Teknologi

BI Pakai QRIS untuk Credit Scoring, Pengguna Tembus 71 Juta

×

BI Pakai QRIS untuk Credit Scoring, Pengguna Tembus 71 Juta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pengguna Capai 71 Juta, BI Akan Gunakan QRIS untuk Credit Scoring - Market

jurnalistik.co.id – Bank Indonesia berencana memanfaatkan QRIS untuk keperluan credit scoring. Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan langkah tersebut dalam Danantara Technology Investment Forum pada Senin (26/10/2026).

Menurut Destry, BI sedang “membuat QR Indonesian Standard atau QRIS” dan menyebut adopsinya kini sudah mencapai skala besar. Ia mengatakan, pengguna QRIS telah menembus 71 juta, sementara jumlah merchant tercatat 49,4 juta.

Destry menilai perkembangan QRIS tidak hanya memperluas ekosistem pembayaran, tetapi juga membuka akses keuangan bagi para pelaku usaha. Ia menekankan bahwa mayoritas pengguna QRIS berasal dari segmen UMKM.

“Kita bikin QR Indonesian Standard atau QRIS dan sekarang penggunanya sudah mencapai 71 juta user dengan merchantnya sudah 49,4 juta,” kata Destry dalam forum tersebut. Pernyataan itu ia sampaikan saat menjelaskan arah pemanfaatan data transaksi dalam sistem pembayaran.

Ia juga menyebut komposisi pengguna QRIS yang didominasi usaha mikro, kecil, dan menengah. Destry menyatakan “97% pengguna QRIS adalah UMKM,” yang menurutnya menunjukkan QRIS telah menjangkau aktivitas ekonomi harian di tingkat pelaku usaha.

Dalam konteks tersebut, Destry menyinggung rencana pemanfaatan informasi transaksi dari merchant untuk mendukung proses penilaian kredit. Ia menyebut data transaksi nantinya dapat dipakai sebagai landasan credit scoring.

“Nantinya data dari merchant ini bisa menjadi semacam credit scoring. Kedepannya akan seperti itu,” ujar Destry. Dengan kalimat tersebut, ia menegaskan bahwa pemanfaatan QRIS tidak berhenti pada layanan pembayaran, melainkan berpotensi merambah ke penilaian kelayakan kredit di masa mendatang.

Gagasan credit scoring berbasis aktivitas di sistem pembayaran dinilai dapat memperluas cara lembaga keuangan memahami profil transaksi. Melalui pemrosesan data yang relevan, proses penilaian kredit diharapkan menjadi lebih terstruktur untuk pelaku usaha yang selama ini membutuhkan akses pembiayaan.

Selain pengembangan QRIS untuk credit scoring, Destry juga menyoroti layanan fast payment yang dimiliki BI. Ia menyampaikan bahwa sistem pembayaran cepat tersebut beroperasi 24×7.

Destry mengklaim bahwa fast payment 24×7 memberikan penghematan secara ekonomi. Ia juga menyebut bahwa skema pembayaran cepat dengan pola operasi seperti itu belum banyak diterapkan oleh bank sentral di negara lain.

Dengan demikian, BI memposisikan QRIS dan infrastruktur fast payment sebagai bagian dari strategi digital yang saling melengkapi. QRIS diproyeksikan tidak hanya menjadi kanal transaksi, tetapi juga sumber informasi untuk credit scoring, sementara fast payment memperkuat kecepatan dan ketersediaan layanan pembayaran.

Langkah yang dijelaskan Destry memperlihatkan fokus pada peningkatan efektivitas ekosistem pembayaran sekaligus perluasan peluang akses keuangan. Di tengah dinamika kebutuhan pembiayaan UMKM, penggunaan data dari transaksi merchant menjadi salah satu arah yang digarisbawahi.

Dalam forum yang ia sampaikan, Destry menempatkan inisiatif QRIS sebagai bagian dari upaya integrasi standar pembayaran nasional. Ia mengaitkan peningkatan adopsi di lapangan dengan ketersediaan data transaksi yang pada akhirnya dapat membantu kebutuhan penilaian kredit yang lebih terukur.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan QRIS telah menyebar dari sisi volume pengguna maupun jumlah merchant. Dengan skala tersebut, informasi yang terkumpul dari aktivitas pembayaran pelaku usaha dinilai relevan untuk membangun gambaran profil transaksi, khususnya pada pelaku usaha yang selama ini berupaya memperoleh akses pembiayaan.

Destry menggarisbawahi bahwa peran QRIS sangat kuat di ranah UMKM. Dominasi pengguna dari segmen tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi harian di tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah dapat terdokumentasi melalui proses pembayaran, sehingga pemanfaatannya berpotensi mendukung langkah lanjutan termasuk credit scoring.

Sementara itu, BI juga memosisikan layanan fast payment sebagai penguat ekosistem yang berjalan cepat dan andal karena beroperasi 24×7. Dengan kombinasi kecepatan layanan pembayaran dan pemanfaatan data transaksi, Destry menampilkan arah strategi digital yang saling melengkapi antara QRIS dan infrastruktur pembayaran cepat untuk memperbesar akses keuangan.