jurnalistik.co.id – Sebanyak 28 SD Negeri di Kabupaten Temanggung dilaporkan hanya memperoleh kurang dari lima murid baru pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah menyiapkan skema penataan ulang sekolah melalui regrouping.
Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Temanggung menyebut penurunan pendaftaran sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Dindikpora setempat, Djoko Prasetyo, mengatakan hal itu terlihat dari tren penerimaan murid baru.
“Secara umum terjadi penurunan (penerimaan murid baru ) dalam dua tahun terakhir,” kata Djoko Prasetyo kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026). Menurut Djoko, penurunan jumlah calon siswa dipengaruhi sejumlah faktor yang saling terkait.
Salah satu penyebab yang disebut adalah angka kelahiran anak yang semakin turun. Selain itu, orang tua dinilai juga makin memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta, sehingga kuota murid baru di SD Negeri berkurang.
Untuk sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan murid baru, Dindikpora akan melakukan penggabungan (regrouping). Djoko menjelaskan, tahun ini rencana regrouping mencakup 10 sekolah.
“Tahun ini rencana kami sepuluh sekolah,” ungkap Djoko. Pemerintah berupaya agar proses penataan tidak mengganggu keberlangsungan belajar, terutama bagi murid yang terdampak.
Meski jumlah murid terbatas, Dindikpora menargetkan suasana belajar tetap kondusif. Pihak dinas juga menyampaikan penjelasan kepada orang tua agar kekhawatiran terkait pertemanan dan kenyamanan anak dapat dikelola.
“Kami yakinkan kepada orangtua bahwa anak-anaknya memiliki teman di sekolah,” imbuhnya. Dengan begitu, proses penyesuaian diharapkan tidak hanya berhenti pada sisi administratif, tetapi juga memberi rasa aman bagi anak.
Salah satu contoh sekolah yang mengalami minim murid baru adalah SDN Butuh. Pada SPMB 2026, sekolah tersebut hanya mendapatkan dua murid baru.
Berita Terkait
Kedua murid itu adalah Gilang dan Miko yang duduk di kelas I. Keduanya mengakui ruang kelas yang mereka hadapi terasa jauh lebih sepi dibanding pengalaman mereka di Taman Kanak-kanak.
Gilang menyampaikan perbandingan tersebut secara gamblang. “Di TK banyak temannya,” tutur Gilang kepada Kompas.com.
Sementara itu, Miko tidak mempermasalahkan kelas yang tidak ramai. Ia justru menganggap kondisi kelas yang tenang membuatnya lebih nyaman saat mengikuti pelajaran.
“Kalau ramai malah diajak guyon . Sepi enggak ada yang ganggu,” ujarnya. Menurut Miko, suasana sepi membantu proses belajar berjalan tanpa gangguan berarti.
Di sisi lain, guru SDN Butuh, Anisa Septiana, memahami bahwa jumlah murid yang sangat sedikit dapat menimbulkan dampak sosial bagi anak. Ia menyadari minimnya murid berpotensi membuat sebagian siswa merasa kesepian.
Meski demikian, informasi di lapangan menunjukkan bahwa sekolah tetap berusaha menjaga kegiatan belajar agar berlangsung dengan sungguh-sungguh. Pemerintah daerah pun menempatkan regrouping sebagai langkah terukur untuk menghadapi tantangan penurunan penerimaan murid baru.
Dengan rencana regrouping yang menyasar 10 sekolah pada tahun ini, Dindikpora berupaya menyeimbangkan kebutuhan layanan pendidikan dengan kondisi demografi yang berubah. Tantangannya kini adalah memastikan penataan berjalan tanpa menghilangkan dukungan sosial bagi anak-anak yang terdampak.
Penataan ulang melalui regrouping diposisikan sebagai respons terhadap kesenjangan antara jumlah calon murid baru dan kapasitas layanan di SD Negeri. Dengan kondisi penerimaan yang menurun dari tahun ke tahun, langkah penyesuaian diperlukan supaya proses pembelajaran tetap berjalan sesuai kebutuhan sekolah yang mengalami kekurangan murid baru. Di saat yang sama, pemerintah daerah menekankan agar penataan tidak menjadi gangguan, melainkan menjadi jalan agar layanan pendidikan tetap berlangsung teratur dan terarah.
Di SDN Butuh, pengalaman Gilang dan Miko memperlihatkan beragam cara anak memaknai kelas yang tidak ramai. Gilang menyoroti perbedaan suasana dibanding saat di TK karena lebih sedikit teman yang ia temui di kelas I. Namun Miko justru memandang ketenangan sebagai faktor yang membuatnya lebih nyaman mengikuti pelajaran tanpa gangguan. Guru SDN Butuh, Anisa Septiana, juga menilai jumlah murid yang sangat sedikit berpotensi memunculkan rasa kesepian pada sebagian siswa, sehingga sekolah perlu terus menjaga kualitas kegiatan belajar agar tetap sungguh-sungguh.
Secara keseluruhan, rencana regrouping yang menargetkan 10 sekolah pada tahun ini menjadi bagian dari upaya Dindikpora untuk merespons tren penurunan penerimaan murid baru sekaligus menjaga aspek sosial yang ikut terdampak. Dinas berusaha agar kekhawatiran orang tua dapat dikelola melalui penjelasan mengenai kondisi pertemanan dan kenyamanan anak. Dengan pendekatan tersebut, penyesuaian diharapkan tidak berhenti pada perubahan struktur sekolah, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi anak-anak yang mengikuti proses penataan.












