jurnalistik.co.id – Di Rorotan, Jakarta Utara, warga setiap hari berhadapan dengan debu dari aktivitas logistik yang padat. Deretan truk kontainer yang berlalu lalang membuat kepulan asap kendaraan dan partikel debu mudah beterbangan di jalan.
Di gang kecil Jalan Malaka 1, debu yang menempel di permukaan ruas jalan dinilai cukup tebal hingga sebagian warga memilih memakai masker. Sebagian lainnya menutup rapat area wajah dengan kaca helm atau kacamata agar debu tidak masuk dan menempel.
Debu tersebut tidak hanya berasal dari asap kendaraan yang melintas. Warga juga menyebut sumbernya datang dari depo-depo kontainer yang berada di tengah pemukiman mereka.
Belum semua depo kontainer memiliki lantai yang sudah diaspal atau dicor dengan semen. Ada beberapa bagian yang masih berupa tanah merah, yang kerap mengotori jalanan sebelum akhirnya berubah menjadi debu saat musim panas dan terkena angin kencang.
Dari ruang sempit, ada alternatif bernapas
Di balik kepungan debu dan polusi yang terasa harian, muncul ruang hijau yang selama ini berada di dalam gang tersebut. Warga kemudian menemukan Hutan Kota Rorotan, yang berperan sebagai tempat bernapas bagi masyarakat sekitar.
Hutan Kota Rorotan memiliki luas sekitar dua hektar. Di area tersebut tumbuh beragam jenis pohon, mulai dari bintaro, ketapang, pidada, bakau, hingga api-api.
Pepohonan itu kemudian dilengkapi dengan sejumlah fasilitas yang membuat area hijau lebih mudah diakses warga. Di lokasi terdapat pos sekuriti, tiga area sosial, playground mini untuk anak-anak, dua unit toilet, serta jogging track berpaving block yang membelah hutan.
Terbangun sejak 2014, viral belakangan
Berita Terkait
Meski hutan kota sudah dibangun sejak tahun 2014, keberadaannya tidak langsung diketahui banyak orang. Posisi yang berada di dalam gang membuat taman hijau tersebut sering tidak terlihat karena tertutup oleh permukiman di sekitarnya.
Dalam beberapa minggu terakhir, Hutan Kota Rorotan justru mulai ramai dibicarakan setelah menjadi viral di media sosial Instagram. Setelah viral, kunjungan datang dari berbagai daerah karena banyak orang penasaran dengan suasana yang disebut lebih asri dan sejuk.
Salah satu pengunjung adalah warga Semper Barat, Yola, yang ditemui di lokasi pada Senin (13/7/2026). Ia sengaja menempuh waktu perjalanan sekitar satu jam dari rumah karena penasaran dengan hutan di dalam gang kecil tersebut.
“Baru pertama sih. Aku lihatnya juga dari media sosial kayaknya bagus, asri banget tempatnya, adem gitu kan. Baguslah kalau buat anak-anak gitu kan, udaranya sehat gitu kan,” ucap dia ketika ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (13/7/2026).
Dari cara warga memandang ruang hijau itu, terlihat bahwa hutan kota bukan sekadar tempat rekreasi. Bagi masyarakat Rorotan, keberadaan pepohonan dan fasilitas pendukung menjadi upaya nyata untuk menghadirkan kualitas udara yang lebih baik di tengah paparan debu dan asap dari aktivitas kontainer.
Viralnya Hutan Kota Rorotan memberi sorotan baru pada persoalan polusi yang selama ini berlangsung di lingkungan padat. Di saat yang sama, perhatian publik juga mengarah pada ruang hijau yang, meski tersembunyi, telah lebih dulu hadir untuk warga setempat sejak 2014.
Di gang yang setiap hari dipenuhi debu dari aktivitas logistik, Hutan Kota Rorotan menghadirkan perubahan suasana yang langsung terasa saat orang masuk ke area hijau. Pepohonan yang tumbuh di dalam gang membuat ruang itu tidak hanya menjadi pemandangan, tetapi juga tempat warga menepi sejenak dari paparan asap dan partikel yang menempel di jalan.
Ruang hijau itu ditumbuhi beragam jenis pohon, mulai dari bintaro, ketapang, pidada, bakau, hingga api-api. Lingkungan yang lebih teduh juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti pos sekuriti, beberapa area sosial, playground mini untuk anak-anak, dua unit toilet, serta jogging track berpaving block yang memudahkan pengunjung bergerak di dalam kawasan.
Ketika kabar viral menyebar di media sosial, kunjungan pun berdatangan dari berbagai daerah dengan tujuan yang sama: mencari suasana yang disebut lebih asri dan sejuk. Yola dari Semper Barat yang sengaja datang dan menempuh perjalanan sekitar satu jam menunjukkan bahwa ketertarikan tidak berhenti pada sekali lihat, melainkan karena ia menilai tempat tersebut relevan untuk aktivitas keluarga dan kebutuhan anak.












