Peristiwa

Tim Medis BTN JAKIM 2026 Diisi Dokter Spesialis hingga Paramedis Berpengalaman

0
×

Tim Medis BTN JAKIM 2026 Diisi Dokter Spesialis hingga Paramedis Berpengalaman

Sebarkan artikel ini
Tim Medis BTN JAKIM 2026 Diisi Dokter Spesialis hingga Paramedis Berpengalaman News 15 Juni 2026
Ilustrasi: Tim Medis BTN JAKIM 2026 Diisi Dokter Spesialis hingga Paramedis Berpengalaman

jurnalistik.co.id – Panitia BTN Jakarta International Marathon (BTN JAKIM) 2026 mengerahkan tim medis untuk mendukung penyelenggaraan ajang lari yang berlangsung pada 13-14 Juni 2026. Langkah ini dilakukan dengan menyiapkan tenaga kesehatan kompeten dan berpengalaman agar layanan tetap bisa menjangkau kebutuhan peserta selama perlombaan.

Medical Director BTN JAKIM, dr Andhika Raspati, menyampaikan bahwa personel medis yang diterjunkan berasal dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dan kesehatan. Dalam keterangan resminya yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Senin (15/6/2026), ia menjelaskan, “Meliputi dokter spesialis kedokteran olahraga, dokter spesialis anestesi, dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kedokteran Olahraga, dokter umum, fisioterapis, perawat, hingga paramedis terlatih,” ujar Andhika.

Andhika menegaskan, sistem pelayanan medis yang disiapkan panitia telah mengacu pada standar penyelenggaraan ajang lari internasional. Ia juga menyebut rencana kerja tim medis telah mendapat persetujuan dari Technical Delegate Federasi World Athletics.

Selain merujuk standar, persiapan tim juga dilakukan melalui tahapan operasional sebelum bertugas di lapangan. Ia menambahkan, “Seluruhnya telah mengikuti pelatihan, briefing , serta persiapan operasional sebelum bertugas di lapangan,” ungkap dia.

Untuk pelaksanaan di area lomba, BTN JAKIM 2026 melibatkan 257 personel medis. Mereka ditempatkan di 10 tenda medis, 21 ambulans, serta 40 titik mobile atau roaming medic di sepanjang rute perlombaan.

Panitia menyatakan jumlah tersebut meningkat sekitar 35 persen dibanding penyelenggaraan tahun lalu. Andhika menjelaskan, “Peningkatan ini kami lakukan meski jumlah pelari per harinya (24.000) lebih sedikit dibanding jumlah pelari tahun lalu (33.000),” ujar Andhika.

Meski demikian, Andhika mengakui tim medis menghadapi tantangan pada hari kedua penyelenggaraan. Ia menyampaikan bahwa terjadi lonjakan panggilan gawat darurat secara bersamaan di berbagai titik lintasan, sebagaimana dikatakannya, “Pada hari kedua pelaksanaan BTN JAKIM 2026, terjadi lonjakan panggilan gawat darurat secara bersamaan di berbagai titik rute,” ucapnya.

Menurut Andhika, situasi tersebut membuat tim medis perlu melakukan koordinasi dan penanganan secara simultan sesuai tingkat kegawatdaruratan pasien. Ia menjelaskan bahwa kondisi lonjakan panggilan memengaruhi ritme respons di lapangan, sehingga “pergerakan dan penugasan personel di sepanjang rute, termasuk ambulans, membutuhkan waktu lebih untuk menjawab seluruh panggilan tersebut,” katanya.

Di tengah pelaksanaan, Andhika juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya salah satu peserta BTN JAKIM 2026, Agus Putranadi. Ia memohon maaf kepada keluarga korban melalui pernyataan, “Semoga amal ibadah almarhum diterima oleh Allah SWT, serta kerabat yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Mohon maaf atas segala kekurangan kami,” ujar Andhika.

Dengan komposisi tenaga medis yang melibatkan dokter spesialis hingga paramedis terlatih, panitia berupaya memastikan penanganan kedaruratan dapat berjalan sesuai kebutuhan di berbagai titik rute. Namun, tantangan pada hari kedua menunjukkan bahwa meski persiapan sudah mengikuti standar internasional dan telah disetujui Technical Delegate Federasi World Athletics, respons di lapangan tetap membutuhkan koordinasi cepat ketika panggilan gawat darurat datang secara bersamaan.

Menurut penjelasan Medical Director BTN JAKIM, dr Andhika Raspati, layanan medis yang diterapkan tidak hanya mengandalkan satu jenis tenaga. Tim disusun dari dokter spesialis kedokteran olahraga, dokter spesialis anestesi, dokter peserta PPDS Ilmu Kedokteran Olahraga, dokter umum, serta fisioterapis, perawat, dan paramedis terlatih agar penanganan dapat menyesuaikan kebutuhan kondisi peserta.

Dalam operasionalnya, panitia menata penempatan tenaga kesehatan melalui beberapa bentuk layanan di sepanjang rute. Tim medis ditempatkan pada 10 tenda medis, didukung 21 ambulans, serta 40 titik mobile atau roaming medic. Pola ini dirancang untuk menjaga keberadaan layanan di titik-titik yang berbeda, sekaligus memudahkan penugasan ketika situasi di lapangan berubah.

Andhika juga menyoroti bahwa pada hari kedua, permintaan penanganan darurat muncul pada banyak titik secara bersamaan. Kondisi tersebut membuat tim harus mengutamakan koordinasi simultan sesuai tingkat kegawatdaruratan, sehingga ritme respons menyesuaikan dan pergerakan ambulans maupun penugasan mobile memerlukan waktu lebih untuk menjangkau seluruh panggilan. Di tengah proses itu, ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Agus Putranadi dan memohon maaf kepada keluarga serta seluruh pihak.