jurnalistik.co.id – Euforia Piala Dunia 2026 rupanya tidak hanya meledak di stadion, layar televisi, atau warung kopi yang menggelar nonton bareng. Di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, semangat turnamen justru diwujudkan dalam bentuk mural raksasa pada dinding rumah yang terbengkalai dan viral di media sosial.
Di balik karya itu ada Rayhan Dwi Fasha, muralis sekaligus pegiat graffiti. Ia memilih medium seni jalanan untuk mengabadikan momen Piala Dunia 2026, menjadikan dinding yang sempat tidak terawat berubah menjadi ruang ekspresi yang menarik perhatian publik.
Rayhan menjelaskan gagasan pembuatannya muncul dari kebutuhan untuk merayakan momen yang telah lama dinantikan. Ia mengatakan, “Baru-baru ini sih kepikiran ide bikin mural Piala Dunia karena kan momen yang ditunggu-tunggu para pencinta bola di seluruh dunia,” kata pria yang biasa disapa Rayhan itu kepada KOMPAS.com.
Baginya, mural tidak berhenti sebagai karya visual. Setiap goresan cat semprot yang ia buat juga membawa nostalgia yang ikut mengalir dalam proses penciptaan.
Rayhan menuturkan bahwa sepak bola dan masa kecilnya kembali hadir melalui seni yang ia geluti. Ia mengungkapkan, “Dulu waktu saya kecil hobi banget main bola sampai SMP, pas SMU sudah tidak main bola. Jadi ini tu kaya keinget masa kecil main bola dan baru ada adzan maghrib baru berhenti,”
Pengalaman itu, menurutnya, membuat Piala Dunia terasa lebih dekat. Sepak bola menjadi ingatan yang hidup, sementara mural menjadi cara untuk menyalurkan keterikatan tersebut ke ruang publik.
Ia kemudian merangkai dua dunia yang selama ini melekat dalam perjalanan hidupnya, yaitu sepak bola dan seni mural. Rayhan melanjutkan, “Jadi saya menggabungkan hobi masa kecil dan sekarang. Ya sekaligus turut memeriahkan Piala Dunia ini dengan hobi dan skill yang saya miliki,”
Mengangkat Grup A dalam satu tembok
Alih-alih menonjolkan satu tim favorit, Rayhan justru memilih memvisualkan seluruh peserta Grup A Piala Dunia 2026. Dengan cara itu, muralnya menjadi semacam cerminan bahwa turnamen besar selalu membawa beragam perjumpaan dalam satu panggung yang sama.
Keempat negara yang ia angkat adalah Meksiko, Ceko, Afrika Selatan, dan Korea selatan. Rayhan menyebut keempatnya bertanding pada hari pertama penyelenggaraan Piala Dunia 2026, Kamis (11/6/2026) atau Jumat (12/6/2026) dini hari WIB.
Dalam proses perancangannya, Rayhan memulai dari konsep kelompok yang ia jadikan pembuka. Ia menjelaskan, “Untuk proses dimulai senin (8/6/2026) sore saya mulai bikin sketsa saya rancang dengan konsep satu grup yang jadi pembuka. Ada Meksiko, Ceko, Afrika Selatan dan Korea selatan,”
Ia juga menambahkan tantangan yang ia cari dari pilihan tersebut, yaitu menggabungkan empat negara sekaligus dalam satu karya. Rayhan mengatakan, “Saya jadikan satu, challenge juga empat negara dengan pemain ikonik Santiago Gimenez, Son Heung-min, Tomas Soucek, Lyle Foster dan ternyata bisa,”
Melalui penyatuan empat tim dan sejumlah pemain ikonik, mural ini memperlihatkan cara sepak bola menyatukan berbagai bangsa dalam satu semangat yang sama. Karya itu tidak hanya menampilkan identitas tim, tetapi juga menegaskan euforia turnamen yang bisa dirasakan lintas latar.
Proses pengerjaan dan detail pengerukan waktu
Membuat mural berukuran besar tentu bukan perkara mudah, apalagi seluruh proses dilakukan seorang diri. Rayhan menggambarkan tahapan pengerjaannya berjalan intens sejak awal gagasan sketsa hingga penyelesaian akhir di dinding tersebut.
Ia menyebut proses pembuatan memakan waktu sekitar tiga hari dan ia tetap mendokumentasikan perkembangan karya. Rayhan mengatakan, “Prosesnya kurang lebih tiga hari terus saya bikin konten dan upload di Instagram. Selama proses pembuatan mural tersebut menggunakan full spray pakai pilok. Menghabiskan 20 spray untuk warna kulit dan background,”
Dengan durasi pengerjaan yang relatif singkat, mural itu tetap mengandalkan konsistensi teknik dan ketelitian dalam menata komposisi. Penggunaan cat semprot serta fokus pada warna kulit dan background menjadi bagian dari cara Rayhan membangun efek visual yang ingin ia capai.
Langkah dokumentasi yang ia lakukan melalui unggahan juga turut membantu membuat karya lebih cepat dikenal publik. Dari situ, dinding yang semula terbengkalai perlahan berubah menjadi magnet perhatian, seolah menyambungkan momen turnamen dengan ruang keseharian warga.
Pada akhirnya, mural Rayhan Dwi Fasha memperlihatkan bahwa perayaan Piala Dunia dapat hadir dalam bentuk yang berbeda. Di Parung Panjang, euforia turnamen hidup lewat sentuhan seni jalanan: menggabungkan kenangan masa kecil tentang sepak bola, pilihan memvisualkan Grup A, hingga proses pengerjaan mandiri yang berujung pada karya viral di media sosial.












