jurnalistik.co.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mendapatkan dukungan pendanaan internasional untuk tiga proyek panas bumi senilai total 477,87 juta dollar AS. Pendanaan tersebut muncul setelah ketiga proyek dimasukkan ke dalam Green Book 2026, yaitu Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).
Dari tiga proyek tersebut, PGE menyebut Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) dan PLTP Lumut Balai Unit 4 dengan kapasitas yang sama, 55 MW. Selain itu, ada pula PLTP Lahendong Unit 7-8 dengan kapasitas 50 MW.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, masuknya proyek-proyek ke dalam Green Book 2026 menjadi pengakuan atas kesiapan proyek untuk melangkah ke tahap pengembangan berikutnya. Ia menilai pencantuman tersebut sekaligus menunjukkan kepercayaan investor terhadap kinerja perusahaan.
Hingga kuartal I 2026, PGE mencatat laba bersih 43,90 juta dollar AS, naik 40 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar 31,35 juta dollar AS. Ahmad Yani menyebut pencapaian itu memperkuat keyakinan para investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek PGE.
“Kami melihat kinerja positif yang dibukukan perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE,” ujar Ahmad Yani dalam keterangan tertulis, Jumat (5/6/2026).
Ahmad Yani menjelaskan, pencantuman proyek dalam Green Book membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional. Menurutnya, dukungan tersebut diharapkan dapat mendukung percepatan realisasi proyek serta memperluas visibilitas proyek-proyek Perseroan di hadapan calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global.
“Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional,” kata Ahmad Yani.
Berdasarkan Green Book 2026, total pendanaan untuk ketiga proyek panas bumi PGE mencapai 477,87 juta dollar AS. Rinciannya, PLTP Lumut Balai Unit 3 yang ditargetkan beroperasi pada 2030 memperoleh pinjaman sebesar 158,86 juta dollar AS dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
Sementara itu, PLTP Lumut Balai Unit 4 yang ditargetkan beroperasi pada 2032 mendapatkan pendanaan 148,97 juta dollar AS dari JICA. Dengan demikian, dukungan pendanaan internasional yang dikantongi PGE mencakup komitmen yang ditujukan untuk penguatan portofolio proyek panas bumi yang terus dipersiapkan untuk masuk ke fase pengembangan lanjutan.
Di tengah dorongan percepatan realisasi, pencantuman proyek ke dalam Green Book 2026 diposisikan sebagai penanda kesiapan pelaksanaan. Bagi PGE, langkah tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat daya tarik proyek di mata para pihak yang berpotensi terlibat dalam pendanaan dan kemitraan strategis berskala global.
Dengan total pendanaan yang disebutkan mencapai 477,87 juta dollar AS, Perseroan memandang penguatan fundamental bisnis serta pematangan portofolio proyek sebagai landasan pertumbuhan berkelanjutan. Harapannya, rangkaian dukungan tersebut turut mendukung agenda transisi energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi panas bumi.
Green Book 2026 yang memuat ketiga rencana prioritas pinjaman luar negeri menjadi rujukan penting bagi tahapan lanjutan proyek panas bumi PGE. Dengan masuknya proyek ke dalam daftar tersebut, perseroan memposisikan rencana pengembangan sebagai proses yang sudah mendapat penempatan pada kerangka perencanaan pembiayaan pada periode 2026.
Di sisi bisnis, PGE juga mengaitkan capaian kinerja keuangan dengan keyakinan pelaku pasar. Hingga kuartal I 2026, laba bersih yang meningkat memperkuat narasi bahwa fundamental perusahaan bergerak positif seiring kesiapan proyek-proyeknya untuk melangkah lebih jauh.
Lebih jauh, dukungan pendanaan internasional yang tercermin dalam total 477,87 juta dollar AS diharapkan dapat membantu proses percepatan realisasi sekaligus menjaga visibilitas portofolio perseroan. PGE melihat rangkaian dukungan tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional melalui pemanfaatan energi panas bumi.










