jurnalistik.co.id – Warga Kota Solo, Jawa Tengah, mengeluhkan pemadaman listrik bergilir yang sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir tanpa pemberitahuan sebelumnya. Warga menilai gangguan tersebut mengganggu aktivitas pekerjaan hingga usaha yang bergantung pada pasokan listrik PLN.
Menurut warga, pemadaman berlangsung sekitar dua hingga tiga jam setiap kali terjadi. Keluhan ini muncul setelah listrik padam tidak hanya di satu titik, tetapi berpindah antarwilayah.
Perpindahan area padam dan dampak ke pedagang
Salah seorang pedagang soto Lamongan di Pasar Legi, Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Ali (35), mengatakan pemadaman listrik bergilir terjadi sejak Rabu (17/6/2026). Ali menjelaskan pola pemadaman yang ia rasakan bergeser dari satu area ke area lain.
“Kayaknya per wilayah (pemadaman listrik). Kemarin kan selatan Pasar Legi situ, terus ini Pasar Legi ke utara sampai lampu merah itu,” ujar Ali saat ditemui Kompas.com di warung tenda soto Lamongan miliknya di Pasar Legi, Kamis (18/6/2026).
Ali menuturkan pemadaman juga terjadi pada hari ini, Kamis (18/6/2026), sekitar pukul 16.30 WIB. Ia mengaku kesulitan menjalankan dagangannya karena aktivitas pembeli menurun saat listrik padam.
“Nek (kalau) mati lampu kayak gini , waduh nasibe gimana terusan ? Pengaruh banget . Terus nasibe penjual kayak gini ki piye (ini gimana)?. Kalau misalkan ada pengumuman jam 5 sampai jam 10 atau jam berapa, ya kita mending libur. Nek kayak gini kan juga enggak bisa apa-apa,” ujar Ali menjelaskan kondisi yang tengah dialaminya.
Warung tenda soto miliknya sudah buka sejak pukul 16.00 WIB. Ali menyebut sejak sore hingga malam hari ketika listrik masih padam, ia hanya mendapatkan segelintir pembeli.
“Tadi sore sudah (ada yang beli). Sore sebelum peteng (gelap) kayak gini . Nek peteng ( kalau gelap) kayak gini kan juga enggak ada yang masuk. Paling juga langganan-langganan. Lha lihatnya piye ( melihatnya gimana)? Kan enggak kayak jualan kan?” kata Ali.
Ali menegaskan bahwa pada saat suasana gelap akibat pemadaman, minat pembeli untuk datang berkurang. Ia menilai kondisi itu membuat penjualan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Keluhan karena tidak ada pemberitahuan
Ali juga menyampaikan bahwa ia tidak mendapat pemberitahuan sebelum pemadaman listrik terjadi. Ia mengatakan ketidaktahuan tersebut membuatnya tidak memiliki persiapan apa pun ketika listrik padam.
“Ya kalau ada pemadaman listrik atau yang lain, tolonglah dikasih tahu dulu. Ada pengumuman, sekarang kan banyak grup-grup kayak ICS (nama akun media sosial). itu kan banyak. Jadi kita tahu, kan? Nek ndadak (kalau mendadak) kayak gini ya apa boleh buat, sudah terlanjur buka lapak. Ndak ada lilin,” ujar Ali.
Dalam penuturannya, Ali mengaitkan kebutuhan informasi dari jauh hari agar pedagang dapat mengatur rencana, termasuk menentukan apakah harus tetap membuka lapak atau menyiapkan penerangan cadangan. Ia menyebut tanpa informasi, pedagang telanjur beroperasi saat pemadaman terjadi.
Ali berencana melakukan antisipasi jika pemadaman listrik kembali terjadi pada hari berikutnya. Namun saat ini, ia masih mengandalkan senter dari ponsel yang dimilikinya untuk membantu aktivitas melayani pembeli.
“Ini nanti kalau ada yang beli ya disenteri pakai HP (handphone). (Kalau besok mati listrik) tetap buka tapi ya terpaksa kita harus cari lilin. Gitu aja opsinya,” pungkasnya.
Keluhan senada dari pedagang lain
Keluhan serupa juga diungkapkan oleh Retno (40), salah seorang pedagang nasi goreng di depan Kantor Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Retno menyampaikan keberatan atas pemadaman listrik bergilir yang terjadi selama beberapa hari terakhir dan berdampak pada aktivitas berdagang di lokasi usahanya.












