jurnalistik.co.id – Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Bone Bolango, Kamis (11/6/2026). Sidak ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah.
Sidak tersebut dimulai sejak pukul 05.00 Wita dan menyasar SPPG Ulanta di Kecamatan Suwawa, SPPG Tolong Kabila, serta SPPG Bongoime. Ketiga SPPG melayani kurang lebih 2.000 porsi makanan bergizi setiap hari.
Dalam kunjungan itu, Idah menyertakan tim Satuan Tugas (satgas) MBG Provinsi Gorontalo selaku Ketua Satgas. Pemeriksaan dilakukan dengan meninjau langsung kondisi pengelolaan dapur dan proses penyiapan hingga penyajian makanan.
Pada sidak tersebut, Idah menemukan tingginya sisa makanan dan sejumlah catatan terkait standar pengelolaan dapur. Temuan itu terlihat dari masih banyaknya makanan yang terbuang, terutama sayuran yang dalam satu hari mencapai sekitar 23 kilogram.
Di salah satu lokasi, tim juga menemukan sisa nasi dalam jumlah cukup besar. Kondisi ini mengindikasikan perlunya evaluasi terhadap kualitas bahan baku, cita rasa, maupun penyajian makanan agar lebih sesuai dengan penerima manfaat.
“Temuan terbesar kami adalah masih banyak makanan yang terbuang. Sayur bahkan bisa mencapai 23 kilogram dalam sehari. Ada juga nasi yang tersisa sangat banyak. Ini harus menjadi bahan evaluasi agar menu yang disajikan benar-benar sesuai dengan selera dan kebutuhan anak-anak tanpa mengurangi nilai gizinya,” kata Idah.
Catatan pengelolaan gudang, kebersihan, dan kedisiplinan petugas
Selain menilai sisa makanan, tim juga mencatat beberapa hal yang berkaitan dengan pengelolaan gudang basah dan gudang kering. Pemeriksaan turut mencakup aspek kebersihan lingkungan dapur, kedisiplinan petugas, serta pengaturan menu harian yang dijalankan di masing-masing SPPG.
Idah menekankan pentingnya perencanaan menu yang terukur dan bervariasi. Menurutnya, setiap SPPG harus memiliki perencanaan menu yang bervariasi setidaknya untuk satu bulan ke depan agar anak-anak tidak merasa bosan dan konsumsi makanan dapat lebih optimal.
“Kalau ada menu yang ternyata banyak tersisa, harus segera dievaluasi. Jangan terus diulang tanpa perbaikan. Bisa jadi rasanya kurang sesuai, penyajiannya kurang menarik, atau ada faktor lain yang perlu dibenahi,” ujarnya.
Dalam sidak itu, tim juga menyoroti cara pengadaan dan penyiapan bahan. Ditemukan adanya penggunaan bahan pangan yang telah dikupas dari pasar, seperti bawang merah dan bawang putih, yang seharusnya diproses oleh petugas SPPG agar kualitas dan keamanan pangan lebih terjaga.
Prosedur penanganan telur dan pengelolaan sampel makanan
Pada menu telur yang disajikan di ketiga SPPG, tim menemukan prosedur penanganan yang belum sepenuhnya sesuai standar. Temuan tersebut meliputi telur yang tidak dicuci serta proses pencucian yang belum dilakukan secara benar.
Tim juga mencatat penempatan galon air di gudang basah yang tidak sesuai peruntukan serta pengelolaan sampel makanan yang belum memenuhi ketentuan. Sebagian SPPG tidak menyimpan sampel makanan selama 2×24 jam sebagaimana prosedur yang berlaku untuk keperluan pengawasan keamanan pangan.
Temuan-temuan itu memperlihatkan bahwa kualitas pelaksanaan MBG tidak hanya ditentukan oleh distribusi dan jumlah porsi, tetapi juga oleh kepatuhan pada standar pengelolaan dari sisi higiene, penyimpanan, penyiapan, serta pengawasan keamanan pangan.
Idah juga menilai perlunya evaluasi yang menyeluruh untuk memperbaiki praktik di lapangan. Mulai dari pengaturan menu, pengelolaan bahan, hingga memastikan setiap prosedur berjalan sesuai ketentuan agar sisa makanan dapat ditekan dan kualitas makanan terjaga.
Dengan adanya sidak, Idah berharap seluruh pengelola SPPG segera menindaklanjuti hasil evaluasi tersebut. Menurutnya, keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat.
Ia menegaskan bahwa program ini juga harus dilihat dari kualitas makanan, keamanan pangan, serta efektivitas pengelolaannya. Melalui perbaikan yang tepat, tujuan meningkatkan gizi anak dapat tercapai secara optimal dan pelaksanaan MBG berjalan lebih baik dari waktu ke waktu.












