jurnalistik.co.id – Anggota parlemen Partai Buruh dari South Derbyshire, Samantha Niblett, resmi meluncurkan kampanye “summer of sex” yang mendorong edukasi seks seumur hidup dan upaya meruntuhkan stigma seputar seks.
Dalam berbagai respons publik terhadap kampanyenya, ia mengakui banyak orang menjulukinya “sex MP”. Namun baginya, yang lebih penting adalah memastikan edukasi seks benar-benar berjalan, bukan sekadar menjadi bahan olok-olok.
“People call me the sex MP but we need to be educating,” kata Niblett, menggarisbawahi bahwa inti kampanye yang ia bawa adalah edukasi.
Kampanye sebelumnya yang ia mulai, “Yes Sex Please, We’re British!”, menjadi pemantik awal perbincangan. Sejak itu, Niblett menyebut lelucon sekaligus kritik mulai berdatangan, hingga ia mendapat julukan baru.
Ia menjelaskan konteks julukan tersebut dan mengaitkannya dengan perubahan sikap sosial. “Now in times gone by, being referred to as a ‘sex MP’ would’ve been something quite sleazy and seedy. But thankfully, and hopefully, I’m helping to change that,” ujarnya.
Niblett meluncurkan “summer of sex” dengan target mendorong edukasi seputar consent, rasa hormat, dan hubungan yang sehat. Menurutnya, upaya itu diarahkan untuk mencegah penyalahgunaan serta kekerasan.
Ia juga mengatakan bahwa gelombang sindiran dan ejekan yang ia terima—termasuk dari sebagian kalangan di partainya sendiri—merupakan “half the reason” baginya untuk tetap menjalankan kampanye tersebut.
Acara peluncuran “summer of sex” digelar di London pekan ini. Pada tahap berikutnya, di musim gugur Niblett berencana menampilkan berbagai sex toys dan perlengkapan edukasi seks di Parlemen.
Ia juga menyampaikan bahwa beberapa pihak yang mengkritik kampanye ini tidak otomatis dipahami sebagai penolakan terhadap edukasi, melainkan reaksi yang sering melebar ke isu popularitas dan kesan politis.
Di sisi data, Crime Survey for England and Wales mencatat bahwa untuk tahun yang berakhir pada Maret 2025, sekitar 15,9% orang berusia 16 tahun ke atas (7,7 juta orang) mengalami pelecehan seksual sejak usia 16 tahun. Dari angka itu, terdapat 1,9 juta korban yang mengalami pemerkosaan, dan 1,8 juta di antaranya adalah perempuan.
Angka-angka tersebut menguatkan bahwa perbincangan tentang seks, kekerasan, dan relasi yang aman tidak bisa dibiarkan tanpa pendidikan yang memadai.
Sejumlah pihak selama ini mendorong perbaikan pendidikan seks di Inggris. Pada 2017, Local Government Association (LGA) menyatakan kekurangan pendidikan seks dan hubungan di beberapa sekolah menengah menciptakan “ticking sexual health time bomb”.
Selain itu, anggota parlemen Partai Buruh lain, Alistair Strathern, juga mengusulkan agar pendidikan hubungan dan seks menjadi wajib bagi remaja usia 16 hingga 18 tahun. Ia memperkenalkan Relationships and Sex Education (Further Education Sector) Bill pada Juni di Parlemen.
Usulan tersebut mengikuti petisi dari kelompok kampanye yang dipimpin penyintas bernama Make It Mandatory. Petisi itu mengumpulkan lebih dari 106.000 tanda tangan dan menyerukan pendidikan seks diberlakukan hingga usia 18 tahun.
Kampanye Niblett juga menggandeng edukator seks Cindy Gallop, yang ingin mengarahkan masyarakat agar tidak menjadikan pornografi sebagai sumber utama “pendidikan seks”.
Pada sebuah konferensi TED, Cindy Gallop pernah menyebut akses pornografi daring, ditambah kondisi masyarakat yang enggan membicarakan seks, membuat pornografi menjadi “default sex education”.
Niblett berharap peluncuran “summer of sex” dapat meredam sebagian kritik, atau setidaknya membuat orang berpikir ulang. Ia menilai respons publik dan sikap beberapa rekan di Parlemen sempat membuat diskusi tentang seks menjadi terlalu dangkal.
Sejumlah kritik yang ia bagikan muncul dari anggota parlemen lintas partai. Niblett, misalnya, menyebut ia pernah diminta untuk tidak melakukan kegiatan media oleh beberapa pihak di pemerintahan Partai Buruh awal tahun ini.
Dalam program BBC Politics Live pada April, ketika ditanya apakah ia menilai kampanye ini ide yang baik, Tom Hayes—sesama anggota parlemen Partai Buruh—memuji rekannya yang meneruskan gagasan tersebut. Namun ia menambahkan: “I represent Bournemouth East, which is a coastal town, and may be used to a bit of seaside racy joking, but I don’t think my pensioners want to talk dirty – I think they want to talk defence.”
Ia juga menegaskan pandangannya, “And for me it’s not about a summer of sex, it’s about an all-year-round, round-the-clock focus on the cost of living.”
Anna Sabine, anggota parlemen Liberal Demokrat untuk Frome dan East Somerset, menyampaikan bahwa konstituennya mungkin tertarik pada topik tersebut. Tetapi ia yakin warganya “much rather” melihat Niblett membahas hal lain, seperti perbaikan jalan berlubang dan biaya hidup.
