Daerah

Warga Cilincing Jakarta Utara Bangun Rumah dari Sampah, Cerminan Krisis Hunian

×

Warga Cilincing Jakarta Utara Bangun Rumah dari Sampah, Cerminan Krisis Hunian

Sebarkan artikel ini
Warga Cilincing Jakut Bangun Rumah dari Sampah, Cermin Krisis Hunian News 19 Juni 2026
Ilustrasi: Warga Cilincing Jakut Bangun Rumah dari Sampah Cermin Krisis Hunian

jurnalistik.co.id – Di Jalan Pengasinan, Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, sebuah rumah tampak berdiri tegak di atas selokan, meski dindingnya tersusun dari potongan papan bekas yang tidak seragam. Sebagian papan terlihat memudar karena cuaca, sementara papan lainnya ditopang bambu yang mulai mengering dan perlahan lapuk karena termakan usia.

Bangunan berukuran 3 x 6 meter itu dibuat dari kumpulan sampah organik keras. Di balik tampilannya yang sederhana, rumah tersebut menjadi tempat berlangsungnya rutinitas sehari-hari Ahmad (42) dan ibunya yang sudah lanjut usia.

Ahmad menempati rumah itu untuk berbagai aktivitas seperti tidur, mandi, hingga memasak. Ia tinggal di bangunan yang lahir dari barang-barang yang dibuang orang lain, tetapi masih bisa dimanfaatkan kembali.

Dalam kondisi ketika hunian yang layak semakin sulit dijangkau, barang-barang yang berserakan di tempat sampah berubah fungsi menjadi cara bertahan. Ahmad mengandalkan material sisa itu sejak rumah layak tidak lagi berada dalam jangkauannya.

Ahmad membangun rumah tersebut karena tidak mampu lagi mengontrak setelah kediamannya di Kalibaru, Cilincing terbakar. Sejak tiga tahun lalu, ia mengambil keputusan untuk mengelola sampah menjadi ruang hidup.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ahmad bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per hari. Dengan pendapatan sebesar itu, pilihan untuk kembali menempati rumah kontrakan menjadi semakin sempit.

Selain membangun rumah, Ahmad juga mendirikan musala dan taman dari barang-barang bekas yang dipungut dari tempat sampah. Kehadiran musala outdoor buatan Ahmad menjadi bagian dari upaya membangun ruang ibadah sekaligus penopang kehidupan sosial di lingkungan tempat ia bertahan.

Menurut pengamatan di lokasi, rumah tersebut berdiri sebagai upaya yang tidak sekadar menggantikan bangunan fisik, melainkan juga memelihara harapan hidup bagi warga yang tinggal di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Ahmad bersama ibunya menjadikan rumah itu sebagai satu-satunya tempat berlindung.

Krisis hunian yang melanda wilayah perkotaan dipandang menjadi akar persoalan dari pilihan hidup seperti yang dijalani Ahmad. Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai keputusan Ahmad membangun rumah dari sampah lahir karena sulitnya mengakses hunian yang layak di Jakarta.

Rakhmat Hidayat mengatakan, “Sebenarnya akar masalahnya adalah krisis hunian (housing crisis) di masyarakat perkotaan. Ada kesenjangan besar dalam akses terhadap perumahan,” ucap dia ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (17/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa kebijakan hunian di perkotaan, termasuk Jakarta, dinilai hanya mengutamakan kepentingan masyarakat kelas menengah atas. Sementara itu, kelas bawah dinilai tidak terakomodasi dengan baik dalam sistem yang mengatur akses tempat tinggal.

Dalam situasi seperti itu, warga dari kelas menengah bawah kerap tersisih dari struktur kebijakan akses hunian yang disusun oleh pemerintah. Ketika ruang pilihan menyempit, masyarakat kemudian terdorong mencari berbagai cara agar tetap memiliki hunian yang dianggap layak.

Rakhmat mencontohkan bahwa bentuk bertahan yang muncul antara lain membangun rumah semipermanen dari barang bekas yang dipungut dari tempat sampah. Model hunian semacam ini dapat hadir bersamaan dengan pilihan lain seperti tinggal di gerobak, menggunakan tenda-tenda, hingga hidup di kolong jembatan.

Dalam konteks tersebut, keberadaan rumah Ahmad memperlihatkan bagaimana kesulitan akses hunian dapat mendorong warga mengambil jalan yang paling mungkin dilakukan. Material yang semula dianggap tidak bernilai menjadi bahan pembentuk ruang hidup, sementara kebutuhan dasar tetap harus dipenuhi di tengah keterbatasan pendapatan.

Kisah Ahmad juga menegaskan bahwa krisis hunian tidak berhenti pada ketiadaan tempat tinggal. Bagi keluarga seperti Ahmad, krisis itu bekerja hingga ke detail kehidupan harian—dari cara berteduh, menjalankan kebiasaan mandi, memasak, sampai menyediakan tempat ibadah melalui musala yang ia bangun sendiri.

Bagi Rakhmat Hidayat, persoalan seperti ini berkaitan erat dengan kesenjangan akses terhadap perumahan di masyarakat perkotaan. Ia menilai kesenjangan tersebut membuat sebagian warga tidak memiliki jalur yang memadai untuk mendapatkan hunian layak, sehingga pilihan bertahan akhirnya bergeser menjadi upaya-upaya yang lebih “darurat” namun tetap dibutuhkan untuk meneruskan hidup.