jurnalistik.co.id – Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 menunjukkan siapa kreditur terbesar yang menopang posisi pembiayaan luar negeri. Berdasarkan publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Juni 2026, Singapura menjadi kreditur teratas dengan nilai yang menonjol.
Hingga April 2026, posisi ULN Indonesia yang berasal dari Singapura mencapai 52,184 miliar dollar AS. Nilai tersebut setara sekitar Rp 929,93 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.803 per dollar AS.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan kreditur utama lain seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan Hong Kong. Data ini memperlihatkan konsentrasi ULN pada kreditur tertentu pada periode yang sama.
Secara keseluruhan, posisi ULN Indonesia berdasarkan kreditur mencapai 207,097 miliar dollar AS per April 2026. Dengan kurs yang sama, total ULN itu setara sekitar Rp 3.687,24 triliun.
Total tersebut meningkat dibandingkan April 2025 yang sebesar 205,988 miliar dollar AS. Dengan demikian, terdapat kenaikan pada besaran ULN Indonesia ketika dilihat dari total posisi menurut kreditur.
Publikasi SULNI Juni 2026 yang diterbitkan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) juga menegaskan dinamika pergeseran kreditur dalam waktu yang lebih panjang. Dalam peta kreditur Indonesia, perubahan tampak ketika dibandingkan dengan kondisi awal dekade terakhir.
Jika pada awal 2010-an Jepang pernah menjadi salah satu kreditur terbesar, kini Singapura memimpin dengan jarak yang cukup lebar. Pergeseran ini tampak ketika nilai kreditur utama dibandingkan lintas tahun.
Kreditur terbesar: Singapura
Singapura menempati posisi teratas dengan nilai pinjaman sebesar 52,184 miliar dollar AS atau sekitar Rp 929,93 triliun pada April 2026. Nilai tersebut menunjukkan posisi Singapura yang tetap kuat dibandingkan kreditur lainnya.
Posisi Singapura sebagai kreditur terbesar disebut bukan fenomena baru. Dalam satu dekade terakhir, nilainya relatif stabil di kisaran 50 miliar hingga 60 miliar dollar AS.
Pada 2013, posisi utang Indonesia kepada Singapura tercatat sebesar 49,830 miliar dollar AS. Nilai itu kemudian meningkat menjadi 69,366 miliar dollar AS pada 2019, sebelum perlahan turun dan berada di level 52,184 miliar dollar AS pada April 2026.
Besar porsi Singapura tidak terlepas dari perannya sebagai pusat keuangan regional. Banyak perusahaan multinasional dan lembaga keuangan yang berkantor di negara tersebut, sehingga aliran pembiayaan ke Indonesia tercatat berasal dari Singapura.
Jika dibandingkan dengan total ULN Indonesia menurut kreditur yang mencapai 207,097 miliar dollar AS, maka porsi Singapura mencapai sekitar seperempat dari keseluruhan utang luar negeri Indonesia. Perbandingan ini menegaskan signifikansi Singapura dalam struktur kreditur ULN.
Amerika Serikat di posisi kedua
Di bawah Singapura, Amerika Serikat menempati urutan kedua sebagai kreditur terbesar Indonesia. Pada April 2026, posisi utang luar negeri Indonesia yang berasal dari Amerika Serikat tercatat sebesar 27,989 miliar dollar AS atau sekitar Rp 498,34 triliun.
Nilai tersebut naik dibandingkan posisi pada April 2025 yang sebesar 27,614 miliar dollar AS. Kenaikan pada periode setahun terakhir ini menunjukkan Amerika Serikat tetap menjadi salah satu sumber pembiayaan luar negeri yang penting.
Dari sisi rentang waktu yang lebih panjang, posisi Amerika Serikat menunjukkan tren yang bergerak naik pada pertengahan dekade. Pada 2013, nilai utang Indonesia kepada Amerika Serikat tercatat sebesar 10,102 miliar dollar AS.
Setelah itu, nilainya terus bertambah hingga mencapai lebih dari 30 miliar dollar AS pada 2021 dan 2022. Namun, kemudian turun dan kembali berada di kisaran 27 miliar dollar AS pada 2026.
Dengan membandingkan Singapura dan Amerika Serikat, data SULNI Juni 2026 memperlihatkan struktur kreditur yang bertumpu pada dua pusat utama. Meski demikian, besarnya jarak nilai antara kreditur pertama dan kedua tetap menjadi penanda utama dalam peta ULN berdasarkan kreditur pada April 2026.












