Olahraga

Sisa Bonus PON Aceh-Sumut dan Peparnas 2024 Riau Belum Cair, Pelatih Mengaku Ingin Menangis

×

Sisa Bonus PON Aceh-Sumut dan Peparnas 2024 Riau Belum Cair, Pelatih Mengaku Ingin Menangis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sisa Bonus Atlet Tak Kunjung Dibayarkan, Pelatih: Saya Mau Nangis Lihat Perjuangan Kawan-kawan

jurnalistik.co.id – Atlet dan pelatih Provinsi Riau menuntut pemerintah segera membayarkan sisa bonus untuk ajang PON Aceh-Sumut serta Peparnas 2024. Sejumlah atlet dan pelatih berdemo di Stadion Utama Riau, Pekanbaru, Kamis (6/8/2026), saat Pemerintah Provinsi (Pemprov) setempat menggelar acara senam bersama.

Aksi itu muncul sebagai puncak kekesalan setelah upaya penagihan dilakukan berulang kali. Dalam demonstrasi tersebut, para peserta menyampaikan bahwa hak mereka belum dituntaskan, meski sebagian pembayaran sudah berjalan.

Pelatih atlet cabang olahraga tinju, Darman, mengatakan demo dilakukan untuk mengejar kekurangan bonus yang belum diselesaikan. Ia menyebut, pembayaran yang sudah dicairkan pada tahun 2025 baru mencapai sekitar 43 persen.

Sisanya, sebesar 57 persen, belum ada kejelasan. Darman menyampaikan bahwa informasi waktu penyelesaian juga berganti-ganti, namun sampai saat ini belum ada realisasi yang mereka terima.

“Katanya mau diselesaikan Maret 2026, kalau tidak salah sebelum Lebaran. Kemudian, triwulan kedua kalau tidak Juni atau Juli, tetapi sampai sekarang belum juga selesai,” ujar Darman saat diwawancarai Kompas.com usai demo.

Menurut Darman, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan para atlet Riau yang berjumlah 200 orang. Ia menegaskan bahwa sebagian atlet tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga bergantung pada dukungan yang seharusnya menjadi hak mereka.

“Atlet ini banyak yang tidak punya pekerjaan. Sekarang ini ada yang ojek online , jualan dan sebagainya,” ucap Darman. Ia menambahkan, bonus yang belum dibayarkan sangat dibutuhkan untuk kebutuhan hidup dan juga biaya untuk berlatih sehari-hari.

Bagi Darman, pembayaran bonus bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan faktor yang menentukan kelangsungan persiapan atlet. Jika sisa bonus sudah dicairkan, ia berharap atlet bisa kembali fokus berlatih, khususnya untuk persiapan Pra PON pada tahun berikutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Darman menanggapi pernyataan Pemprov Riau yang menyebut bonus belum dicairkan karena efisiensi anggaran. Ia mempertanyakan mengapa penuntasan pembayaran hanya belum terjadi di Riau, sementara wilayah lain telah menyelesaikan tahapannya.

“Hanya Riau yang belum selesai pembayaran bonus. Sementara daerah lain yang PAD-nya jauh lebih rendah dari Riau, sudah selesai tahun 2025, sedangkan Riau dikenal daerah kaya. Contohnya, kalau kita jumpa kawan-kawan di luar daerah, mereka bilang Riau ini kaya sekali. Makanya kita malu rasanya urusan bonus belum juga selesai,” ujar Darman.

Ia menyatakan bahwa para atlet berharap bisa memperoleh kejelasan dari pemerintah agar tidak berlarut-larut. Darman menilai ketidakpastian ini membuat perjuangan atlet terasa tidak dihargai secara penuh, padahal mereka telah berusaha memberikan yang terbaik untuk mengharumkan nama daerah.

“Jujur saja tadi saya mau menangis melihat perjuangan kawan-kawan atlet. Kampung mereka jauh di luar Kota Pekanbaru. Mereka datang jauh-jauh ke sini untuk mendapatkan haknya, karena mereka sudah berbuat. Dia tidak minta-minta, tapi haknya diberikan, itu yang diharapkan,” kata Darman.

Harapan para pendemo juga tertuju pada pertemuan dengan pejabat yang mereka sebut sebagai pihak yang berwenang. Darman menyampaikan bahwa para atlet berharap bisa bertemu dengan Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto.

Namun, sepanjang rangkaian demo berlangsung, pihak yang mereka harapkan tidak kunjung hadir. Darman menjelaskan bahwa Plt Gubernur Riau justru memimpin kegiatan senam di stadion tersebut, sehingga pertemuan tidak terjadi secara langsung.

“Plt Gubernur Riau tidak datang menemui kami, malah memimpin senam bersama di stadion ini. Jadi didelegasikan kepada Kadispora,” ucap Darman.

Berdasarkan penuturan Darman, delegasi kepada Kadispora menjadi respons yang mereka terima selama proses penagihan berlangsung. Meski demikian, inti tuntutan para atlet tetap sama: sisa bonus PON Aceh-Sumut dan Peparnas 2024 harus segera diselesaikan sesuai janji yang pernah disampaikan.

Dalam pandangan Darman, ketidakselesaian pembayaran memengaruhi proses pembinaan yang sedang berjalan. Atlet yang sebelumnya diharapkan bisa kembali pada ritme latihan yang lebih stabil, justru harus berhadapan dengan situasi yang terus bergantung pada kepastian pemerintah.

Aksi di Stadion Utama Riau memperlihatkan bahwa tuntutan para atlet tidak berhenti pada permohonan, tetapi berubah menjadi dorongan terbuka agar hak mereka tidak tertunda. Dengan jumlah peserta yang besar dan latar kebutuhan yang beragam, demo tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan bonus yang belum dibayar masih menyisakan kegelisahan di kalangan pelatih maupun atlet.

Di akhir keterangannya, Darman menekankan agar pemerintah segera menuntaskan pembayaran sisa bonus agar para atlet dapat fokus pada persiapan kompetisi berikutnya. Ia berharap kinerja pembinaan dapat kembali berjalan tanpa gangguan, serta perjuangan atlet tidak lagi terhambat oleh keterlambatan pemenuhan hak.