jurnalistik.co.id – Final Piala Dunia FIFA 2026 mempertemukan Spanyol dan Argentina di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Menjelang menit ke-44, laga masih berjalan ketat dan belum menghasilkan gol.
Spanyol terlihat lebih sering memegang kendali permainan, sementara Argentina lebih banyak menunggu untuk memanfaatkan serangan balik. Hingga pertengahan babak pertama, penguasaan bola Spanyol mencapai sekitar 63 persen.
Pola tersebut membuat Spanyol lebih rajin mendekati area pertahanan Argentina. Meski begitu, upaya-upaya yang dibangun belum berubah menjadi peluang yang benar-benar mengubah papan skor.
Peluang yang paling dekat dengan gol untuk Spanyol muncul pada menit ke-39. Alejandro Baena mengirim umpan cepat, lalu Fabian Ruiz meneruskan dengan sentuhan pendek.
Dani Olmo kemudian membiarkan bola mengalir, sehingga bola mengarah ke Mikel Oyarzabal. Oyarzabal melepaskan tendangan mendatar dari luar kotak penalti, tetapi bola masih bisa ditangkap kiper Argentina, Emiliano Martinez.
Argentina sempat merespons pada menit ke-41. Rodrigo De Paul mengirim umpan silang ke dalam kotak, namun Marc Cucurella berhasil memblok sebelum situasi berkembang menjadi ancaman untuk Unai Simon.
Sesudah itu, Spanyol kembali menjalankan serangan balik yang cepat. Oyarzabal berlari menuju area pertahanan Argentina, lalu dijatuhkan secara sengaja oleh Lisandro Martinez.
Berita Terkait
Wasit Slavko Vincic segera mengganjar Lisandro dengan kartu kuning, dan catatan tersebut menjadi kartu pertama yang keluar di pertandingan final Piala Dunia 2026. Kejadian itu kemudian berimbas langsung pada kondisi Lisandro, yang mengalami masalah dan tidak dapat melanjutkan pertandingan.
Pada menit ke-44, pelatih Argentina mengambil keputusan dengan menarik Lisandro Martinez dan memasukkan Nicolas Otamendi sebagai penggantinya. Penggantian tersebut menjadi pukulan penting bagi Albiceleste karena Lisandro dikenal sebagai andalan di lini belakang.
Sampai waktu tersebut, meski Spanyol tetap mendominasi penguasaan bola, mereka belum mampu memecah kebuntuan. Di sisi lain, Argentina tetap mencoba bertahan rapi sambil mencari celah dari transisi, sementara Lionel Messi kesulitan menemukan ruang di lini depan akibat disiplin pertahanan yang ditampilkan La Furia Roja.
Hingga menit ke-44, skor tetap 0-0, dengan Spanyol menguasai tempo permainan namun belum menemukan momen kunci untuk menembus pertahanan Argentina.
Setelah tempo awal yang cenderung dikuasai Spanyol, pertandingan terlihat makin menuntut akurasi saat masuk ke sepertiga akhir. Umpan-umpan cepat memang sempat membuka ruang, namun penyelesaian akhir tetap mentok karena bola belum sempat menjadi peluang yang benar-benar tajam di area penalti.
Di momen-momen yang muncul, detail kecil menentukan arah laga. Ketika Spanyol mencoba membangun serangan beruntun, Argentina mampu membaca ritme dan memperketat ruang, sehingga upaya lanjutan tidak langsung berubah menjadi ancaman serius bagi Unai Simon. Sebaliknya, setiap kali Argentina mendapat kesempatan merespons, mereka juga tetap berhati-hati agar transisi tidak membawa mereka pada situasi yang terbuka lebar.
Masalah yang menimpa Lisandro Martinez menambah dinamika jelang menit-menit akhir babak pertama. Kartu kuning yang diterima Vincic membuat situasi lini belakang Argentina makin dipantau, lalu keputusan menarik Lisandro dan menggantinya dengan Nicolas Otamendi berfungsi menjaga kestabilan formasi. Pergantian itu membuat upaya Spanyol tetap berjalan, tetapi masih harus mencari cara untuk memecah disiplin bertahan yang rapat.
Sampai menit ke-44, keseluruhan alur pertandingan tetap memperlihatkan pola yang serupa: Spanyol memegang kendali penguasaan bola dan mengatur tempo, sementara Argentina memilih bertahan rapi dan mengandalkan kesempatan dari transisi. Lionel Messi juga belum menemukan ruang yang nyaman di lini depan, sehingga hingga jeda skor tidak bergerak dari 0-0.












