam, mulai dari volume hingga nilai transaksi, sehingga sentimen terhadap sektor perbankan menjadi perhatian utama.

Dalam kerangka pergerakan IHSG, sejumlah analis menekankan bahwa ruang gerak indeks akan mengikuti respons pasar terhadap faktor eksternal. Dengan kisaran support dan resistance yang dipantau, investor cenderung menunggu sinyal lanjutan, terutama terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan nilai tukar rupiah yang berpotensi memengaruhi preferensi risiko.