jurnalistik.co.id – Hizbullah membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim telah menjalin komunikasi langsung dengan pihak mereka. Bantahan itu disampaikan pejabat senior Hizbullah dalam keterangan kepada AFP.
Menurut para pejabat senior Hizbullah, hingga saat ini tidak ada kontak resmi yang terjadi antara kedua belah pihak. Pernyataan ini muncul setelah Trump memberikan sinyal dalam beberapa kesempatan bahwa pemerintahannya telah melakukan pembicaraan dengan kelompok yang didukung Iran tersebut.
Bantahan Hizbullah
Pejabat senior Hizbullah, Mahmud Qomati, menyatakan dalam keterangan tertulis kepada AFP bahwa klaim Trump tidak berdasarkan realitas di lapangan. Ia menegaskan bahwa tidak ada kontak langsung antara Presiden Trump dan pejabat Hizbullah.
“Tidak ada kontak langsung antara Presiden Trump dan pejabat Hezbollah,” tegas Qomati pada Senin (8/6/2026). Dengan pernyataan itu, Qomati menolak gagasan adanya komunikasi langsung sebagaimana yang disampaikan Trump di ruang publik.
Qomati juga menyebut kemungkinan rujukan Trump berbeda dari apa yang dipahami publik. Ia mengatakan Trump kemungkinan besar merujuk pada komunikasi yang terjalin melalui jalur perantara, bukan komunikasi langsung.
Dalam penjelasannya, Qomati menduga pembicaraan yang dimaksud melibatkan penasihat Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri. Ia menyampaikan bahwa Berri selama ini bertindak sebagai perantara dalam berbagai proses komunikasi.
“Mungkin (Trump) merujuk pada fakta bahwa penasihat Ketua Parlemen Nabih Berri berkomunikasi dengan Duta Besar AS dan menyampaikan pesan-pesan,” jelas Qomati. Pernyataan itu menempatkan jalur perantara sebagai titik yang mungkin menjelaskan klaim Trump.
Qomati menyebut pula perkembangan pada Senin, ketika Berri dilaporkan kembali bertemu dengan Duta Besar AS Michel Issa. Ia memperlihatkan bahwa pertemuan-pertemuan semacam itu dapat menjadi konteks bagi pesan yang disampaikan melalui perantara.
Klaim Trump sebelumnya
Klaim Trump sendiri disampaikan dalam upaya penghentian perang di Lebanon antara Israel dan milisi Hizbullah. Pada Rabu (3/6/2026), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS telah membuka jalur komunikasi.
Trump menyatakan, “Kami sebenarnya berbicara dengan Hezbollah untuk pertama kalinya,” ujar Trump saat itu. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai sinyal adanya pembicaraan yang, menurut Trump, terjadi untuk pertama kali.
Namun, dua hari sebelumnya, Trump juga sempat mengeklaim hal yang serupa. Klaim itu muncul setelah Israel mengancam akan kembali membom pinggiran selatan Beirut yang merupakan benteng Hizbullah.
Dalam kesempatan berbeda, Trump berkata, “Melalui perwakilan tingkat tinggi, saya melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Hezbollah,” kata Trump. Dengan kalimat tersebut, Trump merujuk pada adanya pembicaraan melalui perwakilan tingkat tinggi.
Qomati menilai pernyataan Trump justru memperlihatkan sikap oportunistik Washington. Penilaian itu sekaligus menjadi jawaban Hizbullah terhadap klaim yang sempat diberi sinyal oleh Trump dalam beberapa kesempatan.
Dengan bantahan tersebut, Hizbullah menegaskan bahwa komunikasi yang mungkin terjadi tidak dapat disamakan dengan kontak langsung. Sementara itu, rujukan yang disebut Qomati menempatkan peran perantara, termasuk penasihat Nabih Berri, sebagai bagian dari mekanisme penyampaian pesan.
Melalui keterangan yang disampaikan kepada AFP, Qomati juga menegaskan bahwa klaim Trump perlu dilihat secara lebih cermat terhadap konteks jalur komunikasi yang benar-benar berlangsung. Dalam gambaran Hizbullah, pembicaraan yang ada—jika merujuk pada pertukaran pesan—berlangsung melalui perantara, bukan melalui kontak langsung antara Trump dan pejabat Hizbullah.
Dalam penjelasan Hizbullah, istilah “pembicaraan” tidak otomatis sama dengan kontak langsung. Penilaian itu menekankan bahwa publik bisa saja menangkap narasi komunikasi, tetapi inti yang perlu dipastikan adalah apakah ada pertemuan atau percakapan langsung antar pejabat, atau hanya perpindahan pesan melalui pihak lain.
Bantahan tersebut juga terkait dengan cara klaim Trump diproyeksikan kepada publik, terutama ketika klaim itu dikaitkan dengan upaya menghentikan perang di Lebanon. Hizbullah memposisikan perbedaan istilah itu sebagai dasar penolakan, sekaligus memberi pemahaman bahwa jalur perantara yang disebut Qomati menjadi elemen penjelas yang, menurut mereka, lebih sesuai dengan kejadian yang terjadi.












