jurnalistik.co.id – SDN 2 Cepokosawit di Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menjalankan program yang menggabungkan kebiasaan membaca dengan latihan merangkum isi bacaan. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan literasi sekaligus membangun minat baca siswa.
Di sekolah tersebut, seluruh peserta didik dari kelas I hingga kelas VI mengikuti kegiatan membaca buku di perpustakaan sekolah yang diberi nama “Pustaka Loka”. Kegiatan berlangsung terjadwal setiap hari dan menjadi bagian rutinitas belajar.
Jadwal kunjungan disusun rapi oleh pihak sekolah. Senin digunakan untuk siswa kelas I, Selasa untuk kelas II, Rabu untuk kelas III, Kamis untuk kelas IV, Jumat untuk kelas V, dan Sabtu untuk kelas VI.
Kepala SDN 2 Cepokosawit, Arya Dani R, menjelaskan bahwa kegiatan di perpustakaan dilakukan dengan tema yang bergantian. Ia menyampaikan, “Di sana anak-anak tiap Minggu sudah punya jadwal. Hari ini kita membaca tentang dongeng. Nanti cerita fiksi dan sebagainya,”.
Menurut Arya, sesi membaca tidak berhenti pada proses mengambil buku dan membaca di ruangan. Untuk memastikan pemahaman, siswa kemudian diwajibkan membuat ringkasan dari poin-poin cerita yang telah mereka pilih dan baca.
Ia menegaskan mekanismenya melalui kalimat, “Setelah dibaca anak-anak meringkas. Terus guru kelas membahas bersama-sama di kelas atau di lain kesempatan,”. Dengan pola itu, kegiatan perpustakaan terhubung langsung dengan proses diskusi di lingkungan kelas.
Di sisi pembelajaran, pendekatan ini menempatkan siswa tidak hanya sebagai pembaca, tetapi juga sebagai pengolah informasi dari bacaan yang mereka nikmati. Ringkasan yang dibuat siswa menjadi bahan untuk didalami lebih lanjut oleh guru.
Dalam praktiknya, sekolah juga menyesuaikan jenis buku yang paling dekat dengan minat anak. Arya menyebut bahwa buku cerita sejauh ini paling disukai dan banyak diminati para siswa.
Ia menjelaskan alasan kecenderungan tersebut dengan pernyataan, “Karena kita koleksinya ada. Mungkin masih seusia mereka fiksi ya. Sesuai umur-umur mereka,”. Penjelasan ini menunjukkan bahwa pemilihan bacaan mempertimbangkan tahap perkembangan siswa sekolah dasar.
Berita Terkait
Program yang berjalan di “Pustaka Loka” juga didukung oleh kondisi fasilitas perpustakaan sekolah. Arya menyampaikan bahwa perpustakaan SDN 2 Cepokosawit merupakan satu-satunya perpustakaan sekolah di wilayahnya yang berhasil memperoleh sertifikat akreditasi resmi dari Perpustakaan Nasional pada 2025.
Ia menuturkan keunggulan tersebut melalui, “Perpus kami termasuk yang terlengkap di kecamatan. Dan satu-satunya perpus yang terakreditasi,”. Pernyataan itu sekaligus menggarisbawahi bahwa sekolah memandang aspek kelembagaan dan pengelolaan perpustakaan sebagai dasar penguatan literasi.
Perpustakaan sekolah tersebut menyediakan koleksi yang disusun dalam ruang dengan akses terbuka bagi siswa. Pihak sekolah menyiapkan setidaknya sekitar lima rak besar berisi buku bacaan yang bisa diakses langsung di dalam ruangan.
Meski fasilitas dan ketersediaan ruang perpustakaan sudah mendukung, sekolah menghadapi tantangan pada pembaruan isi koleksi. Arya mengakui bahwa sebagian besar buku yang ada merupakan koleksi lama, sementara siswa membutuhkan materi baru agar tetap termotivasi.
Ia menyebut kendala tersebut dengan kalimat, “Kalau kendala mungkin kita update tentang bukunya. Kita sudah komplit sebetulnya. Tapi anak kalau sudah baca semua kan bosan butuh yang baru. Ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk buku koleksi kami,”. Pernyataan ini menggambarkan kebutuhan akan variasi bacaan agar program tidak terasa monoton.
Karena itu, sekolah merumuskan rencana untuk menambah layanan melalui perpustakaan keliling. Arya menjelaskan bahwa rencana tersebut diupayakan sebagai komitmen nyata untuk mendorong minat baca siswa secara berkelanjutan.
Ia menyampaikan, “Nanti bisa kita usulkan perpustakaan keliling. Sekali lagi kita terkendala jumlah murid. Nanti ada prioritas untuk perpus keliling itu,”. Menurutnya, rencana mendatangkan layanan mobil perpustakaan perlu mempertimbangkan skala prioritas dan kriteria tertentu.
Dalam konteks jumlah peserta didik, Arya menyebutkan total siswa aktif dari kelas I hingga kelas VI saat ini hanya sebanyak 25 orang. Jumlah tersebut menjadi faktor yang membuat sekolah belum bisa menghadirkan layanan perpustakaan keliling dengan frekuensi yang diharapkan.
Meski demikian, program “Pustaka Loka” tetap berjalan dengan pola yang sudah terstruktur, mulai dari penjadwalan kunjungan hingga kewajiban merangkum bacaan. Dengan pengelolaan yang terukur dan diskusi tindak lanjut di kelas, sekolah berupaya menjaga agar kebiasaan membaca tidak berhenti pada aktivitas sesaat.
Bagi SDN 2 Cepokosawit, keberadaan perpustakaan yang terakreditasi serta rutinitas membaca dan merangkum menjadi fondasi literasi yang lebih dari sekadar kegiatan harian. Upaya pembaruan koleksi dan rencana perpustakaan keliling diarahkan agar siswa tetap mendapatkan bahan bacaan yang relevan dan menarik.












