jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Andy Burnham mengatakan ia akan berupaya mencari “common ground” dengan Presiden Donald Trump pada pertemuan tatap muka pertama mereka Selasa mendatang. Dalam kunjungan ke New York, Burnham menempatkan momen itu sebagai bagian dari rangkaian diplomasi yang sekaligus membahas sejumlah isu internasional kunci.
Burnham dan Trump dijadwalkan bertemu saat para pemimpin dunia berkumpul pada pertemuan tahunan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut Burnham, komunikasi awal keduanya sudah terbentuk, setelah ia terlibat percakapan telepon dua kali sejak mulai menjabat perdana menteri pada Juli.
Di tengah persiapan perjalanan, pejabat Inggris menyebut percakapan tersebut telah melahirkan hubungan yang “productive relationship”. Burnham menilai fondasi komunikasi itu penting, namun penekanannya kini bergeser pada langkah nyata menjelang pertemuan langsung.
“We’ve found a connection. So, I will go with where I feel it’s right, to meet him where he is at, and search for that common ground, which I’m sure we’ll find,” kata Burnham kepada wartawan dalam perjalanan menuju Amerika Serikat. Ia menambahkan, “I’m looking forward to it.”
Mengenai kondisi hubungan Inggris dan Amerika Serikat, Burnham menegaskan keyakinannya bahwa relasi kedua negara “as strong as it’s ever been”. Baginya, pertemuan perdana merupakan kesempatan untuk menegaskan kembali arah kerja sama, sekaligus menjaga komunikasi tetap membumi pada kepentingan bersama.
Burnham juga melakukan kunjungan bersama istrinya, Marie-France Van Heel, selama satu hari diplomasi sebelum berpidato di Sidang Umum PBB. Dalam forum itu, ia menargetkan pembahasan yang tidak lepas dari topik peluang dan risiko yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
Ia menyatakan akan menyampaikan dorongan untuk kerja sama internasional yang lebih erat terkait AI. Selain itu, Burnham juga berkomitmen membawa pesan mengenai “a just and lasting peace in Ukraine” serta upaya yang diperbarui untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, dengan alasan bahwa apa yang terjadi di luar negeri berdampak pada kehidupan di dalam negeri.
Burnham turut menyebut rencana pengumuman dimulainya kerja sama baru Inggris–AS di bidang AI dan Autonomy. Fokus kemitraan tersebut adalah perlindungan infrastruktur nasional yang dianggap vital melalui pemanfaatan teknologi AI.
Rencana itu, menurut pemberitaan, diperkirakan akan mendapat sorotan dari Ketua Partai Liberal Demokrat Sir Ed Davey pada hari terakhir konferensi partainya. Davey disebut akan mengkritik bahwa rencana tersebut “doesn’t come close to meeting the scale of the threat” dan berisiko “only risks making us more dependent on a Trump administration in the pocket of the tech bros”.
Davey juga dikabarkan akan mendorong jeda global bagi “superintelligent AI” serta mengusulkan pembentukan badan keselamatan AI internasional. Kritiknya muncul setelah serangkaian peringatan tegas dari kalangan industri AI mengenai potensi bahaya teknologi tersebut.
Pertemuan dengan tantangan publik yang lebih rumit
Berita Terkait
Bagi seorang perdana menteri baru, pertemuan pertama dengan presiden Amerika Serikat selalu dipandang sebagai perjumpaan yang menentukan. Namun, para pejabat Inggris juga memahami adanya risiko tambahan ketika presiden Amerika digambarkan sebagai sosok yang paling sulit diprediksi dalam sejarah politik modern AS.
Sebelum pertemuan berlangsung, Inggris juga mengungkap bahwa untuk pertama kalinya kedua negara menembakkan torpedo Amerika dari wahana bawah laut tanpa awak buatan Inggris dalam sebuah latihan militer. Dalam keterangannya, torpedo itu disebut “heavyweight” dan dirancang untuk menenggelamkan kapal serta kapal selam yang menyelam dalam.
Proses peluncurannya dilakukan di perairan Inggris pekan lalu. Torpedo tersebut ditembakkan dari sebuah wahana bawah laut sepanjang 12 meter bernama Excalibur, yang dibuat di Plymouth. Peristiwa ini disebut menjadi pertama kalinya baik Inggris maupun AS meluncurkan torpedo dari kendaraan bawah laut tanpa awak, bukan dari kapal selam berawak.
Langkah itu dipandang sebagai terobosan dalam upaya melindungi infrastruktur vital, termasuk kabel data laut dalam. Burnham, dalam kesempatan yang sama, menggarisbawahi makna kerja sama tersebut.
“Our work together already shows what can be achieved when our two countries combine our expertise and innovation,” ujar Burnham. Pernyataan itu menempatkan latihan militer sebagai simbol lain dari kemampuan kedua negara menyatukan inovasi dan keahlian.
Isu Chagos dan pangkalan Diego Garcia
Selain membahas agenda pertemuan dengan Trump, Burnham juga ditanya wartawan mengenai posisi pemerintah Inggris terkait Kepulauan Chagos. Pemerintah Inggris tengah mencari skema penyerahan Kepulauan Chagos kepada Mauritius sekaligus membayar untuk menyewa kembali pangkalan militer gabungan di Diego Garcia.
Dalam laporan disebutkan bahwa kesepakatan tersebut dijeda tanpa batas setelah Trump menarik dukungan yang sebelumnya menjadi bagian dari proses perundingan. Konfirmasi mengenai penangguhan itu disebut terjadi pada April.
Burnham mengatakan ia berbicara dengan perdana menteri Mauritius Navin Ramgoolam pada Senin. Ia lalu ditanya apakah ia mendukung kesepakatan tersebut dan bagaimana rencananya untuk meyakinkan Trump agar kembali memberikan dukungan.
Menjawab pertanyaan itu, Burnham menyampaikan, “I said that we remain determined to secure the long-term operation of the base, which is crucial to our security and that of our allies. ”The assurance I gave was I will work towards a resolution, at the moment we don’t have that, but I gave an assurance that I would commit to working towards one.”
Dengan demikian, pertemuan Burnham–Trump diposisikan bukan hanya sebagai perjumpaan simbolik, tetapi juga sebagai titik tumpu untuk menegosiasikan sejumlah agenda lintas bidang. Mulai dari arah kerja sama AI, tantangan keamanan, hingga kelanjutan pembahasan menyangkut pangkalan strategis, momen Selasa menjadi arena yang menentukan apakah “common ground” yang ia incar dapat benar-benar terbentuk.












