Bisnis & Ekonomi

Saat Ekonomi Lemah, Bengkel Las Iwan Tetap Bertahan dari Sisa-sisa Pesanan

×

Saat Ekonomi Lemah, Bengkel Las Iwan Tetap Bertahan dari Sisa-sisa Pesanan

Sebarkan artikel ini
Di Tengah Lesunya Ekonomi, Bengkel Las Iwan Bertahan dari Sisa-sisa Pesanan Regional 22 Juni 2026
Ilustrasi: Di Tengah Lesunya Ekonomi, Bengkel Las Iwan Bertahan dari Sisa-sisa Pesanan

jurnalistik.co.id – Di sebuah bengkel las sederhana di Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, suara mesin pemotong besi dan percikan api las masih terdengar di antara deru aktivitas siang, Senin (22/6/2026). Di tempat itu, Iwan Irawan, pemilik bengkel las, tetap berdiri mengerjakan pesanan pelanggan.

Saat ditemui di bengkelnya, Iwan terlihat mengarahkan besi yang akan dirangkai menjadi pagar rumah, teralis jendela, hingga gerobak pedagang kaki lima. Kesibukan di dalam bengkel berlangsung teratur, tetapi perubahan yang ia rasakan datang dari sisi luar usaha, yakni sepinya pekerjaan.

Pesanan mulai berkurang

Dalam beberapa waktu terakhir, Iwan merasakan perubahan yang cukup tajam pada usahanya. Pesanan pelanggan yang sebelumnya datang hampir setiap hari kini mulai berkurang, hingga ada hari-hari tertentu yang tidak terisi.

“Sekarang sepi, Pak. Biasanya ramai, ini kadang kosong. Daya beli masyarakat juga turun,” ujar Iwan saat ditemui di bengkelnya. Menurutnya, pelemahan daya beli membuat banyak pelanggan menunda pekerjaan yang sebelumnya menjadi kebutuhan rutin.

Ketika pembeli menahan pengeluaran, jenis pekerjaan seperti pembuatan pagar atau teralis ikut terkena dampaknya. Iwan menuturkan kondisi ini membuat alur kerja di bengkel tidak lagi seaktif seperti sebelumnya.

Harga bahan baku ikut menekan

Selain pesanan yang menurun, Iwan juga menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku seperti cat dan tiner menjadi beban tersendiri bagi aktivitas bengkel las.

“Yang terasa itu tiner sama cat. Naiknya lumayan, sekitar Rp 15 ribu sampai lebih. Tiner juga dari Rp 106 ribu jadi sekitar Rp 150 ribu per galon,” katanya. Dengan lonjakan biaya pada komponen tersebut, ruang keuntungan Iwan semakin menipis.

Ia harus tetap menjalankan proses pengerjaan, sementara biaya untuk bahan pendukung meningkat. Dalam kondisi seperti itu, setiap perubahan kecil dalam harga bahan dapat terasa langsung pada perputaran usaha.

Tetap bertahan tanpa menaikkan harga jasa

Di tengah persaingan yang makin ketat, Iwan memilih untuk tidak gegabah menaikkan harga jasa. Baginya, keputusan menaikkan tarif berisiko mengurangi pelanggan, apalagi saat daya beli masyarakat dinilai sedang melemah.

“Kalau naikin harga, kita takut pelanggan lari. Sekarang tukang las juga banyak, jadi harus hati-hati,” ucapnya. Pernyataan itu menunjukkan kehati-hatian Iwan dalam menjaga kesinambungan pesanan tanpa mengorbankan hubungan dengan pelanggan yang selama ini datang.

Dari bengkel yang tetap menyala di Desa Karang Anyar, Iwan memadukan aktivitas harian yang tidak pernah berhenti dengan penyesuaian menghadapi kondisi ekonomi. Ia terus bekerja dengan peralatan yang sudah mulai tampak usang, sambil menunggu pekerjaan datang lagi seperti masa-masa ketika bengkel lebih ramai.

Meski situasi yang ia hadapi berupa sepinya pesanan dan naiknya harga bahan baku, Iwan tetap berdiri di tempat yang sama dan menjalankan pekerjaannya. Di antara pagar, teralis, dan gerobak pesanan, upaya bertahan itu tampak pada pilihan untuk tidak menaikkan harga jasa, seperti yang disampaikannya sendiri.

Dengan situasi tersebut, keberlangsungan bengkel las Iwan pada akhirnya bertumpu pada dua hal yang saling berhubungan: perubahan pola belanja pelanggan dan kemampuan usaha menanggung biaya produksi. Selama dua faktor itu belum membaik, ia tetap menjalankan pekerjaan yang ada, sambil berupaya agar usaha yang ia kelola terus bisa bertahan dari sisa-sisa pesanan.

Di bengkel yang sama, Iwan mengaku perubahan itu membuat ritme kerja turut berubah. Saat jadwal pengerjaan sebelumnya lebih padat, kini ia harus menyesuaikan tempo agar pesanan yang masuk tetap bisa ditangani sampai selesai tanpa mengabaikan kualitas.

Ia juga berupaya menjaga kelangsungan usahanya dengan menimbang kondisi pelanggan dan situasi biaya produksi. Ketika daya beli dinilai menurun dan harga bahan baku seperti cat serta tiner ikut naik, keputusan untuk menahan tarif jasa menjadi pilihan yang ia anggap paling realistis agar pelanggan tidak semakin sulit dijangkau.