jurnalistik.co.id – Di tengah anggapan bahwa generasi muda cenderung menjauh dari aktivitas yang identik dengan bau dan kotor, Aisyah (17) justru menunjukkan hal sebaliknya. Gen Z asal Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu bersama teman-temannya sukarela turun tangan menjadi panitia kurban saat Idul Adha.
Sebagai bagian dari Ikatan Remaja Masjid (Irmas), Aisyah mengaku dorongan untuk ikut terlibat dalam panitia kurban sudah tumbuh dari tahun ke tahun. Ia bukan hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi benar-benar mengambil peran dalam rangkaian kerja yang dibutuhkan pada momen kurban di desanya.
“Enggak, enggak jijik. Teman-teman yang lain juga sama ikut. Kalau saya ikut jadi panitia kurban dari 2024,” kata Aisyah, yang kini duduk di bangku kelas 1 SMA, saat ditemui di halaman Masjid Al Ikhlas Desa Sukaurip, Rabu (27/5/2026).
Pada kegiatan itu, Aisyah mendapat tugas membungkus daging kurban yang telah dipotong-potong ke dalam kantong plastik. Ia menjalankan tugas tersebut tanpa canggung. Jemarinya tampak bergerak cepat saat memasukkan potongan demi potongan daging ke dalam kantong plastik, menunjukkan bahwa pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari tugas yang ia jalani dengan serius.
Menariknya, Aisyah tidak berdiri sendiri. Di sampingnya, berjejer kelompok ibu-ibu desa yang memiliki tugas serupa. Situasi itu menghadirkan suasana gotong royong lintas generasi yang terasa hangat di tengah momentum Iduladha. Anak muda dan warga yang lebih tua terlihat bekerja dalam ritme yang sama, masing-masing dengan peran yang sudah dibagi.
Bagi Aisyah, keterlibatannya sebagai panitia kurban merupakan bentuk nyata dukungan anak muda terhadap kegiatan positif di desanya. Ia juga bersyukur karena ruang bagi anak muda di Desa Sukaurip selalu terbuka lebar, sebab mereka memang dilibatkan dalam berbagai kegiatan di lingkungan setempat.
“Kalau enggak kita anak muda yang ikut terlibat siapa lagi,” kata Aisyah.
Di lokasi yang sama, anak muda lainnya juga tampak sibuk menjalankan tugas masing-masing. Ada yang bertugas memotong daging, membungkus, mendistribusikan, hingga menjadi tim dokumentasi kegiatan. Seluruh pekerjaan itu berjalan beriringan, memperlihatkan bahwa proses kurban bukan hanya soal penyembelihan, melainkan juga soal kerja kolektif yang membutuhkan banyak tangan.
Dalam kegiatan tersebut, Aisyah menjadi salah satu contoh bagaimana anak muda bisa ikut ambil bagian tanpa merasa terpaksa. Di tengah pekerjaan yang sering dianggap berat atau tidak menyenangkan, ia justru memilih hadir dan membantu. Bagi dirinya, keterlibatan itu bukan hal yang aneh, melainkan bagian dari kebiasaan yang sudah ia jalani bersama teman-teman sebayanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kurban Masjid Al Ikhlas Desa Sukaurip, Nur Haedin, menyampaikan bahwa panitia yang dilibatkan berjumlah ratusan orang, termasuk anak muda. Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa peran generasi muda tidak diletakkan di pinggir, melainkan masuk langsung ke dalam kerja-kerja utama selama perayaan kurban berlangsung.
Di halaman masjid, pemandangan tersebut memberi gambaran sederhana tentang bagaimana tradisi kurban dijalankan di Desa Sukaurip. Anak muda, ibu-ibu, dan warga lain bergerak dalam satu kegiatan yang sama, saling melengkapi tugas masing-masing. Dalam suasana seperti itu, ucapan Aisyah terdengar jelas sebagai sikap yang ia pegang sendiri: ia tidak jijik, tidak canggung, dan tidak ragu untuk ikut bekerja bersama warga lain.
Situasi itu juga menegaskan bahwa kurban di Desa Sukaurip bukan sekadar agenda tahunan yang selesai dalam hitungan jam, melainkan ruang belajar bersama bagi warga. Di sana, para remaja mendapat kesempatan untuk bekerja, berbaur, dan memahami bahwa kebersamaan justru menjadi kekuatan utama saat banyak pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu singkat.
Dengan terlibat langsung, Aisyah dan teman-temannya menunjukkan bahwa anak muda bisa hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian penting dari jalannya tradisi. Dari pekerjaan sederhana seperti membungkus daging hingga membantu kelancaran distribusi, kehadiran mereka membuat suasana kurban terasa lebih hidup dan lebih tertata.












