Hukum & Kriminal

Pria Bertato Ditemukan Mengambang di Irigasi Pemali Brebes, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

×

Pria Bertato Ditemukan Mengambang di Irigasi Pemali Brebes, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mayat Pria Bertato Mengambang di Irigasi Pamali Brebes, Polisi Usut Penyebab Kematian

jurnalistik.co.id – Seorang pria bertato ditemukan mengambang di aliran irigasi Sungai Pemali, tepatnya di Dusun Poncol, Desa Kedungbokor, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Penemuan tersebut membuat warga sekitar segera melapor, sementara polisi menelusuri identitas sekaligus penyebab kematiannya.

Korban pertama kali diketahui sekitar pukul 07.00 WIB oleh warga yang melintas di Jalan Kedungbokor–Larangan. Dari posisinya di atas jalan, Yanto melihat sesosok tubuh berada di saluran irigasi.

Melihat kondisi tersebut, Yanto menghentikan perjalanannya untuk memastikan keadaan korban. Tak lama kemudian, warga lain berdatangan ke lokasi dan ikut membantu proses penanganan awal.

Mereka kemudian turun ke saluran irigasi untuk mengevakuasi jasad korban ke atas tanggul. Setelah korban berada di tempat yang lebih aman, penemuan itu diteruskan kepada perangkat desa setempat sebelum akhirnya sampai ke kepolisian.

Informasi tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Larangan. Mendapat laporan warga, polisi bersama tim medis dari Puskesmas Larangan mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan awal terhadap jasad korban.

Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Larangan, Kompol Suryantono, menyampaikan bahwa hasil identifikasi sementara menunjukkan korban adalah seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahun. Korban disebut bertubuh sedang, berambut hitam, dan memiliki kulit sawo matang.

Pada saat ditemukan, korban mengenakan kaus lengan pendek berwarna hitam, celana pendek hitam, serta celana dalam berwarna hitam kecokelatan. Polisi juga mencatat sejumlah ciri fisik yang cukup mencolok pada tubuh korban.

Di kedua telinganya, korban memakai anting. Pada lengan kiri, terdapat tato bermotif bunga, sedangkan di lengan kanan terdapat tato bergambar burung.

Selain itu, korban juga memiliki tato berbentuk bulat yang berada di kedua bahu bagian depan. Ciri-ciri tersebut menjadi salah satu petunjuk yang dicatat polisi untuk mendukung proses penelusuran identitas.

Kompol Suryantono menjelaskan bahwa pemeriksaan awal dilakukan secara langsung bersama tenaga medis setempat. Ia menyebut dokter yang ikut memeriksa adalah Indra Utomo dari Puskesmas Larangan.

“Pemeriksaan awal terhadap jasad dilakukan bersama dokter Indra Utomo dari Puskesmas Larangan. Hingga saat ini identitas korban belum diketahui dan penyebab kematiannya masih dalam penyelidikan,” ujar Kompol Suryantono, Rabu (1/7/2026).

Polisi saat ini masih mengumpulkan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui situasi di sekitar lokasi. Proses pendalaman juga dilakukan guna mengungkap siapa korban sesungguhnya, sekaligus mencari informasi yang dapat menjelaskan penyebab kematiannya secara lebih pasti.

Penyidikan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan temuan-temuan di lapangan selama olah TKP berlangsung. Hingga saat ini, polisi belum menyampaikan kepastian identitas maupun penyebab kematian korban, karena pemeriksaan dan penelusuran masih berjalan.

Masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri serupa diminta segera melapor. Warga dapat menghubungi Polsek Larangan atau mendatangi kantor kepolisian terdekat agar proses identifikasi dapat dipercepat.

Penemuan ini juga menunjukkan pentingnya respons cepat ketika ada temuan mencurigakan di lingkungan sekitar. Mulai dari pengamatan Yanto hingga keterlibatan warga lain saat mengevakuasi jasad, seluruh rangkaian tindakan awal membantu polisi memperoleh titik awal penyelidikan.

Dengan demikian, pihak kepolisian terus melanjutkan proses penyelidikan sambil menunggu adanya informasi yang mengarah pada identitas korban dan data pendukung penyebab kematian. Polisi berkomitmen memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur, sampai diperoleh keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sejak laporan awal diterima, rangkaian penanganan terus berjalan berurutan mulai dari upaya memastikan kondisi korban hingga pemeriksaan di lokasi. Penemuan di aliran irigasi tersebut kemudian ditangani bersama pihak desa serta kepolisian, termasuk koordinasi dengan tim medis sebelum penyelidikan masuk ke tahap pendalaman.

Dalam proses pemeriksaan, polisi turut menaruh perhatian pada detail fisik yang tercatat saat olah tempat kejadian perkara. Anting di kedua telinga, tato pada lengan dan bagian bahu depan, serta penanda lain pada tubuh korban menjadi bagian dari data yang digunakan untuk membantu penelusuran identitas.

Hingga kini, polisi masih menunggu keterangan yang dapat mengerucutkan informasi mengenai siapa korban sebenarnya. Warga yang merasa memiliki anggota keluarga dengan ciri serupa diimbau untuk segera menyampaikan informasi agar proses identifikasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan penyebab kematian dapat dijelaskan secara tepat.