Berita Terkait
Di sesi Prime Minister’s Questions, pemimpin Konservatif Kemi Badenoch turut mengkritik kampanye ini. Badenoch berkata: “What are they [Labour] doing? They’re promoting sex toys in Parliament. It gives a whole new meaning to ‘fiddling while Rome burns’.”
Niblett menanggapi kritik itu dengan menekankan bahwa persoalan edukasi seks tetap merupakan agenda politik, namun bukan permainan kepartian. Ia menyatakan: “I think if some of my colleagues – who should be some of the most progressive MPs that there are – are finding it amusing, then I look forward to seeing the goodness that will come off the back of the campaign,”
Menurutnya, edukasi seks dan upaya menghilangkan stigma “absolutely political”, tetapi “it’s not party political”. Ia menambahkan: “I would be doing this no matter what party I was sitting in, and I really hope the campaign itself is not diminished because people want to use it as a weapon to make it party political.”
Ia juga menegaskan pendekatannya, “It is absolutely political. There are things that we need to do within the system to offer better sex education and support that can only really happen from the top down from the government.”
Kampanye Niblett menyerukan “lifelong sex education”. Ia berharap bisa menjangkau Department for Education dan Department of Health and Social Care melalui kampanyenya.
Selain itu, kampanye ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran tentang fase hidup seperti kelahiran, menopause, stres, dan erectile dysfunction, serta kondisi kesehatan lain.
Baru-baru ini, Niblett juga menjadi ketua All-Party Parliamentary Group on Sex and Reproductive Health. Posisi ini memberinya ruang untuk berhubungan rutin dengan para ahli, sekaligus dengan penyintas kekerasan seksual, demi membantu mengarahkan kampanyenya.
Dalam penjelasan kepada BBC, Niblett menegaskan bahwa membicarakan sex toys sebagai bagian kampanye bukanlah kesalahan. Ia berkata: “A significant part of sex between people… is communication and it is pleasure. And one of the ways we can get pleasure is through the use of sex toys.”
Ia menambahkan, “Trying to take away the stigma or shame around even talking about them is why the campaign is absolutely talking about sex toys,”
Ia juga menyampaikan bahwa orang perlu berani mengungkap pengalaman mereka, terutama ketika di pengadilan mereka diminta menceritakan hal-hal yang “horrifying”, sementara dalam percakapan sehari-hari topik seks justru kerap tidak dibahas terbuka. “How can we talk about bad sex if we can’t talk about good sex?” katanya.
Menjelang acara di musim gugur, Niblett mengatakan ia telah memeriksa dengan tim keamanan Parlemen dan memastikan bahwa sex toys tidak masuk daftar barang yang dilarang untuk dibawa ke lokasi acara tersebut.
Ia percaya akses terhadap pornografi “ruining” pengalaman kedekatan, tetapi menurutnya kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada pemblokiran atau pelarangan. “We need something more than just blocking and banning,” ujarnya, lalu menegaskan, “We need to be educating.”
Ia juga mengaitkan kebutuhan untuk membicarakan seks dan kenikmatan secara terbuka dengan kemungkinan penyalahgunaan. Niblett menyebut seks dapat “used as a weapon”. Ia berkata: “When it can be used as a weapon against us, we need to be able to take that weapon off people. And women are so frequently on the receiving end of those weapons,”
Ke depan, ia berharap Perdana Menteri baru Andy Burnham dapat mendukung kampanye ini, termasuk usulannya agar ada posisi menteri yang khusus membahas isu edukasi seks dan wellbeing.
Niblett menambahkan bahwa meski awalnya ada keraguan, sebagian anggota parlemen di bangku belakang partai yang sama mulai menunjukkan dukungan. Ia mengatakan banyak pandangan sudah berubah, dan debat bangku belakang yang direncanakan pada musim gugur memiliki dukungan lintas partai.
Ia merangkum perubahan respons itu dengan kalimat: “An initial giggly response has turned into ‘well, this is quite serious isn’t it?’”
Menurutnya, dukungan juga datang dari sejumlah pihak di lingkungan NHS dan layanan probation, serta figur publik seperti aktris Emma Thompson.
Dalam video yang dibagikan Niblett bulan lalu, Thompson menyatakan dukungannya. Thompson berkata: “I’m backing Samantha and Cindy’s campaign for lifelong sex education, which is not party political, but it is critical.”
Sambil menilai dampak dari pusaran perbincangan selama peluncuran kampanye “summer of sex”, Niblett mengatakan ia melihat makin banyak orang mulai mengenalnya lewat pekerjaan tersebut. Ia menyebut, “People are now starting to recognise me… it’s, ‘oh, you’re that sex MP, aren’t you?’”
Ia berharap dukungan yang menguat di berbagai wilayah membuat lebih banyak koleganya merasa nyaman berbicara terbuka. “I think as it picks up support across the country, you’ll probably find more of my colleagues feeling comfortable to put their head above the parapet and talk about it,”
Baginya, yang paling penting adalah memastikan diskusi tidak dipadamkan oleh pihak yang berupaya mengecilkan perjuangannya. “It’s really important – that when somebody else tries to grab the microphone and diminish what you’re doing – you grab it back.”









