jurnalistik.co.id – Toshifumi Suzuki, pionir ritel yang mengangkat 7-Eleven menjadi jaringan toko kelontong terbesar di dunia dan mantan CEO Seven & i Holdings Co, meninggal dunia akibat gagal jantung pada usia 93 tahun. Kabar duka itu diumumkan perusahaan ritel asal Jepang tersebut dalam pernyataan resmi pada Senin (25/5), dengan penjelasan bahwa Suzuki wafat pada 18 Mei lalu.
Dalam pernyataannya, perusahaan menyampaikan penghormatan atas jasa Suzuki semasa hidupnya. “Kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas segala kebaikan dan dukungan yang diberikan kepada beliau semasa hidupnya, dan dengan penuh rasa hormat mengabarkan kepergian beliau,” tulis pihak perusahaan.
Suzuki dikenal sebagai sosok yang merevolusi cara masyarakat Jepang berbelanja ketika membuka gerai waralaba 7-Eleven pertama di Jepang pada 1974. Saat itu, toko-toko kelontong tradisional masih mendominasi sektor ritel, sehingga kehadiran format gerai modern tersebut menjadi langkah penting yang mengubah lanskap belanja harian di negeri itu.
Langkah Suzuki tidak berhenti di pasar domestik. Ia kemudian mengakuisisi Southland Corp, perusahaan induk 7-Eleven di Amerika Serikat, setelah perusahaan tersebut bangkrut pada 1990. Akuisisi itu menandai babak baru dalam ekspansi 7-Eleven, sekaligus memperkuat posisi Suzuki sebagai tokoh kunci di balik pertumbuhan raksasa convenience store tersebut.
Di bawah kepemimpinannya, jaringan 7-Eleven tumbuh sangat pesat dan menjelma menjadi kekuatan besar di industri ritel global. Hingga Suzuki mundur pada Mei 2016, 7-Eleven telah berkembang menjadi lebih dari 55.000 gerai yang tersebar di setidaknya 16 negara. Skala itu menempatkan 7-Eleven sebagai jaringan toko kelontong terbesar di dunia.
Dari toko kelontong tradisional ke jaringan global
Perjalanan Suzuki menunjukkan bagaimana sebuah model bisnis ritel bisa berkembang dari gerai waralaba lokal menjadi jaringan internasional yang menjangkau jutaan pelanggan setiap hari. Pembukaan gerai pertama di Jepang pada 1974 menjadi titik awal transformasi itu, sementara akuisisi Southland Corp pada 1990 memperluas pengaruh 7-Eleven ke panggung dunia.
Dalam perjalanan panjang tersebut, Suzuki menjadi figur yang identik dengan pertumbuhan 7-Eleven. Namanya melekat pada ekspansi yang tidak hanya mengubah perusahaan, tetapi juga menggeser kebiasaan belanja masyarakat di banyak negara. Dari toko kecil yang melayani kebutuhan harian, 7-Eleven berkembang menjadi jaringan berskala besar yang hadir di berbagai pasar internasional.
Kepergian Suzuki menandai berakhirnya satu era bagi industri ritel Jepang dan jaringan 7-Eleven yang ia bantu bangun. Sosoknya dikenang sebagai pionir yang melihat peluang lebih awal, lalu mengubahnya menjadi model bisnis yang mampu bertahan dan berkembang lintas negara selama puluhan tahun.
Warisan Suzuki bukan hanya terletak pada besarnya jaringan yang ia bangun, tetapi juga pada cara ia membaca perubahan kebutuhan konsumen sejak dini. Ia mendorong sebuah format belanja yang lebih praktis, cepat, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, lalu menjadikannya model yang mampu bertumbuh jauh melampaui pasar asalnya.
Perubahan yang ia bawa juga menunjukkan bahwa ritel bukan sekadar urusan menjual barang kebutuhan harian, melainkan soal membentuk kebiasaan baru dalam masyarakat. Dari satu gerai pertama di Jepang hingga ribuan gerai di berbagai negara, jejak yang ditinggalkannya memperlihatkan konsistensi visi dan kemampuan mengeksekusi pertumbuhan dalam jangka panjang.
Bagi Seven & i Holdings Co dan 7-Eleven, kabar kepergian Suzuki menjadi penanda penting atas sosok yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari fondasi perusahaan. Namanya akan terus dikaitkan dengan fase ketika jaringan tersebut berubah dari bisnis ritel biasa menjadi simbol ekspansi global yang dikenal luas oleh konsumen di banyak negara.









