jurnalistik.co.id – Saat undian Piala Dunia 2026 ditetapkan pada bulan Desember untuk penampilan pertama Skotlandia di turnamen putra, perhatian langsung tertuju ke Brazil di Miami. Bagi Steve Clarke dan para pemainnya, perjalanan menuju laga-laga akhir fase grup terasa seperti rangkaian ujian yang harus dilalui—dan kini, momentum itu singgah lebih dulu di Boston.
Di Boston Stadium, “Boston bounce” seolah menjawab keraguan dengan satu kalimat: “hold my beer”, jika masih ada yang tersisa. Tartan Army berangkat dari Boston dengan berat hati, tetapi membawa satu paket besar harapan—karena peluang untuk keluar dari Grup C masih berada dalam jangkauan tim Clarke.
Skotlandia sendiri menempati posisi ketiga Grup C. Mereka sudah mengalahkan Haiti dan kalah dari Maroko, dengan keduanya berakhir 1-0. Kekalahan dari Maroko tidak mematikan harapan babak gugur; harapan itu tetap hidup, meski banyak yang menoleh ke momen-momen yang terasa bisa berjalan berbeda.
Dalam sorotan yang mengiringi kekalahan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak mengecilkan luka: “Should Scotland have had two penalties & been playing against 10 men?” Pertanyaan itu menggambarkan betapa ketatnya persaingan yang sedang Skotlandia hadapi di fase grup—tanpa menambah klaim baru, hanya menyoroti peluang yang mungkin saja ada.
Bagi satu generasi, ini adalah Piala Dunia pertama yang benar-benar mereka jalani. “Born Slippy” dari Underworld—lagu yang sangat melekat pada kelompok milenial dan Gen Z—bergema lebih dulu di jalan-jalan Boston. Suasana terasa begitu intens sampai bulu kuduk berdiri dan mata pedih oleh sorak-sorai, sementara warga setempat menatap sekaligus merekam para pendatang yang datang dengan penuh keyakinan.
Di antara aneka detail yang kemudian jadi bahan cerita, nama John McGinn ikut menguat sebagai simbol dari “tidak ada Skotlandia, tidak ada pesta”. Bahkan “washing-up liquid” disebut sebagai salah satu barang yang dianggap penting dalam perjalanan seperti ini. Di kota yang identik dengan keberhasilan tim-tim besar lain—Boston Red Sox, Boston Celtics, Bruins, dan New England Patriots—sepak bola ternyata baru belakangan benar-benar menjadi pusat perhatian.
Permainan itu terlihat pula di ruang publik: muncul papan iklan yang menyinggung kemungkinan memiliki klub profesional asal Skotlandia. Orang-orang di Boston tampak menuruti logika pergaulan yang cepat akrab—termasuk lelucon soal kaus berwarna “pink”, yang disebut sebagai “salmon, lads”. Di sisi lain Atlantik, hubungan timbal balik itu juga terasa: Skotlandia dan Boston saling jatuh hati, meski perpisahan untuk sementara tidak akan mudah.
Kepergian Tartan Army dari Boston membawa konsekuensi yang nyata: saltires tidak lagi bergantung di hotel atau muncul di jendela mobil, dan nama McGinn tidak lagi membekas dalam obrolan malam. Di Fenway Park, tidak lagi ada kerumunan yang memadati malam-malam tertentu; dan ketika Boston Common bukan lagi titik temu, muncul pertanyaan yang sederhana namun jujur—“What do we do without baseball now?”
Jawabannya kemudian diarahkan ke arah Miami. Ada malam yang menunggu di “Magic City” itu—bahkan dengan gambaran Marlins yang menjadi penanda suasana sepak bola kota tersebut. Untuk membuat harapan menjadi kenyataan, diperlukan sesuatu yang “enchanting” di sana agar Skotlandia bisa mengunci tujuan yang mereka bawa dari awal petualangan.
Menjaga posisi, memikirkan akhir grup
Sejauh ini, skenario yang dihadapi Skotlandia dinilai masih selaras dengan apa yang paling diharapkan banyak pendukung yang bepergian. Mungkin saja sebagian berharap lebih banyak gol saat menghadapi Haiti, tetapi menunggu kemenangan selama 36 tahun di panggung terbesar membuat hasil sebesar apa pun terasa seperti sesuatu yang layak disyukuri.
Setelah berhenti singkat kembali ke basis di Charlotte, North Carolina, untuk Clarke dan rombongannya, Skotlandia akan kembali ke Florida. Perjalanan yang dimulai tiga minggu lalu diadopsi kembali dengan ritme yang sama: Fort Lauderdale menjadi tempat perkemahan latihan prapertandingan, sehingga panas dan kelembapan yang akan menyambut saat pesawat mendarat tidak akan terasa sepenuhnya asing.
Laga penentu itu datang pada hari Rabu: Skotlandia harus mendapatkan hasil positif melawan Brazil, yang sebelumnya tidak pernah mereka kalahkan dalam 10 pertemuan. Di atas kertas, itu berarti tantangan besar; di lapangan, itu juga berarti ada momen yang harus dipenuhi dengan keberanian.
Brazil sendiri, melalui Carlo Ancelotti, terlihat melaju dengan percaya diri. Pada hari Sabtu, “Carlo Ancelotti’s side” menuntaskan Haiti dan sekaligus melompati Skotlandia di Grup C. Dalam situasi seperti ini, tidak semua orang di Boston masih larut dalam kemungkinan-kemungkinan yang tidak segera memberikan jawaban.
Meskipun demikian, tetap ada ruang untuk membayangkan skenario lanjutan. Tidak ada yang terlalu tenggelam oleh “possible permutations”, tetapi ada kesempatan Skotlandia akhirnya kembali ke Boston pada akhir bulan, kali ini menghadapi Jerman—sebuah kemungkinan yang membuat jantung para pendukung berdebar lebih lama.
Dalam ingatan, Tartan Army juga pernah menyita perhatian besar saat Euro 2024. Dua tahun lalu, Cologne dianggap tak akan mudah dilampaui. Namun Boston membuktikan punya caranya sendiri—dan sekarang, napas itu ditahan, sekaligus menunggu: dalam beberapa hari, “friends from across the pond” diharapkan tumpah ruah kembali.
Di akhir perjalanan dari Boston, satu kalimat kembali jadi penutup suasana: “No Scotland, no party… We won the 50/50!” Kalimat itu tidak menambah fakta baru, tetapi menegaskan satu hal yang selalu menjadi bahan utama perjalanan Skotlandia—harapan yang tetap berjalan, tanpa rasa takut, sampai Miami benar-benar mengunci jadwalnya.












