jurnalistik.co.id – Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) menilai ada tanda perlambatan pada perdagangan barang global. Meski begitu, perdagangan barang dunia masih menunjukkan daya tahan pada paruh pertama 2026.
Penilaian itu muncul di tengah gangguan luas akibat konflik Timur Tengah. WTO menyebut dampak negatif konflik tersebut sebagian tertahan oleh lonjakan permintaan komponen elektronik.
Lonjakan permintaan komponen elektronik itu terkait dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dengan kata lain, kebutuhan di sektor teknologi membantu menjaga pergerakan perdagangan barang agar tidak melemah terlalu cepat.
Temuan tersebut disampaikan dalam laporan Barometer Perdagangan Barang WTO yang dirilis pada Jumat (5/6/2026). Barometer ini digunakan untuk membaca arah perdagangan dalam dua sampai tiga bulan ke depan.
WTO menjelaskan bahwa nilai indeks di atas 100 menunjukkan perdagangan tumbuh lebih cepat dari tren normal. Nilai tersebut juga menggambarkan peluang perdagangan menguat dalam waktu dekat.
Sebaliknya, jika nilai indeks berada di bawah 100, maka perdagangan dinilai tumbuh lebih lemah dari tren normal. Kondisi seperti ini juga mengindikasikan potensi pelemahan pada periode berikutnya.
Dalam laporan tersebut, indeks barometer WTO turun dari 102,3 pada Januari menjadi 101,7. WTO menilai penurunan ini menunjukkan pertumbuhan perdagangan barang mulai kehilangan momentum.
Meski terjadi penurunan, WTO menegaskan posisi indeks masih berada di atas level dasar 100. Artinya, volume perdagangan barang global masih bergerak di atas tren yang menjadi acuan.
Pada Maret 2026, WTO memperkirakan pertumbuhan perdagangan barang dunia akan melambat menjadi 1,9 persen pada 2026. Perkiraan ini menempatkan pertumbuhan tahun berjalan lebih rendah dibanding kinerja pada 2025 yang tercatat tumbuh 4,6 persen.
WTO juga memperingatkan bahwa perlambatan dapat berlangsung lebih dalam bila perang Timur Tengah terus mendorong harga energi naik. Tekanan pada biaya energi, menurut WTO, dapat mengganggu transportasi global dan pada akhirnya menekan perdagangan barang.
Dengan demikian, laporan Barometer Perdagangan Barang WTO menggambarkan dinamika yang tetap bergulir, meski tidak lagi secepat pada fase sebelumnya. Di satu sisi, indeks yang turun menandai hilangnya sebagian momentum, tetapi di sisi lain, angka yang masih berada di atas 100 menunjukkan perdagangan global belum sepenuhnya keluar dari jalur tren.
Di tengah risiko yang berasal dari konflik Timur Tengah, lonjakan permintaan komponen elektronik terkait AI menjadi faktor penahan. WTO menempatkan perkembangan permintaan tersebut sebagai salah satu elemen yang membantu menjaga daya tahan perdagangan barang selama paruh pertama 2026.
Barometer Perdagangan Barang WTO pada dasarnya berfungsi sebagai penanda arah jangka pendek. Karena dibaca untuk melihat kondisi dua sampai tiga bulan ke depan, pergerakan indeks menjadi sinyal awal apakah perdagangan barang akan kembali menguat atau justru semakin melemah dibanding pola normalnya.
Dalam konteks penurunan indeks, WTO menekankan bahwa perubahan dari 102,3 pada Januari menuju 101,7 menunjukkan adanya pergeseran dari fase pertumbuhan yang lebih kencang. Meski demikian, posisi indeks yang masih bertahan di atas angka dasar 100 memberi ruang bahwa perdagangan tetap tumbuh relatif lebih baik daripada tren acuannya.
WTO juga mengaitkan perlambatan dengan rangkaian risiko yang saling berkelindan. Ketika konflik Timur Tengah memengaruhi harga energi, konsekuensinya dapat merembet ke biaya transportasi dan proses distribusi, sehingga pada akhirnya menekan aktivitas perdagangan barang secara lebih luas.
Sementara itu, permintaan komponen elektronik yang didorong kebutuhan teknologi—termasuk perkembangan AI—memberi penopang di tengah tekanan tersebut. Artinya, meski momentum mulai berkurang, ada elemen permintaan yang membantu menahan penurunan agar perdagangan tidak melambat secara drastis pada paruh pertama 2026.












