Daerah

AKP Dr. Iswan Brandes Menjadi Pelayan Jemaah di Terminal Syib Amir

2
×

AKP Dr. Iswan Brandes Menjadi Pelayan Jemaah di Terminal Syib Amir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BERPANGKAT AKP DAN BERGELAR DOKTOR, PRIA INI MEMILIH MENJEMPUT KEBERKAHAN DI TENGAH ASPAL PANAS

jurnalistik.co.id – Di Terminal Syib Amir, Makkah, sosok berseragam petugas haji itu tampak sibuk memandu jemaah yang baru turun dari bus shalawat. Di tengah suhu udara yang menyentuh 40 derajat Celsius, ia bergerak cepat, menggandeng jemaah lansia, memastikan mereka aman, dan membantu arus perjalanan tetap tertib di salah satu titik layanan yang paling padat di Tanah Suci.

Pria tersebut adalah AKP Dr. Iswan Brandes, personel Organik Biro SDM Polda Gorontalo. Di balik pangkat Ajun Komisaris Polisi, gelar doktor, serta 14 gelar akademik dan profesi yang dimilikinya, ia memilih menjalankan tugas pelayanan langsung kepada jemaah haji. Ia juga dikenal sebagai dosen pascasarjana, namun seluruh atribut itu seakan diletakkan jauh-jauh ketika ia bertugas di terminal.

Bagi Brandes, penugasan di terminal bukan sekadar urusan administrasi atau pengawasan biasa. Di lokasi itulah ia merasa bisa menyaksikan langsung perjuangan para jemaah Indonesia yang datang silih berganti. Karena itu, meski situasinya panas dan melelahkan, ia justru menyebut terminal sebagai tempat yang paling membuatnya nyaman saat mengemban amanah di musim haji.

“Dari beberapa kali penugasan saya, justru saya paling nyaman di terminal,” ungkap Brandes saat diwawancarai oleh tim Media Center Haji di Makkah.

Musim haji tahun ini menjadi tahun kedua dirinya dipercaya menjalankan tugas di Tanah Suci. Sebelumnya, ia sukses memimpin Pos Terminal Ajyad pada tahun lalu. Kini, ia kembali memegang tanggung jawab penting di Terminal Syib Amir, lokasi yang menjadi salah satu simpul mobilitas jemaah Indonesia setelah menjalankan ibadah di Masjidil Haram.

Jarak terminal itu dari Ka’bah hanya sekitar 850 meter. Namun, kedekatan secara geografis itu tidak membuat tugas menjadi ringan. Brandes dan timnya justru jarang memiliki waktu untuk beribadah di dalam Masjidil Haram karena sebagian besar waktu habis untuk mengatur transportasi, mengurai kepadatan, dan menangani perubahan jadwal operasional bus yang kerap terjadi di lapangan.

Di antara tugas yang paling sering dilakukan adalah membantu jemaah yang kelelahan, termasuk menggendong jemaah lansia yang membutuhkan pertolongan. Mereka juga harus memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal, tersesat, atau telantar di tengah padatnya pergerakan di terminal. Dalam kondisi seperti itu, ketepatan langkah dan ketenangan menjadi bagian penting dari pelayanan.

Brandes menyebut dirinya dan tim bahkan kerap makan, bekerja, hingga tidur di terminal demi memastikan seluruh layanan berjalan dengan baik. Rutinitas tersebut menggambarkan betapa besar beban kerja yang mereka pikul, sekaligus memperlihatkan dedikasi yang tidak berhenti hanya karena cuaca ekstrem atau padatnya arus jemaah.

Didikan dan amanah di Tanah Suci

Keteguhan AKP Dr. Iswan Brandes dalam menjalani tugas ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh sebagai anak dari seorang ayah yang mualaf. Dari lingkungan keluarga itulah ia sejak kecil dididik untuk giat belajar agama dan mengutamakan pengabdian kepada sesama. Nilai-nilai itu kemudian membentuk karakter yang melekat pada dirinya hingga kini.

Karena dedikasi dan kapasitas yang dimilikinya, Kementerian Agama RI mempercayakan Brandes sebagai instruktur dan pelatih bagi para calon Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Amanah itu menegaskan bahwa pengalamannya di lapangan bukan hanya berguna saat bertugas, tetapi juga dalam membekali petugas lain yang akan bekerja melayani jemaah.

Dalam pelaksanaan tugas di terminal, Brandes menerapkan strategi komunikasi satu pintu dan mitigasi risiko yang matang. Pendekatan itu dibutuhkan untuk mengatasi kendala logistik maupun hambatan fisik yang sering muncul di tengah pergerakan ribuan jemaah. Ketika bus datang bergantian setelah salat berjamaah, kesabaran dan ketegasan manajerial menjadi kunci agar arus layanan tetap lancar.

Terminal Syib Amir sendiri melayani ribuan jemaah Indonesia yang terus datang dan pergi dalam waktu berdekatan. Situasi itu membuat koordinasi harus berjalan cepat, rapi, dan tanpa banyak ruang untuk kesalahan. Di tengah kondisi tersebut, peran Brandes dan timnya menjadi bagian penting dari upaya menjaga kenyamanan para tamu Allah selama berada di Makkah.

Kisah AKP Dr. Iswan Brandes memperlihatkan bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam ruang kerja yang nyaman. Di bawah terik matahari, di antara padatnya terminal, dan di tengah lelah yang menumpuk, ia memilih hadir untuk melayani. Dari sana, ia menunaikan tugas sebagai polisi, pendidik, dan pelayan jemaah dalam satu waktu.